Minggu, 14 Oktober 2018

,

Mengubur Sepi


Tak Ada Gunanya
Mataku memandang dalam kaca
menyaksikan diri menghitung batu kerikil
yang jujur, tak ada gunanya.
Sesekali kuteriak pada diri sendiri.
Memang, aku seperti tak ada guna!


Siapa Yang Mau Sepi?
Bilamana aku masih terlelap di umur yang 25.
Sedang bangun-bangun
disampingku hanya ada kucing.
Dan lampu kamar meredup seperti kehabisan tenaga.
Juga jendela enggan menyambut, apalagi
kekasih, apalagi kekasih.

Di depan kaca aku hanya ingin menari.
Seperti pucuk kembang jambu di dekat bagasi.
Aku tawarkan,
siapa yang mau sepi.
Siapa yang mau sepi?
Mari kesini, kuajari ciptakan sepi yang baik


Orang Jauh
Aku tak ingin seperti ini. Ketika orang jauh bahkan yang sangat jauh menyakiti kita, menyakiti diri ini dari kejauhan. Seperti sebuah pistol menangkap dan mengancam mata-mata burung, padahal ia sedang ingin sekali bahagia dengan mematuk-matuk kepala kekasihnya.
*
Padahal aku selalu percaya, kita hidup ada di pohon paling teduh, tak ada kesakitan juga keraguan yang menggelatung seperti awan yang pucat. Atau kesakitan juga tiba-tiba menyerang seperti nyamuk yang sedang kelaparan
*
Tapi  percaya tidak percaya, akan ada banyak orang, orang jauh bahkan, yang  begitu mudah menciptakan kesakitan-kesakitan yang menggumpal. Ingin sekali aku menggulung kesakitan itu seperti aku menghilangkan tikar dalam datar. Tapi percuma saja, mereka berbekal peluru penembus bahagia.


Pohon Pura-Pura
Yang mengakar sampai kerak adalah pohon kepura-puraanmu.
Padahal hari ini
aku tidak ingin menjelma menjadi penebang pohon yang serakah.

Aku tetap ingin pohon itu terus tumbuh
juga membiarkan.
Tetapi, bukan untuk menunggu
sampai gugurnya daun pura-pura.

Tapi aku menunggunya, sampai
pusaran menumbangkan kukuhnya.


Mengubur Sepi
Sepiku telah kukubur, kasih
di sebelah mesin kenangan yang
kuletakkan di belakang rumah.
Ya, mesin telah berkarat

saban hari sebab tak ada yang mau merawat


Yulia Rahmatika (Mahasiswa Pendidikan IPA UTM)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra