Sabtu, 02 Maret 2019

,

Pasar Hanyalah Simbol





Setidaknya ada dua hadist yang diriwayatkan oleh Muslim secara gamblang mengatakan bahwa tempat yang paling dibenci oleh Tuhan adalah pasar. Dan yang paling terkenal, hadist riwayat Al-Albani, dikatakan bahwa tempat paling baik adalah masjid, sedangkan pasar adalah seburuk-buruk tempat (Shahih Al-Jami’ 3271). Lalu, bukankah dalam institusi atau lembaga apapun tidak jauh beda bahkan lebih buruk dari pasar?

*
Ketika sedang suntuk dan butuh pelarian tidak jarang saya memilih pasar. Misalnya, ketika tidak mampu menelan omong kosong guyonan dari politisi di negara kita, saya ke pasar untuk minum kopi. Biasanya, saya berangkat sendiri mulai jam 3 pagi dan kembali pulang ketika sudah ingin pulang, tidak tentu kapan itu. 

Pasar baru Tuban, Jawa Timur adalah tempat yang selalu jadi rujukan untuk pelarian. Selain banyak saya jumpai kopi enak di sana, orang-orang di pasar memiliki tema pembicaraan lebih empiris dan menyenangkan untuk didengar. Tidak pernah sekalipun saya dengar pembicaraan yang menuntut revolusioner dan perubahan imajiner belaka. Paling sering saya dengar adalah istri tetangga atau masalah receh yang lumrah terjadi di desa. Tema itu justru lebih rasional daripada membicarakan konflik yang memang sengaja diciptakan oleh segelintir elit politik kita.

Pernah suatu ketika sedang menikmati kopi di pasar bersama pendatang dari Medan, saya teringat dengan petuah dari guru saya bahwa pasar adalah tempat paling kotor dan dibenci oleh Tuhan. Ah, apa iya?
*
Setidaknya ada dua hadist diriwayatkan oleh Muslim yang secara gamblang mengatakan bahwa tempat yang paling dibenci oleh Tuhan adalah pasar. Dan yang paling terkenal, hadist riwayat Al-Albani, yang mengatakan tempat paling baik adalah masjid, sedangkan pasar adalah seburuk-buruk tempat (Shahih Al-Jami’ 3271). Lalu, bukankah dalam institusi atau lembaga apapun tidak jauh beda bahkan lebih buruk dari pasar?

Sebelum saya memikirkan lebih jauh, karena memang ada penolakan dari dalam diri terhadap hadist tersebut. Saya teringat dengan sesi akhir pertemuan antara Musa dengan Khidir, ketika mereka berdua harus resmi berpisah saat Musa tidak bisa menyanggupi kesepakatan yang telah dibuat.

Alkisah, Musa bertanya untuk ketiga kalinya yang terpaksa Khidir menyudahi perjalanan mereka berdua. Karena terus ada ketidaksetujuan Musa atas yang dilakukan oleh Khidir, akhirnya, Khidir hanya mengatakan perbedaan mereka berdua. Khidir mengatakan bahwa apa yang dilakukannya dengan kesadaran, sedangkan Musa tidak. Hal itu membuat Musa terhenyak. Terlebih ketika Khidir memberikan kesamaan contoh yang dilakukan dengan apa yang dilakukan Musa. Seperti: ketika Musa memukul orang sampai meninggal dunia.

Nah, kekhawatiran saya, mungkin, kita masih memegang hadist tentang pasar adalah tempat paling kotor, sedangkan sebenarnya kita sehari-hari hidup dalam pasar. Misalnya, entah itu dunia pendidikan atau bahkan dalam suatu majelis keagamaan. 

Jika sampai sini, mendengar kata majelis keagamaan bisa jadi seperti pasar dan anda langsung menelan mentahnya, maka jangan salahkan orang ketika anda mendapatkan gelar sumbu pendek dan kolot dalam beragama. 

Pasar hanya simbol pertemuan antara pedangang dan pembeli. Juga; pemusatan tempat orang saling membutuhkan antara produsen dengan konsumen. Tidak ada unsur pemaksaan di dalamnya, kedua belah pihak harus saling menyetujui satu hal sebelum terjadi kesepakatan. Misalnya, konsumen pergi ke pasar untuk membeli jagung, di lain sisi ada produsen yang mempunyai jagung, sebelum terjadi kesepakatan mereka berdua telah sepakat untuk urusan jagung. 

Lalu, bagaimana misalnya dalam dunia pendidikan? Saya rasa tidak. Banyak hal yang tidak bisa kita ketahui walaupun sudah resmi menjadi bagian dari dunia pendidikan. Misalnya, baik antara pedagang dengan pembeli saling tahu bagaimana kondisi jagung tersebut. Sedangkan belum tentu kita mengetahui kebijakan dan kualitas produk yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tempat menimba ilmu. 

Katakanlah institusi pendidikan tersebut di ranah universitas, yang seharusnya ladang bagi mahasiswa mencari ilmu, namun tak jarang kebijakan dalam kampus seperti ladang bisnis. Seharusnya, universitas adalah jalan yang ditawarkan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, malah semakin jauh orientasinya adalah perut, perut, perut, baru kemudian   kualitas mahasiswanya. Memang bukan salah Jokowi universitasnya, tapi siapa oknum yang ada di dalamnya. 

Lain cerita lagi dengan majelis keagamaan yang saya singgung di atas. Jika majelis itu orientasinya adalah jalan bagi siapa saja di dalam majelis tersebut untuk kembali kepada Tuhannya, maka yang disampaikan adalah pengingat dan pengingat. Bukan membicarakan perpolitikan, apalagi mengagungkan satu orang dengan mencela yang lain. Sehat?
*
Ah, saya rasa tidak juga. Saya banyak menjumpai orang baik di pasar. Saya banyak menemukan cerita-cerita yang membantu kita untuk menghargai arti sebuah kehidupan, perjuangan dan rasa syukur. 

Di pasar, orang tidak gengsi walau dia hanya harus mengangkat es batu atau berjualan seadanya dan semampunya. Banyak dari mereka yang tidak terlalu mempertimbangkan persaingan, walaupun banyak pedagang yang jualannya sama. Karena mereka sadar, jualan boleh sama, rizki adalah bagianNya. 

Seperti Siti Fatimah, perempuan berumur 64 tahun jualan sayur untuk pedagang bakso dan soto. Lebih dari setengah umurnya telah ia habiskan untuk berjualan di pasar. Dari jualannya di pasar, ia mampu menghidupi keempat anaknya.

Sampai sekarang dia masih berjualan di pasar. Siti Fatimah tidak pernah mengeluhkan berapapun hasilnya berjualan. Untung – rugi, sedikit – banyak yang dia dapat sudah ada yang mengaturnya. Terpenting ketika jualan tidak berbohong dan curang saja. 

Cobalah sesekali ke pasar, banyak kok ibu-ibu muda yang berjualan di sana. Mereka lebih mulia daripada mereka yang melacurkan diri. Cobalah sesekali minum kopi di pasar, daripada kamu semakin goblok dan jahat membicarakan siapa capres dan calegmu kelak. Hehehe~ (Brdz)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra