Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Resensi: Sejarah Perlawanan Penguasa Tiran di Tanah Mesir

Kamis, 02 April 2026 | 01.19.00 WIB Last Updated 2026-04-02T08:20:16Z

Judul: Testament: The Story of Moses 
Produser: Emre Sahin dan Kelly McPherson
Sutradara: Benjamin Ross
Tanggal rilis: 27 Maret 2024
Durasi: 81 – 88 menit (3 Episode) 
Genre: Dokumenter sejarah

Testament: The Story of Moses merupakan serial dokumenter yang mengisahkan perjuangan Nabi Musa dalam menyampaikan wahyu Tuhan kepada umatnya. Serial ini terdiri dari tiga episode yang masing-masing berdurasi sekitar 81 – 88 menit. Cerita dalam serial ini diambil dari kumpulan dokumen tiga agama Abrahamik, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Film ini digarap oleh Benjamin Ross, seorang penulis sekaligus sutradara berkebangsaan Inggris. Setelah dirilis pada Maret 2024, serial ini berhasil menjadi salah satu acara televisi yang paling banyak ditonton di Netflix.

Kisah dalam serial Testament: The Story of Moses dimulai ketika Musa berada di kerajaan Mesir setelah diangkat menjadi anak oleh putri kerajaan Mesir saat ia ditemukan di sungai Nil. Pada masa itu, masyarakat Mesir memiliki keyakinan kuat bahwa raja mereka, yakni Firaun, merupakan keturunan suci dari para dewa yang mereka sembah. Ada tiga dewa utama yang dipuja pada masa itu, yaitu Amun-Ra (dewa matahari), Horus (perwujudan Firaun di bumi), dan Osiris (dewa kematian atau kebangkitan). Keyakinan itulah yang membuat setiap perintah Firaun dianggap sebagai titah langsung dari para dewa. Siapa pun yang membantah atau tidak menuruti perintah tersebut akan langsung dihukum. Aturan ini berlaku bagi semua kalangan, termasuk orang-orang yang berada di lingkungan kerajaan.

Pada mulanya, Musa diliputi kegelisahan terhadap kebengisan yang dilakukan oleh Firaun, terutama terhadap kaum Bani Israil yang pada saat itu menempati kasta terendah di kerajaan Mesir. Mereka dipaksa bekerja keras dan kerap mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Kegelisahan itulah yang akhirnya mendorong Musa untuk bertindak. Dalam sebuah peristiwa, Musa tanpa sengaja membunuh seorang aparat kerajaan yang sedang memukul pekerja Bani Israil secara kejam. Keputusan singkat itu membuat Musa terpaksa melarikan diri dari Mesir karena takut dijatuhi hukuman mati akibat melawan kekuasaan Firaun.

Musa kemudian menuju wilayah timur Laut Merah, yang dikenal dengan kota Madyan. Di sana Musa memulai kehidupan yang baru. Ia hidup sebagai pengembara dan menggembalakan ternak hingga akhirnya menerima wahyu langsung dari Allah. Wahyu tersebut berisi perintah agar Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan kaum Bani Israil dari kezaliman yang dilakukan Firaun.

Serial ini berhasil menjelaskan secara runtut perjuangan Musa dalam menjalankan tugas kenabiannya, mulai dari masa kelahiran hingga akhir hayatnya. Film ini tidak hanya menampilkan kisah dramatik kehidupan Musa, tetapi juga menghadirkan wawancara dengan para teolog dan sejarawan. Dengan begitu, serial ini tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan juga forum diskusi mengenai makna peristiwa yang ada.

Salah satu contoh menarik terlihat pada penjelasan tentang peristiwa ketika matahari di Mesir tidak muncul berhari-hari sebab Firaun mengabaikan pesan Musa. Peristiwa itu menjadi ancaman besar bagi keyakinan masyarakat Mesir terhadap eksistensi Amun-Ra, dewa matahari yang mereka sembah. Selama berabad-abad mereka mempercayai matahari sebagai simbol kekuatan ilahi, sehingga ketika matahari menghilang, kekhawatiran pun melanda seluruh kerajaan Mesir. Komentar para ahli dalam film ini berhasil menghadirkan diskusi ringan perihal bagaimana Tuhan memberikan peringatan serius kepada Firaun dengan cara yang tidak main-main. Peringatan itu begitu jelas hingga dapat dibaca oleh semua orang, bahkan Firaun sendiri menyadarinya. Namun, kesombongan dan ego membuatnya menolak kebenaran yang sudah berada di hadapannya. Begitulan ia memilih jalan kehancurannya sendiri.

Selain pemaknaan peristiwa dari Firaun, film ini juga menyoroti pengalaman spiritual Bani Israil setelah mereka berhasil keluar dari Mesir, Dalam perjalanan tersebut, Musa naik ke Gunung Sinai untuk menerima wahyu dari Allah. Ia meninggalkan umatnya selama puluhan hari. Namun, selama penantian itu sebagian kaum Bani Israil justru kehilangan kesabaran dan iman. Mereka kemudian membuat sebuah patung sapi sebagai sesembahan selain Allah.

Ketika Musa turun dari Gunung Sinai dan mengetahui bahwa kaumnya telah membuat sekutu bagi Allah, ia merasa kecewa. Peristiwa ini menggambarkan keimanan Bani Israil masih sangat lemah. Meskipun Musa telah membebaskan mereka dari kezaliman Firaun, kebebasan itu tidak serta-merta membuat mereka teguh dalam keyakinan. Dalam situasi inilah Musa kemudian membawa wahyu perihal Sepuluh Perintah Tuhan, yang menjadi landasan hukum dalam kitab Taurat bagi Bani Israil.

Serial ini tidak hanya berhasil menceritakan kehidupan Musa, tetapi juga menghadirkan perspektif yang lebih segar melalui pemaknaan peristiwa di dalamnya. Penonton seakan diajak untuk ikut berdiskusi, menganalisis, dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut. Film ini sangat direkomendasikan bagi kalangan yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah kenabian dan kajian agama.

Sebagai penutup, salah satu kutipan dari Shlomo Einhorn, seorang cendekiawan yang diwawancarai dalam film ini, memberikan refleksi yang menarik sekaligus menjadi inti dari cerita tersebut: “Do you notice when people are suffering? Do you stand up or stay quiet? Social justice began with Moses.” (Apakah kamu menyadari ketika orang lain sedang menderita? Apakah kamu akan berdiri membela mereka atau justru memilih diam? Keadilan sosial dimulai dari Musa).

Nur Anisa
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi


×
Berita Terbaru Update