WKUTM - Wacana Kampus Merdeka yang disuarakan oleh Nadiem Makariem, Menteri Pendidikan Indonesia, ditanggapi pihak Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Muhammad Syarif, Rektor UTM, mengungkapkan bahwa kampus merdeka di UTM nanti akan merancang ulang Program Studi (Prodi), mengeksplorasi kerja sama dengan pihak luar kampus, serta mempersiapkan perangkat pembelajaran yang mendukung. Syarif juga menambahkan bahwa akan dilakukan kajian dan analisis pada tata cara perubahan prodi pada konsep kampus merdeka. Pihak Rektorium UTM juga sudah berkomunikasi dengan para Wakil Dekanat di UTM untuk mengevaluasi lebih lanjut.
”Kampus merdeka ditujukan untuk mendorong peningkatan kompetensi lulusan, baik softskill maupun hardskill. Sehingga lulusan dapat memenuhi kebutuhan stakeholder,” paparnya.
Kurniyati Indahsari, selaku ketua Lembaga Pengembangan, Pembelajaran, dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LP3MP) UTM memaparkan bahwa sudah ada sebuah ‘embrio’ kampus merdeka di UTM. Diantaranya, beberapa prodi mewajibkan mahasiswa untuk melakukan kegiatan magang, kegiatan Kuliah Kerja Nyata selama satu bulan dengan jumlah Satuan Kredit Semester sebesar 3 di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP). Indahsari menambahkan ada Program Kerja Lapangan di FIP, dan adanya Inkubator Bisnis di UTM.
”Semoga konsep kampus merdeka dapat diterapkan di UTM, karena konsep tersebut sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) 2020,” ujarnya.
Arief Setyawan, selaku Dosen FIP UTM memberikan komentar terkait perubahan demi melancarkan kampus merdeka. Arief menyambut positif kebijakan tersebut karena perubahan kurikulum sudah wajar untuk perkembangan pendidikan. Arief mengatakan bahwa tentunya ada kendala dalam penyesuaian sistem tersebut, sehingga jelas membutuhkan perencanaan yang matang dan terintegrasi dengan pihak-pihak di luar prodi masing-masing.
Arief juga mengatakan bahwa akan mempersiapkan diri secara matang guna menghadapi kampus merdeka.
”Hendaknya kampus merdeka dilaksanakan secara terarah, terukur, dan terkontrol. Dengan demikian, misi kampus merdeka yaitu percepatan dan peningkatan mutu pendidikan serta mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi terwujud,” ungkap pria asal Pacitan tersebut.
Busro Karim, Dosen FIP, menjelaskan bahwa program semacam kampus merdeka tidak bisa dipisahkan dari dinamisasi sistem pendidikan Indonesia, dan tentu selalu ada kendala di dalamnya. Namun, Busro mempersiakan metode untuk mencegah kendala-kendala yang akan datang, seperti membentuk rapat antar prodi dan Workshop.
”Diharapkan Mahasiswa dapat menghadapi masalah sekaligus menentukan solusi yang tepat, baik secara teori maupun praktik dengan kampus merdeka ini nantinya,” harap pria kelahiran Lamongan tersebut.
Ummah Elfajriyatin, Mahasiswi PBSI UTM merasa bahwa pergantian dan penyesuaian program pendidikan seperti kampus merdeka itu wajar. Ummah menjelaskan, tentunya ada survei, dan penelitian secara berkala sebelum dijalankan sebuah program, seperti kampus merdeka. Tetapi, Ummah sedikit kecewa dengan kebijakan itu yang dirasa mengikuti program negara luar.
”Padahal dari SDM bangsa sendiri belum siap, kita tidak harus memaksa mengikuti. Kita bisa mengembangkan Indonesia sesuai porsi, ” ungkap perempuan asal Jombang.
Imam Alfandi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UTM juga merasakan bahwa program perpindahan kampus harus benar-benar diperhitungkan. Imam menjelaskan bila kampus merdeka nantinya bisa dibuat sebagai ajang uji coba oleh mahasiswa. Ia menerangkan bahwa sedari awal mahasiswa harus mengetahui tujuan program studi yang sudah dipilih sendiri.
”Kalau sistem seperti itu, mahasiswa bisa seenaknya pindah-pindah, membuat goblok. Lebih baik satu tapi maksimal, daripada semua tapi tidak maksimal,” ungkap mahasiswa asal Surabaya tersebut. (Cha/hil/HIY)
