bulan di matamu
temaram
kabut berkelindan
dalam tubuhmu
senyum di muka pasi
yang memaksakan kerlingan itu
dan meredup
di ujung malam
pejam matamu
2019
kematian rindu
rindu lahir
bersama pusar sesak
di tiap waktu kupikir tentangmu
dan detak yang bermula hidup
napas terengah mengikutimu
di usia belum genap satu
ternyata bukan aku yang akan mati, kata izrail
melainkan rindu
yang meratap jauh
terkubur lara batin
kamboja menyebar
peziarah berjalan beriring
2019
antara kepulangan
apa yang mempertemukan kita?
adalah kesatuan gelak tawa
yang menjadi ciut
oleh jarak
dan nyanyian sepasang angsa
mencipta nada
lalu tetiba jadi sunyi
diredam waktu yang menirus
mengapa jadi kau lipat waktu?
bukankah waktu masih setengah hari lagi?
tutur katamu kosong
dan tanganku kau seret menuju lorong
pada rumah yang lampunya padam
hanya matamu
merah menyala
tetiba hujan jatuh
begitu saja
2019
Ketika kubaca kau
kemari,
kau ingin aku membaca lagi
puisi dan perasaan
ketika siang jadi teduh
angin menari
kau minta dibacakan lagi
: adalah kau
kehidupan
dan cinta yang lahir
tiada kemalangan
sebab cinta adalah keberuntungan
abadi dan didoakan
2019
*aku menunggu pulang dan bunga-bunga di jalan
jangan kau bawa serta di rumah kita
Idatus Sholihah
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

