Minggu, 03 Maret 2019

Pagliacci



Pukul tiga sore, rombongan sirkus datang ke salah satu kota di Negara Italia. Sudah pasti semua warga kota menyambutnya dengan sorakan gembira. Manusia besi, atraksi berjalan diatas tali, sulap, sepeda roda satu, dan binatang-binatang buas yang terlatih. Namun barang tentu yang paling ditunggu oleh semua orang yakni aksi lucu si badut bernama Pagliacci, yang selalu membawa humor dengan candaan yang dibutuhkan oleh semua orang yang lelah dengan tuntutan kehidupan pada masa era abad pertengahan.

Pagliacci selalu sukses membuat semua orang tertawa disetiap aksi panggungnya. Dengan rupa muka penuh sapuan bedak, selai lebar untuk membentuk mulut yang terbuka, mata lebar yang terbalik membentuk lengkungan alis, dan masing-masing pipi dibuat memerah sehingga memperlihatkan kesehatan yang berlebihan. Dia rela akting jatuh bangun, berpantomim dengan mimik muka yang dijelek-jelekan, bahkan bila perlu dia sedia berimprovisasi dengan tingkah dan ucapan meski membuat dirinya malu sekalipun. Apapun akan dilakukannya demi tawa mereka, seakan memberi pesan bahwa selain hidup yang kalian jalani, ada hidup orang lain yang perlu kalian tertawakan.

Tenda berbentuk kerucut sudah didirikan, lampu sorot sudah menyala menerawang ke penjuru sela dengan segala properti pendukung pertunjukan yang ditata dengan keadaan seperti biasanya. Sayangnya ini masih jam tiga. Sedangkan pertujukan baru akan dimulai satu jam sebelum matahari tenggalam dan seluruh penjuru kota yang sudah riuh membicarakan tentang sirkus dan si badut Pagliacci.

Disebuah bar seorang pria setengah baya duduk dengan botol alkohol di tangannya, terhitung itu sudah botol kelima. Pandangannya mungkin sudah kabur dengan kesadaran yang mungkin sudah pada pangkalnya. Dia akan meminta botol keenam, namun si bartender tidak memberikannya. “Aku tidak akan memberikan botol untumu lagi!” serunya kepada si pria tersebut. “Jika kau memang banyak pikiran dan memerlukan bantuan, pergilah ke dokter di ujung gang sana. Dia  pasti akan membantu permasalahanmu.” Tambah si bartender. Pria itu sedang depresi.  Semasa hidupnya ia melalui dengan angan yang tak pernah tersampaikan serta impian yang juga tak kunjung terkabulkan. Bangkitlah si pria setengah baya itu dari duduknya dengan kesadaran yang dipaksakan. Dia melangkah tegap ke rumah dokter yang diharapkannya dapat membantu keadaan depresinya.

Sesampainya di dalam rumah dan bertemu sang dokter, pria itu pun mengadu bahwa ia sedang sangat depresi. Hidup dirasanya sangat kejam mengucilkanya, begitu tidak adil juga dirasa semesta membagi nasib kepadanya. Pria itu berkata lagi bahwa, “dunia seakan tidak pernah berpihak kepadaku. Apa yang aku ingin dan aku impikan tidak pernah sampai pada diriku. Aku merasa semua orang bisa tertawa dengan semua  yang mereka capai, sedangkan aku harus menangisi apa saja yang gagal aku capai,” keluh pria itu sambil menangis. Dokter itu diam sesaat sambil memikirkan obat apa yang cocok bagi si pria malang tersebut. Lalu si dokter ingat bahwa akan ada pertunjukan Sirkus yang diadakan di kota nanti sore. Sang dokter menatap si pria setengah baya dan berkata bahwa obat untuk penyakitnya sederhana saja. "Nanti malam, ada  sirkus dengan seorang badut yang akan beraksi di tengah kota,” ujarnya.

“Namanya Pagliacci. Saksikanlah pertunjukannya, dan kau akan lebih bahagia karena haal itu akan membantumu sedikit lebih baik" ujar dokter.

Mendengar usulan tersebut, sang pria bukannya lega. Yang bersangkutan malah tertunduk, menelungkupkan tangannya ke wajah, dan malah menangis sejadi-jadinya. Dokterpun tak habis pikir apa yang salah dengan sarannya barusan. Dengan air mata yang menetes deras dengan suara sesenggukan, pria paruh baya itu menjawab, "akan tetapi Dok, Saya lah Pagliacci"

Itulah sepenggal adegan opera berjudul pagliacci yang populer di Italia pada tahun 1892. Ruggero Leoncavallo membuat cerita opera ini berdasar pada keadaan orang-orang masa itu yang masih bisa dilihat hingga masa sekarang. Banyak orang-orang yang memerankan peran sebagai Pagliacci. Mereka itu nyata diantara kalian, tersenyum dan tertawa bersama-sama kalian, namun menangis nanar dibalik panggung sandiwaranya.

Robin Williams aktor kawakan ini sepanjang karirnya diperfilman Holywood sudah banyak memerankan peran yang sama seperti watak Pagliacci. Keahlian Williams berimprovisasi dalam melucu seakan keluar secara natural dari dirinya.

Ia seperti tanpa upaya berganti mimik, menciptakan situasi-situasi konyol, dan merepetkan dialog-dialog kocak dalam rerupa aksen. Bakat peran tersebut tak hanya mengundang tawa. Tak jarang juga air mata penonton ia buat menetes lewat aksi peran dalam film-filmnya, seperti saat memerankan anak kecil memainkan permainan papan yang menjadi nyata dalam “Jumanji” (1995), mengisi suara sebagai jin biru dalam film animasi disney ”Aladdin” (1992), sukar melupakan kesedihan yang ia terjemahkan dengan begitu baik saat membaca bait-bait puisi Pablo Neruda untuk kekasih yang telah meninggal, kala memerankan dokter pendobrak dalam "Patch Adams" (1998), atau cara ia menatap para murid yang menolak pemecatannya saat berperan sebagai guru revolusioner dalam "Dead Poets Society" (1989).

Namun lain didepan, lain juga dibelakang. Williams ternyata seorang pribadi tak tenang dengan hidupnya. Ia sudah lama mengkonsumsi obat-obatan terlarang, alkohol, dan koakain. Bahkan kebiasaannya tersebut ia lakukan sejak akhir 1970-an hingga awal 1980-an. Kebiasaan buruknya sempat berhenti saat kelahiran anak pertamanya pada tahun 1983, dan muncul kembali di tahun 2003.

Dalam wawancaranya dengan surat kabar Inggris, The Guardian, pada 2010, Williams menceritakan banyak kesedihan. Menurutnya ia kerap kali merasa kesepian dan ketakutan. Untuk itu, ia mengobatinya dengan banyak meminum alkohol.

Wiliams sempat mengenang beban berat bekerja sebagai aktor Hollywood. Ia ingat pernah terlibat dalam pembuatan delapan film dalam dua tahun. Menurutnya, ada sejenis kekhawatiran dalam diri para penampil bahwa jika mereka berhenti tampil, mereka akan dilupakan. Williams menderita depresi sepanjang hidupnya seraya  berjuang mengatasi kecanduan obat-obatan terlarang dan alkohol. Sayangnya, tercatat tanggal 11 Agustus 2014, ia ditemukan tewas gantung diri di rumahnya Paradise Cay, California.

Ia menghibur masyarakat sebagai seorang komedian, namun harus mengakhiri hidupnya karena depresi. Sangat pilu jika mengetahui bahwa orang yang menyediakan tawa untuk orang lain, ternyata tidak bisa menemukan tawa untuk dirinya sendiri.

"Bagi dirimu yang mengalami depresi, temuilah orang-orang yang kau cintai. Bunuh diri merupakan solusi permanen untuk masalah yang sementara" - Robin Williams 


Ardico Fahmi (Mahasiswa Program Studi Sistem Informasi)

1 komentar:

  1. Perkataan Robin Williams, ada benarnya tentang "temuilah orang-orang yang kau cinta" Tapi sayang realita tak sesimpel itu, tak semudah itu, terkadang orang yang dicintai dapat menjadi seorang pembunuh.. Meskipun membunuh secara tidak langsung, tapi dilihat dari sisi dokter kejiwaan, tetep saja namanya 'pembunuh', yah tapi siapa yang terima dikatain sebagai pembunuh?

    Hahaha...

    BalasHapus

Sastra