WKUTM – Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) tahun 2021 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menimbulkan kekecewaan dari pihak Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), lantaran konsep pengenalan UKM hanya menggunakan video. Beberapa UKM mengkhawatirkan kurangnya interaksi dengan mahasiswa baru (maba) sehingga menyebabkan regenerasi UKM terhambat.
Imam Mahrus Afwan Romadhoni, selaku Ketua Umum (Ketum) UKM Ikatan Mahasiswa Huffadz (Ihfadz) mengungkapkan bahwa tahun ini interaksi melalui video yang durasinya terpangkas menjadi dua menit, padahal di tahun kemarin masih tidak dibatasi durasinya, itulah yang menimbulkan dampak kurang mengenakkan bagi UKM sendiri.
”Jika konsepnya seperti ini saya rasa justru mengalami penurunan, bukan malah memperbaiki kesalahan yang sebelumnya. Tahun lalu itu maba yang berpartisipasi di acara pengenalan UKM kami hanya puluhan orang saja, tepatnya hanya sebagian kecil dari jumlah peserta PKKMB,” ungkap mahasiswa asal Tuban (13/07).
Putri Agil Nur Ashari, selaku Komandan Resimen Mahasiswa, berpendapat terkait dengan persoalan yang harus dihadapi UKM. Menurutnya, pengenalan UKM lewat video jelas kurang efektif, mungkin akan lebih efektif apabila disediakan waktu khusus untuk pertemuan secara virtual melalui media zoom dan sebagainya agar interaksi lebih hidup dan dapat diperhatikan oleh semua maba.
”Pasti kurang maksimal, andai saja kita disediakan waktu guna berbicara langsung dengan maba di meet/zoom mungkin lebih nyaman, semisal ada yang bertanya bisa langsung terjawab dan bisa didengar oleh semua maba,” ujar mahasiswi asal Jombang (13/07).
Senada dengan penuturan Putri, Irine Eka Buana Dewi, sebagai Ketum dari UKM Gunung, Hutan, Bahari, Tebing, Rawa, dan Sosial (Ghubatras), mengatakan bahwa, interaksi setidaknya bisa dilakukan secara pertemuan Dalam Jaringan (Daring) menggunakan media zoom serta sejenisnya. Selain itu juga bisa dengan alternatif lain yakni dengan diperbolehkannya ketum masuk di dalam grup whatsapp PKKMB agar dapat berinteraksi dengan maba sekaligus melihat seperti apa calon mahasiswa baru yang akan bergabung dalam UKM yang ada.
”Kalau dari saya sebenarnya ingin kita ada interaksi langsung dengan maba meskipun ospek ini dilakukan sistem daring, Interaksi dalam artian kita diberi akses pengenalan sendiri meskipun melalui zoom atau setidaknya kita masuk di grub mabanya jadi kita bisa memantau maba tahun ini seperti apa,” papar mahasiswi program studi manajemen tersebut (13/07).
Perihal dampak terhadap perekrutan anggota baru UKM, Irine berujar bahwa jumlah pendaftar tahun 2020 lalu berkurang dari tahun sebelumnya. Menurutnya, jika sistem tetap sama di tahun ini, maka hal tersebut kemungkinan akan terulang kembali.
”Pasti berdampak dilihat dari tahun kemarin saja jumlah total keseluruhan pendaftar berkurang dari tahun sebelumnya, harusnya sekarang ini waktu bagi kita untuk memperbaiki sistem yang tahun kemarin dirasa kurang maksimal. Kalau konsepnya sama seperti sebelumnya dipastikan memiliki kemiripan kasus,” ujarnya.
Mengonfirmasi hal tersebut, Nia Agustin, selaku Sie Acara Panitia PKKMB mewakili Presiden Mahasiswa (Presma) menegaskan bahwasannya dari panitia PKKMB sendiri telah melakukan negosiasi dengan pihak kampus, terkait dengan permasalahan di tahun kemarin mengenai pengenalan UKM agar tidak terjadi lagi di tahun ini. Namun, dirinya mengaku bahwa semua keputusan dari pihak atas seperti Wakil Rektor III dan Ketua Panitia Dosen tetap gigih mempertahankan sistem pengenalan seperti tahun kemarin.
”Dirapat perdana dengan dosen, kita sudah berdebat untuk memaksimalkan pengenalan UKM karena dari panitia mahasiswa itu tidak ingin kejadian tahun kemarin terjadi lagi. Perihal menit, panitia dosen sendiri bersikeras agar tetap dua menit durasinya,” tegasnya pada (13/07).
Nia mengatakan bahwa, untuk video struktural UKM sendiri memang cukup dengan durasi dua menit, sedangkan video pengenalan tersebut ditoleransi sehingga menjadi tiga menit durasi video. Terkait dengan hal ini dirinya mengaku sempat bersitegang dengan pihak atas, sehingga saat disetujui pihak atas pun menawarkan solusi dengan diadakannya pekan mahasiswa setelah PKKMB agar UKM memiliki ruangnya sendiri untuk memperkenalkan UKM masing-masing terhadap maba.
Sedangkan untuk permintaan UKM agar dapat bergabung di grup whatsapp maba, Nia menjelaskan bahwa, dari pihak panitia sendiri bahkan tidak keseluruhan bisa masuk di dalam grup sebab hanya Sie Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang berada di dalamnya. Menurut Nia, meski demikian tetap saja pihak panitia mencantumkan nomor personal UKM yang dapat dihubungi oleh maba apabila terdapat penjelasan yang kurang dipahami.
”Yang masuk hanya anak kominfo saja. Tidak semua panitia itu masuk di grup bahkan sie acara dan sie Liaison Officer (LO) itu tidak masuk di grup maba PKKMB. LO itu hanya memegang grup kelompoknya masing-masing. Jadi dari sie acara untuk UKM, kita menaruh Contact Person (CP) untuk lebih jelasnya maba yang kurang paham bisa menghubungi CP tersebut dari masing-masing UKM,” jelasnya.
Namun dalam hal ini Nur Solihin Novianto, yang menjabat sebagai Ketum UKM Pramuka, menyatakan pendapatnya. Menurut Anton, apabila nanti ada alternatif lain guna meredam kekecewaan setiap UKM dalam ranah PKKMB pun akan sia-sia saja jika pada pilihan tersebut maba tidak diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pekan mahasiswa tersebut. Anton menambahkan bahwa, seandainya Ketum UKM dapat berkoordinasi langsung dengan panitia PKKMB maka tidak ada miskoordinasi antara Ketum UKM dengan panitia PKKMB.
”Hal itu akan percuma juga, apabila tidak diwajibkan untuk maba layaknya PKKMB. Ya hasilnya kurang lebih akan sama seperti tahun sebelumnya. Harapannya semoga dalam penentuan kebijakan teman-teman UKM dapat ikut berkoordinasi langsung dengan kepanitiaan yang ada, sehingga tidak muncul kecurigaan ataupun kesimpangsiuran antara keduanya,” jelasnya (16/07).
Sampai berita ini terbit, dari pihak Ketua Pelaksana PKKMB, Warek III dan Ketua Panitia Dosen belum memberikan keterangan apapun sebagai tindak lanjut dari keluhan mahasiswa. (Ret/Cim)

