Notification

×

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tersandung Ekonomi, Calon Mahasiswi Gagal Mengejar Mimpi

Minggu, 26 Mei 2024 | 08.10.00 WIB Last Updated 2024-05-26T15:29:44Z
Akhirnya mau tidak mau aku mundur saja, kasihan orang tua jika harus sampai pontang panting cari pinjaman

Caca, begitu gadis asal Kediri tersebut akrab disapa. Baginya, berkuliah merupakan keinginan besarnya untuk membanggakan orang tua. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Caca telah mantab menekuni bidang pertanian di jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Holtikultura.

Besar harapan Caca untuk dapat mengembangkan ilmunya di sektor pertanian, karenanya, Caca kemudian mendaftarkan diri di salah satu universitas negeri yang memiliki Program Studi (Prodi) dengan akreditasi Unggul. Caca ingin belajar di prodi Agroekoteknologi, karena itu, meski sebenarnya ada banyak ketakutan di benaknya, Caca memberanikan diri.

Gadis bernama lengkap Syatifa Brillianti Citra Handini tersebut kemudian mendaftarkan diri di Universitas Trunojoyo Madura (UTM), alasannya karena menurut Caca, UTM merupakan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan tingkat Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan biaya hidup tergolong murah. 
Menurut informasi yang Caca dapat, di UTM jumlah UKT tertinggi adalah tiga juta rupiah, cukup murah jika dibandingkan dengan PTN lain di Indonesia. Dengan demikian, Caca berharap dirinya juga akan mendapatkan besaran UKT yang sesuai dengan kondisi perekonomian keluarganya yang tegolong menengah ke bawah.

Dari 500 siswa di SMKN 1 Plosoklaten, Caca patut berbangga diri sebab menjadi salah satu dari tujuh siswa yang lolos masuk perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). 
Sayangnya, rasa bahagia tersebut tidak bertahan lama sebab melihat jumlah UKT yang akan dibebankan kepadanya. Angka tiga juta rupiah yang harus dibayarkan Caca pada tiap semester membuat gadis tersebut kebingungan. Mungkin bagi beberapa orang, jumlah demikian bukanlah hal yang besar. Tetapi tidak bagi Caca yang segala beban perekonomian keluarganya ditanggung hanya oleh sang Ibu.

"Orang tuaku sudah lama bercerai, jadi Ibuku single parent. Aku dua bersaudara dan adikku baru mau masuk SMA, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, Ibuku merantau ke Kalimantan. Jadi karena penghasilan Ibu yang tidak menentu, terkadang aku juga harus kerja di rumah makan milik temanku." Jelas gadis asal Kediri tersebut (26/5). 

Meski dengan keadaan ekonomi yang serba kekurangan, tidak mematahkan harapan Caca untuk meneruskan pendidikan. Gadis tersebut kembali melanjutkan perjuangannya setelah mendapatkan informasi dari sesama Calon Mahasiswa Baru (Camaba) terkait banding UKT dengan mendatangi kampus. Caca bertekad mengajukan banding meski harus pergi jauh keluar kota dan mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit.
Caca sempat berkecil hati saat salah satu teman seperjuangannya memberikan informasi bahwa di kampus tempat temannya mendaftar, banding dapat dilakukan secara online. Caca sempat penasaran dan bertanya mengapa UTM tidak melakukan sistem banding online seperti kampus tersebut sehingga dapat mempermudah Camaba.

"Sempat bingung setelah diberi tahu salah satu temanku salah satu Camaba di PTN Surabaya, dia bertanya, kampusmu kan PTN juga, kenapa masih harus datang ke kampus? Lalu bagaimana dengan yang berasal dari luar Pulau Jawa?" Ujarnya.

Sayangnya, meski telah memberikan penjelasan bahwa sang Ibu hanya memiliki penghasilan dibawah 500 ribu rupiah, Caca tetap diharuskan membayar UKT sebesar 1,8 juta rupiah. Bagi Caca, jumlah tersebut masih terlalu besar untuk sang Ibu yang dinilai belum memiliki pekerjaan stabil dan bekerja serabutan. Apalagi, sang Ibu belum pulang selama satu tahun ini demi memenuhi kebutuhan ekonomi.

Tak putus akal, Caca pun mencoba mendapatkan keringanan melalui angsuran. Sayangnya, jumlah yang masih terlalu besar dengan tanggal akhir pembayaran yang sudah mepet membuat gadis tersebut kebingungan karena tidak ingin sang Ibu pontang-panting mencari pinjaman.

Akhirnya, meski sudah jatuh bangun sedemikian rupa, perjuangan Caca harus berhenti begitu saja, sehingga dengan berat hati ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Barangkali benar kata Sekertaris Direktur Jenderal Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bahwa perguruan tinggi merupakan pendidikan tersier.

Nur Anisa
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi

×
Berita Terbaru Update