Minggu, 22 Juli 2018

Milk and Honey






Pengarang : Rupi Kaur
Judul asli: Milk and Honey
Penerjemah : Daniel Kurnia
Genre : Puisi
Penerbit : Bahasa Indonesia : PT.Gramedia
Halaman : 208hlm
Cetakan pertama, Mei 2018

Buku Susu dan Madu merupakan buku  dengan banyak peminat yang masuk dalam kategori New York Times Best Seller. Kumpulan puisi tentang cinta, kehilangan, trauma, pelecehan, pemulihan, dan menjadi perempuan ini  terbagi menjadi empat bagian. Antara lain luka, cinta, kehancuran, dan hari baru. Pada halaman pertama, buku ini dibuka dengan sebuah puisi :

mengapa sungguh mudah bagimu
bermurah hati dengan orang asing tanyanya

madu dan susu pun menitik
dari bibirku ketika aku menjawabnya

karena selama ini orang-orang
tega padaku -hlm11

Serpihan puisi kategori luka, menggambarkan curahan dari perasaan perempuan terhadap ketakutan serta kebencian. Salah satunya terkait pelecehan maupun pemerkosaan, di mana dua hal tersebut mampu mengkoyak-koyak jiwa gadis yang merasa hampa. Disebutkan bahwa, dalam seks keduanya harus setuju. kalau salah satunya diam saja ... itu pemerkosaan -hlm. 22.

Namun, kita dihadapkan pada kenaifan dan paradoks ketika bicara mengenai persetubuhan dengan posisi suka sama suka. Oleh karena itu, penulis mengkritik perempuan yang begitu mudah bercinta dengan tiap-tiap pasangan yang dicintainya. Sehingga dalam sebuah penggalan puisi tertulis, kau telah diajari bahwa kedua tungkaimu merupakan perhentian singkat bagi para lelaki.....meski tiada satu pun yang datang dan berniat menetap -hlm13.

Ketika hal seperti itu sudah terjadi. Buku ini juga menyorot peran seorang ayah yang mestinya memberi perhatian lebih terhadap anak gadisnya. anak gadis mestinya tak perlu mengemis perhatian dari ayahnya -hlm28. tiap kali kau nasihati putrimu, kau meneriakinya karena sayang. kau ajari putrimu bahwa marah tandanya sayang, yang sekilas kedengarannya masuk akal. hingga kelak ia dewasa, percaya pada lelaki yang melukainya. karena mereka begitu mirip denganmu. -kepada para bapak berputri -hlm19.

Maksud dari puisi-puisi tersebut merupakan harapan penulis agar para ayah tahu bahwa anak perempuannya membutuhkan kasih sayang tanpa harus meminta. Dengan itu diharapkan anak perempuan dapat terhindar dari tangan-tangan yang salah.

Adapun setelah membahas tentang luka, penulis masih percaya dengan cinta. Kategori ini dibuka dengan puisi cinta dari seorang ibu. kemudian dilanjutkan dengan puisi bagaimana seharusnya sebuah bentuk dari cinta dan bagaimana cinta melebur menjadi suatu cumbuan yang dikatakan bercinta. Puisi ini masih percaya akan hal-hal yang berbau cinta murni

cinta akan datang. dan ketika cinta datang. cinta akan memapahmu. cinta akan memanggil namamu. dan kau akan luluh. meskipun kadang cinta melukaimu. cinta tak bermaksud begitu. cinta takkan menipumu. karena cinta tahu hidupmu
sudah cukup berat

Setelah disajikan tentang cinta, maka kita dihadapkan dengan akibat dari cinta itu sendiri, yakni  kehancuran. Pada bab kehancuran, kita akan melihat puisi yang berisi tamparan tentang harapan dan cinta yang berujung penyesalan. Hancur karena kepergian, kehilangan, patah hati, semuanya tertulis dengan indah dalam puisi-puisi pendek, maupun panjang. Di akhir, penyair menulis , cara mereka pergi menjelaskan segalanya -hlm.143

Namun pembaca  tak dibiarkan begitu saja setelah itu. Pasca kesakitan, kita dihadapkan dengan puisi kebangkitan di hari baru. Penulis menjelaskan tentang kodrat, rasa syukur, keikhlasan, dan bagaimana memulai hal-hal yang sebenarnya lebih dari pantas untuk seorang pembaca dapatkan. Di bab ini, pembaca akan mengalami perenungan di setiap kalimat, seperti, terima dirimu sebagaimana kau diciptakan -hlm.172 atau, enyahkan rambut dan tubuhmu, kalau memang itu maumu. biarkan pula ia tumbuh lebat kalau memang itu maumu -tubuhmu milikmu -hlm.176.

Berbicara tentang buku Susu dan Madu ini, kita akan menemukan semua tulisan yang tidak menggunakan huruf besar. Rupi Kaur beranggapan kalau hal itu merupakan gambaran dari kesetaraan antar kata dan huruf. Buku ini juga mengarah ke hal-hal feminis yang mendobrak mindset dimana wanita digambarkan tidak pernah merasa puas, rapuh dan mudah hancur. Puisi ini mencoba membuka pikiran, hati, serta membuat wanita sadar atas keberhagaannya di era sekarang (dimana wanita masih dianggap tak tahu harus melakukan apa).

Pada dasarnya, feminisme telah mencoba mebdobrak dunia. Namun untuk hal-hal rasa insecurity masih melekat pada jiwa wanita yang meyakini keburukan dan kekurangan. Akhirnya ia beranggapan bahwa seorang wanita benar-benar lemah dan tak sekuat apa yang lebih bisa dilakukannya.

Bukan hanya tentang itu, buku ini juga ingin membantu jiwa wanita yang terkoyak dan menjadi rapuh karena pelecehan maupun pemerkosaan. Oleh karenanya, banyak tertulis puisi tentang dukungan-dukungan untuk para wanita agar mereka lebih tangguh dan kuat dan saling mendukung satu sama lain. kita semua bergerak maju, kalau kita akui betapa tangguh dan berani para perempuan di sekitar kita –hlm. 191.

Buku ini begitu mudah dipahami ditambah dengan ilustrasi gambar dari penulis sendiri. Dengan tatanan bahasa sederhana yang tak berbelit, puisi ini menghindarkan kita dari kebosanan. Hanya saja, buku ini tak bisa dinikmati untuk semua kalangan karena dikhususkan untuk pembaca usia 17 tahun ke atas. Sebab dalam buku ini terkandung makna-makna dewasa tentang percintaan dan seks  yang masih dianggap tabu untuk anak-anak. di sisi lain, buku ini sangat membantu para remaja sebagai sex education dan langkah masif untuk mencegah kekerasan seksual.

Bisa dibilang,  buku ini benar-benar membantu menyadari kegilaan yang telah dibuat manusia dan banyak membantu kita, terutama wanita untuk lebih menghargai diri, dan memaknai hidup.


Diresensi oleh : Bena Icha
Anggota Mangang LPM-SM

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra