WKUTM — Internasional Relation Office (IRO) mengambil peran penting dalam misi Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) guna mencapai World Class University. Peran tersebut tampak dari andil IRO mengurus kerja sama luar negeri, pertukaran pelajar maupun dosen luar negeri dan sebaliknya. Namun, tahun 2022 lalu dikabarkan terdapat pencabutan wewenang IRO UTM. Adapun yang dimaksud pencabutan wewenang ini adalah menjadikan IRO tidak lagi memiliki kuasa secara utuh karena secara struktural tidak lagi berada di bawah rektor, melainkan di bawah Lembaga Pengembangan, Pembelajaran, dan Penjaminan Mutu (LP3MP). Hal ini disinyalir menjadikan IRO tidak lagi memiliki keleluasaan wewenang seperti dahulu lagi.
Imron Wakhid Harist, selaku Kepala IRO, memberikan konfirmasi jika wewenang IRO telah dicabut sejak tahun 2022 secara lisan oleh Safi’, selaku Rektor UTM. Pencabutan wewenang ini menjadikan IRO yang semula secara struktural berada langsung di bawah rektor, menjadi di bawah LP3MP.
”Sebenarnya yang mengurusi birokrasi kampus itu rektor sendiri. Jadi tadinya IRO itu bertempat di bawah rektor langsung, kemudian dipindah menjadi di bawah LP3MP. Setelah berlaku di bawah LP3MP otomatis kewenangan itu hilang karena tidak sesuai dengan International Organization for Standardization 9001 (ISO 9001) atau Organisasi Internasional untuk Standardisasi yang berfokus pada Sistem Manajemen Mutu,” jelas Imron (04/05).
Imron menjelaskan jika pemindahan kuasa ini disinyalir karena uraian kerja IRO tidak sesuai dengan LP3MP. Menurutnya, dengan adanya pemindahan kekuasaan ini, menjadikan IRO tidak lagi memiliki kuasa penuh atau wewenang seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Salah satu perubahan wewenang IRO adalah ihwal pembentukan kerja sama, yang tidak lagi dapat membentuk serta menandatangani kerja sama secara mandiri.
”Ya, wewenang kita menjadi terbatas, tidak seleluasa dulu lagi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Imron memaparkan jika pihaknya telah bernegosiasi dengan beberapa kampus luar negeri yakni National Pingtung University of Taiwan, kemudian Dhanalakshmi University of India, dan Universitas Teknologi Petronas Malaysia untuk melakukan kerja sama. Namun pasca pencabutan wewenang tersebut dan peralihan wewenang ke rektor, kerja sama ini dibatalkan karena lamanya respons yang diberikan oleh rektor. Adapun untuk nasib staf atau relawan IRO saat ini hanya mensosialisasikan beasiswa seperti Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan beasiswa Fulbright.
”Mereka kan hanya ingin bertemu dengan pihak rektor tapi karena kita (IRO) tidak punya wewenang seperti itu (red: membentuk kerja sama) dan berkali-kali tanya ke rektorat tidak ditanggapi. Ya kita give up-lah, berhentilah kita biarkan saja,” ujarnya.
Imron melanjutkan, pihaknya tak lagi mempermasalahkan pembatasan wewenang tersebut. Selain itu, saat ini IRO masih tetap mempunyai wewenang, seperti menangani Surat Persetujuan Sekretariat Negara (SP Setneg) guna membantu Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang akan Strata dua atau Strata tiga di luar negeri.
”Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut,” ungkapnya.
Taufiqurrohman, selaku Ketua Bagian Perencanaan dan Kerja sama UTM menolak untuk menanggapi dikarenakan tidak adanya surat keputusan resmi pencabutan wewenang kerja sama IRO. Sedangkan Safi’ tidak berkenan menjawab dan melimpahkan kepada Wakil Rektor I.
Sementara itu, Achmad Amzeri, Wakil Rektor I, mengungkapkan bahwa tidak ada informasi terkait pencabutan wewenang IRO. Amzeri berpendapat IRO memiliki peran yang sangat penting, terlebih lagi terkait kerja sama luar negeri, pertukaran pelajar atau dosen luar negeri atau sebaliknya dan peran penting lainnya yang mendukung misi Rektor. Amzeri berharap bahwa IRO terus mendukung hal-hal yang berkaitan dengan kerja sama luar negeri demi UTM mencapai target World Class University.
"Ya harapannya IRO tetap mendukung. Karena IRO ini terkait kepanjangan tangan universitas untuk ke luar negeri. Jadi komunikasi kita dengan luar negeri ya bergantung pada IRO ini. Kalau Hubungan Masyarakat (Humas) ini kan hubungan secara nasional, nah IRO ini hubungannya dengan luar negeri," ungkapnya (05/05).
Adapun harapan dari Imron terkait IRO adalah agar UTM juga memperhatikan adanya keberadaan IRO.
”Harapannya satu, lebih memperhatikan IRO. Tujuannya untuk internasionalisasi, tapi IRO-nya tidak diperhatikan ya percuma,” pungkasnya. (LRS/ROY)

