WKUTM- Beberapa fakultas yang melaksanakan praktikum, mulai mempersiapkannya sesuai dengan pengantar keputusan Rektor No : B/1459/UN46.2/HK.01/2020 pasal 3 nomor 3 tentang persyaratan praktikum secara luar jaringan (luring).
Berkaca pada semester sebelumnya, Ahmad Ubaidillah, Wakil Dekan I (Wadek I) Fakultas Teknik, menjelaskan hanya prodi Mekatronika yang melakukan praktikum secara luring, itu pun dilaksanakan dengan cara mengurangi jumlah kelompok mahasiswa yang melaksanakan praktikum. Sejak pihak universitas mengeluarkan surat keputusan rektor, ia menjelaskan agar sebisa mungkin praktikum dilakukan dengan metode dalam jaringan (daring).
Ahmad juga menjelaskan bahwa pihak fakultas telah berupaya untuk memaksimalkan pelaksanaan praktikum secara luring dengan mengajukan perizinan dan jadwal pelaksanaan ke universitas. Sebab menurutnya, dana DIPA untuk sarana dan prasarana praktikum daring tidak bisa dicairkan karena tidak memiliki Laporan Pertanggungjawaban (LPJ).
”Prodi yang ingin melaksanakan praktikum luring mengajukan surat ke fakultas, kemudian akan diteruskan ke universitas. Fakultas juga mendukung sarana dan prasarana dari dana praktikum luring. Namun praktikum daring tidak bisa dicairkan karena tidak punya LPJ,” ungkapnya saat diwawancarai lewat via WhatsApp.
Ahmad juga menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19 pada saat praktikum luring adalah dengan mengatur anggota kelompok maksimal 5 orang. Adapun untuk mahasiswa yang daerahnya berstatus zona merah akan mendapatkan dispensasi. Mengingat risiko saat melaksanakan praktikum luring, diharapkan semua civitas akademika tetap berupaya untuk meminimalisir potensi penularan COVID-19.
Sedikit berbeda dengan Ahmad, Dwi Bagus Rendy A. P, dosen Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), menuturkan upaya fakultas pendidikan dalam memaksimalkan praktikum luring adalah dengan cara mengurangi kapasitas mahasiswa di laboratorium hingga 50% dan pengurangan judul praktikum.
"Saya rasa nanti pastinya mahasiswa masuk dalam kapasitas 50% di laboratorium. Untuk waktunya juga lebih lama karena nanti ada dua sampai tiga gelombang karena laboratorium di prodi Pendidikan IPA sangat kecil kapasitasnya. Kalau luring juga sepertinya beberapa judul praktikum dikurangi," ujarnya.
Terkait faktor keamanan dalam melakukan praktikum luring, Rendy menuturkan jika pihak universitas akan mengikuti instruksi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Akan tetapi, menurutnya jika praktikum dapat dilaksanakan secara luring, kemungkinan terlaksana pada tahun 2021 setelah vaksin COVID-19 sudah ada atau pandemi sudah berakhir.
Pihaknya juga menjelaskan apabila pandemi tidak kunjung berakhir, bahkan semakin parah, kemungkinan kebijakan praktikum akan diundur atau menggunakan sistem daring.
"Jika pandemi ini tetap tidak ada penurunan dan makin parah, maka di situ tetap ada kebijakan kampus maka praktikum diundur atau pun menggunakan konsep praktikum daring," jelasnya.
Sabrina Kholisatun Magfiroh, mahasiswa dari Fakultas Teknik, mengatakan jika praktikum yang dilakukan secara daring kemarin kurang efektif lantaran hanya berisi pemberian materi tanpa penjelasan dari asisten praktikum (asprak).
"Untuk praktikum kemarin di lakukan secara daring, menurut saya kurang efektif karena hanya dikasih materi tanpa ada penjelasan dari asprak," ujar mahasiswa asal Jember tersebut.
Selain itu, Sabrina juga mengungkapkan kendala yang dialami selama praktikum daring adalah sinyal yang tidak stabil, fasilitas yang tidak memadai, dan juga sulit untuk memahami materi yang disampaikan dalam kegiatan praktikum daring tersebut. Dirinya berharap jika pihak kampus akan melaksanakan praktikum luring, tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk meminimalisir penularan COVID-19 saat proses praktikum luring.
"Semoga berjalan lancar sesuai rencana dan tetap memperhatikan protokol kesehatan," pungkasnya. (Tal/Irm)
