Selasa, 02 April 2019

,

Kembali Melakukan Aksi, Mahasiswa Tuntut Pemberhentikan Staf Bidang Kemahasiwaan

Massa kembali berkumpul di Gedung Rektorat tuntut kejelasan pengadaan buku pedoman kemahasiswaan. Foto: Yul.

WKUTM- Menindaklanjuti gugatan adanya dugaan penyelewengan pembuatan buku oleh bidang kemahasiswaan, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) kembali melakukan demonstrasi kedua di depan Gedung Rektorat UTM (02/04). Sebelumnya, pada Jumat (29/03) telah dilakukan demo untuk menjelaskan permasalahan pembuatan buku pedoman kemahasiswaan. Namun hal ini malah menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan dari massa yang menganggap masih banyak kejanggalan seperti ketidakkonsistenan jumlah pengadaan dan pendistribusian buku pedoman kemahasiswaan, ketidakwajaran perubahan harga buku tiap eksemplar, serta  perubahan harga buku tiap eksemplar yang tidak wajar.

 Massa yang berunjuk rasa langsung ditemui oleh ketua Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI) , Suprianto, Kepala Subbagian Administrasi, Sri Mulyani Budianingsih, dan terutama Wakil Rektor (Warek) III, Boedi Mustiko,  yang sedari aksi kemarin ditunggu oleh para demostran untuk menjelaskan mengenai gugatan para mahasiswa. ”Kemarin saya di Jogja satu hari dan langsung ke Jember, jadi saya tidak tahu kalau sorenya ada aksi. Sekali lagi ini tidak mengada-ada selama saya diberi amanah,” katanya menjelaskan didepan para unjuk rasa.

Masalah pertama menyebutkan adanya ketidaksinkronan ujaran penjelasan jumlah buku yang dicetak, oleh bidang Kabiro Kemahasiswaan yang menyatakan adanya 880 eksemplar, dan Kabag Kemahasiswaan berujar hanya 200-300 eksemplar saja. Supriyanto menjelaskan bahwa terkait hal tersebut, ia benar-benar tidak mengetahui apabila telah terjadi perubahan jumlah.

“Jadi diawal saya bilangnya 880 karena saya diberitahu seperti itu. Kalau ada perubahan saya belum tahu karena harus ada laporan dari bawahan terlebih dahulu. Maka dari itulah saya tetap berpedoman pada jumlah 880,” ujarnya.

Boedi Mustiko mengatakan, bahwa terkait pembuatan buku ia hanya bertugas sebagai instruksi dikarenakan telah ada koordinator yakni Yahya Surya Winata. ”Semuanya sudah dalam proses, akan tetapi uangnya mepet,” katanya. ”Dan saya berjanji dalam minggu ini harus segera terselesaikan,” tambahnya seraya meyakinkan.

Ia juga menjelaskan bahwa ia tidak mengerti berapa besaran anggaran untuk pembuatan buku pedoman kemahasiswaan karena semua itu ada ditangan Kabiro dan Kabag, ”karena itu bukan ranah saya. Tetapi saya bertanggungjawab untuk menyelesaikan sampai dengan tuntas,” ujarnya.

Selanjutnya, terkait permasalahan buku pedoman yang tersedia sebanyak 17 kardus (16 kardus di Gudang, 1 kardus di ruangan Kabag) setiap kardus berisi 17 buku pedoman, berjumlah 289 eksemplar (belum dibagikan) ditambah 100 eksemplar (sesuai bukti surat terima) yang telah dibagikan menjadi 389 eksemplar, Mahrus Imam selaku demonstran menambahkan bahwa telah terjadi perbedaan bukti serah terima antara hari Senin dan Jumat.
”100 menjadi 169 dan 289 menjadi 373,” katanya. ”Hari Senin, Bu Yani menunjukkan pada saya kontrak Unit Layanan Pengadaan  550 dan harganya pereksemplar 220 ribu. Kemudian sempat bertanya kepada percetakan kalau buku seperti itu paling tinggi 30 ribu,” ujarnya.

Mahrus juga menjelaskan bahwa selain indikasi manipulasi harga pereksemplar, juga terdapat manipulasi pendistribusian. Ia mengatakan fakultas mendapat buku sebanyak 169. Namun ia menemukan fakta data bahwa jumlah masing-masing yakni FISIB (Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya) sebanyak 7, FKIS (Fakultas Keislaman) sebanyak 3, FH (Fakultas Hukum) sebanyak 4, FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) 12, FT (Fakultas Teknik) 9, sedangkan FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) dan FP (Fakultas Pertanian) belum diketahui.


Sri Mulyani Budianingsih pun kemudian menjawab bahwa terkait pengadaan buku kemahasiswaan tercatat di DIPA 3900 untuk mahasiswa, dan ditambah 500 untuk dosen dengan harga 27 500. Sayangnya buku tersebut tebal dengan 288 bolak-balik, ”itu sesuai dengan rincian yang ada pada kontrak. Alasan kita tidak memberikan kontrak, karena peminjaman kontrak itu juga ada mekanismenya,” jawabnya.

Ia juga melakukan klarifikasi bahwa jumlah kardus yang isinya 17 merupakan kesalahan besar, ”karena kardus itu isinya 23, dan yang 17 itu di ruangan saya.  Terkait buku kemahasiswaan mungkin penjelasannya itu saja,” ucapnya. Sri Mulyani juga menegaskan bahwa terkait pemeriksaan, rektor sudah memerintahkan SPI (Satuan Pengawasan Internal) untuk memeriksa kasus ini.  “Kita tunggu saja hasilnya seperti apa.”

Seraya berupaya menenangkan massa. Boedi Mustiko menjelaskan bahwa Ini semua proses pembelajaran dan akan menjadi catatan BAAK pada umumnya, ”dan yang terakhir dari saya, tuntutan akan secepatnya saya sampaikan kepada Rektor. Saya bertanggung jawab terhadap omongan saya,” ujar Warek III tersebut.


     Tidak puas terkait penjelasan tersebut, para unjuk rasa mendesak pimpinan untuk segera memberhentikan jabatan dan menggantikan Boedi Mustiko selaku bidang kemahasiswaan. Mereka juga mengancam akan menyegel ruangan Warek III.

       Namun Boedi Mustiko tidak menolak hal tersebut, ”tidak apa-apa jika maunya begitu (segel ruangan). Saya tidak mau ada keributan,” ucapnya. Sehingga para unjuk rasa kemudian melakukan penyegelan ruang.

       Sejumlah pihak ikut merespons dan menyayangkan kejadian tersebut. ”Ketika disegel, yang paling mengkhawatirkan adalah berhentinya pelayanan akademis,” keluh Sri Mulyani Budianingsih. (Ben/Dic)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra