Minggu, 17 Maret 2019

Peristalam


Ceritanya aku sedang duduk di beranda, ini aktivitas wajib setiap hari saat selepas shalat Ashar. Warna senja yang memerah memantul pada dinding rumah samping kos yang cerahnya hampir menguasai warna langit sore hari. Satu dua orang berlalu di depanku, hanya sebatas jalan kaki. Deru kendaraan mendesing sepanjang jalan raya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku. Di beranda aku hanya sebatas duduk melepas jenuh jika seharian hanya di kamar. Tidak ada kopi di sampingku, aku tidak suka kopi, kopi itu pahit, pahit itu duka, duka itu masa laluku yang jauh. Tidak, aku tidak mau mengenangnya lagi.

            Suatu kali langit mendung, musim sepertinya akan memasuki penghujan (pikirku dalam hati). Di udara sudah mulai kulihat capung terbang bagai pesawat, dan ngin bergerak ke arah yang berbeda. Bagaimana dengan orang-orang di kampung saat mulai memasuki penghujan? Tiba-tiba aku teringat kampung halaman. Kubayangkan wajah petani berseri dan asri menyambut musim hujan yang bakal tiba. Mereka akan bersyukur tanpa henti karena sebentar lagi tanah dan taninya akan terberkati.

            Pada suatu sore yang berbeda, gerimis turun dan jatuh satu persatu. Aku tersenyum sendiri, tidak lama kutarik kembali senyumku sebelum orang-orang melihat dan mengira aku tidak waras. Di benakku, orang-orang kampungku sedang girang tertawa dan tak lupa bersyukur. Aroma tanah tentu akan selalu dirindukan, asri tanpa polusi  dan asap yang mencemarkan. Aku masih duduk di depan kos, gerimis masih turun, kini semakin lebat. Kubayangkan lagi petani di kampungku semakin riang dengan tawa yang lepas dan hebat.
                                                                        ***
            Seperti biasa, sore ini aku duduk menghadap jalan sepanjang gang yang sempit dengan perumahan yang padat. Sudah tak kulihat pantulan cahaya senja langit mendung di gedung sebelah kosku. Jalanan sepi dan setiap orang malas keluar rumahnya. Mungkin mereka berpikir, apa yang mesti dicari pada sore hari yang kehilangan warna langit kuning kemerahan itu? Sangat jelas antara Kota dan Desa, dua tempat yang membedakan nasib seseorang ini benar-benar memiliki letak kesenangan dan kenyamanan begitu berbeda.

            Di kota, orang-orang jarang menyaksikan senja sore hari secara langsung dan utuh karena adanya gedung-gedung yang memiliki jarak yang panjang antara dasar dan ujungnya. Ini sebabnya, orang-orang tak pernah berharap melihat senja karena sudah pasti cahaya yang merah merona itu membentur gedung-gedung pencakar langit. Apalagi di kehidupan kota padat, belum tentu orang kota memikirkan senja dengan langit yang berhiaskan burung-burung kembali ke sarangnya. Malah belum tentu di kota ada burung dan sarang. Hanya sedikit orang tersadar akan senja dengan cahayanya yang hanya dapat dinikmati dari pantulannya yang menerpa dinding-dinding gedung.

            Berbeda dengan Kota, di desa orang-orang lebih merasakan warna dunia yang jauh dari jalanan sesak oleh polusi-polusi yang mengepul dari knalpot kendaraan. Setiap sore orang-orang bisa melihat dan menyaksikan senja secara utuh yang cahayanya menembus celah-celah daun dan pepohonan yang lebat serta padat. Anak kecil sampai yang dewasa merasakan cahaya keemasan yang memancar dari barat. Di desa orang-orang lebih peduli dengan setiap hal yang di kota tidak diperhatikan, seperti burung terbang yang sedang pulang ke sarangnya sore hari.
                                                                        ***
            Sore ini aku duduk di wajah pintu ruang depan yang menghadap ke teras. Kulihat halaman, hujan sepenuhnya mengaliri tanah-tanah, selokan, dengan sesekali percikannya jatuh di langkan dan hampir sepenuhnya basah oleh terpaan angin  pada hujan. Aku tersenyum dan merenung; betapa bahagianya orang kampung halamanku hari ini. Kurasakan hujan mengaliri halaman luas yang sebelumnya berdebu, serta sawah rerumputan yang menari gembira, meski kenyataannya gerak itu ditimbulkan oleh hujan itu sendiri. Apalah peduli rumput dari mana  gerak itu berasal, yang pasti tanaman pada tiap-tiap petak tanah petani dialiri dan dijatuhi air menyeluruh.

            Aku masih tetap berada di muka pintu yang terbuka itu seraya dalam hati berkata; hujan terbuat dari tawa riang petani di alam khayal diriku sendiri.

Yogyakarta, 2018
Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di: Minggu Pagi, Kabar Madura, Koran  Dinamikanews, Nusantaranews,  Radar Cirebon, Radar Banyuwangi, Tanjungpinangpos, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Flores Sastra, Apajake.id, Buletin kompak, Jejak publisher, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya :Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi, 2016), Kelulus (Persi, 2017), The First Drop Of Rain, (Banjarbaru, 2017), Bulu Waktu(Sastra Reboan) dan Suluk Santri, 100 Penyair Islam Nusantara (Hari Santri Nasional, Yogyakarta, 2018) Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra