Selasa, 18 September 2018

,

Tanggapan Pihak Universitas Terkait HTI di UTM

 Komunitas mahasiswa disinyalir HTI sedang berfoto di area taman kampus UTM

WKUTM - Beredarnya foto beberapa mahasiswi dengan bendera yang disinyalir sebagai bendera bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ramai menjadi bahan pembicaraan, khususnya di kalangan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Beberapa mahasiswi yang ada di dalam foto tersebut teridentifikasi berasal dari Fakultas Pertanian dan Keislaman.

Terkait hal itu Pembantu Dekan III Fakultas Keislaman (Fkis), Abdur Rohman membenarkan kalau anak didiknya merupakan salah satu mahasiswi yang ada di foto itu. Menurut Rohman, pihaknya sudah meminta mahasiswi FKis yang terlibat memberi penjelasan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan.

”Kita sudah mengetahui siapa saja yang terlibat dan kita sudah memintanya untuk menghadap kita sembari menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Kita memberikan sistem kekeluargaan,” ungkapnya.

Senada dengan Abdur Rohman, Pembantu Dekan III Fakultas Pertanian (FP), Ahmad Farid juga membenarkan terkait beberapa mahasiswi FP yang ada di foto itu. Namun dirinya  membantah foto tersebut sebagai bagian dari HTI. Menurutnya, bendera yang dibentangkan di foto hanya mirip dengan bendera HTI.

”Di bendera HTI itu ada tulisan kecil dibawah Hizbut Tahrir Indonesia sedang ini tidak,” jelasnya.

Sedang menurut salah satu mahasiswi yang  tidak mau disebutkan namanya, menuturkan bahwa yang ada di dalam foto itu memang bagian dari HTI yang tergabung dalam satu komunitas baru. Hal ini dilakukan karena secara resmi HTI sudah dibubarkan oleh negara.

”Mereka adalah bagian dari HTI. Karena setiap kampus membubarkan HTI, maka mereka membuat komunitas sendiri, Forum Muslimah Cerdas (FORMUDA) namanya.  Dan akan berbeda (namanya, red) pada setiap kampus yang ada,” Ungkap mahasiswi yang juga mengikuti kajian Formuda tersebut.

Selain itu dia juga mengungkapkan bahwa komunitas itu tumbuh di Fakultas Pertanian karena adanya salah satu dosen yang membimbing dan biasa  mengisi materi ketika kajian bersama istrinya. Namun dia berani menjamin selama mengikuti kajian, forum tidak pernah membahas tentang khilafah dan makar.

Memang kebanyakan tumbuh di FP, karena ada dosennya disana. Yang mengisi kajiannya pun dari dosen dan istri dosen, namun mereka tidak pernah membahas  makar atau khilafah yang notabene dicap kepada mereka,” tambahnya.

Menyikapi hal tersebut ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa, Halimi menuturkan perihal masalah ini masih ditindak lanjuti untuk pemanggilan ke mahasiswi yang bersangkutan, yang dipasrahkan kepada Pembantu Dekan III masing-masing. Selanjutanya, hal tersebut akan dikaji dan dipertimbangkan kembali untuk pemberian sangsi.

Di sisi  lain, pihak rektorat sudah melakukan rapat di Ruang Rapat 401 Gedung Graha Utama terkait masalah ini. Namun, sampai sekarang belum ada keterangan resmi dari pihak rektorat terkait hasil rapat terbatas yang dilaksanakan pada pukul 10.00 WIB (18/9) itu. (Vir/Sir) 

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra