Judul: City Of God
Tahun Rilis: 2002
Sutradara: Fernando Meirelles, Kátia Lund
Rumah Produksi: VideoFilmes
Durasi: 2 jam 10 menit
Sumber Adaptasi: Buku City Of God karya Paulo Lins
Genre: Drama, Triller, Kriminalitas
Kota Tuhan, apa yang akan terbayangkan jika mendengar nama tersebut? Bolehkah manusia hidup di Kota Tuhan? City of God akan mengajak penonton untuk menyelami kehidupan manusia di Kota Tuhan. Di kota ini, manusia hidup tanpa norma maupun agama. Manusia adalah pemegang kekuasaan tertinggi, mereka hidup dengan berpedoman "dia yang terkuat, dia yang memimpin, dia yang mengambil keputusan", termasuk keputusan terkait hidup dan mati seseorang.
Di Kota Tuhan, kematian tragis seolah bukan hal yang patut diributkan. Kekerasan, tembakan, penjarahan, dan peredaran barang-barang haram, tidak lagi harus diadili. Semua orang di Kota Tuhan terbiasa dengan adanya korban, baik harta maupun jiwa. Kejadian ini diambil berdasarkan kejadian nyata di Kota Favela Rio de Janeiro, pada akhir tahun 1960-an.
Li'l Ze, tokoh karismatik yang keberadaannya dapat membuat penikmat film ini menggelengkan kepala, merupakan sosok bengis yang terobsesi menjadi manusia terkuat di Kota Tuhan. Li'l Ze kecil bercita-cita menjadi lebih hebat dibandingkan The Tender Trio, pendahulunya. Sejak kecil ia telah banyak mempelajari bahwa kekuasaan merupakan hal utama yang harus dia punya ketika dewasa. Terlebih, hidup di Kota Tuhan telah memberikan pelajaran berharga pada Li'l Ze bahwa kekuasaan bisa didapatkan dari manapun, termasuk melalui jalan terburuk dengan membunuh banyak orang.
Selain kekerasan, kekuasaan bisa didapatkan ketika kita memiliki uang. Ada banyak cara yang dilakukan oleh Li'l Ze guna memperkaya diri, penghasilan terbesar yang ia dapatkan adalah melalui bisnis peredaran narkoba. Di Kota Tuhan, narkoba seakan menjadi santapan nikmat pelepas penat. Tak hanya orang tua, bocah remaja hingga anak-anak seakan tak dapat lepas dari barang haram tersebut. Film ini memberikan gambaran siklus setan tak berkesudahan di Kota Tuhan.
Li'l Ze kecil telah belajar dari kakaknya, anggota The Tender Trio, kumpulan pemuda cabul yang banyak melakukan penjarahan. Li'l Ze tumbuh dewasa dengan dorongan untuk menjadi lebih hebat dari kakaknya, lebih sukses, lebih kaya, dan lebih bengis tentunya. Perang tanpa akhir di Kota Tuhan telah memaksa bocah-bocah kecil untuk terbiasa mengedarkan narkoba, terbiasa menggunakan senjata, dan hidup dalam prinsip membunuh atau dibunuh.
Film apik ini seolah mengajarkan pada penonton bahwa kejahatan yang terstruktur dan tak berkesudahan di Kota Tuhan diakibatkan oleh kegagalan pola asuh di masa kanak-kanak. Masa kanak-kanak merupakan masa keemasan karena kemampuan mereka dibentuk dari kepekaan dalam meniru orang dewasa, setidaknya 60 sampai 70 persen anak-anak belajar dari meniru tindakan orang di sekitarnya. Artinya, dibandingkan belajar dari bangku sekolah dengan mendengarkan arahan guru, anak-anak akan lebih memperhatikan apa yang dicontohkan oleh orang dewasa melalui tindakan.
Kegagalan tersebut yang kemudian menimbulkan kemiskinan dan kebodohan. Membunuh akan menjadi peristiwa sehari-hari, bahkan polisi tak berhasil menjalankan tugasnya di kota ini. Entah karena sudah lelah atau malah merasa takut dengan preman-premannya. Kota ini benar-benar menggambarkan hilangnya sosok Tuhan namun berebut pengakuan diri sendiri adalah sosok Tuhan. Dengan cara saling membunuh untuk menunjukkan mana yang paling tangguh dan berkuasa.
Film ini tidak akan begitu menghanyutkan pembaca jika tidak disertai oleh akting terbaik para pemainnya. Sebagai contoh, sosok Li'l Ze yang diperankan oleh Leandro Firmino dalam film ini benar-benar menggambarkan sosok psikopat bengis nan kejam yang seolah tak memiliki perasaan. Liandro Firmino seolah bukan sedang berakting dalam film ini, melainkan memang memiliki sikap bengis di kehidupan yang asli? Yah akting para pemain film God of City, khususnya pemeran Li'l Ze patut diberi apresiasi.
Selain akting yang epik dari para pemain, sinematografi film ini juga luar biasa. Dibuktikan dengan adanya gambaran jelas dan detail pada kekerasan yang dialami setiap pemain. Sehingga tak mengherankan jika film tersebut berhasil masuk dalam nominasi Oscar kategori Best Director, Best Cinematography, Best Writing dan Best Film Editing. Film ini juga bisa menjadi alternatif bagi orang-orang yang suka menonton film genre kriminal tetapi masih memiliki pesan intrinsik yang seru jika dibahas. Sehingga sayang bila dilewatkan.
Nur Anisa
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi