Kamis, 14 Juni 2018

Hakikat dari Ramadan dan Hari Raya




Ramadan dengan segala kulturalnya telah usai, syawal dengan kejutan setiap tahunya telah menanti. Dengan ini tidak perlu susah-susah (lebay – overacting) membuat status untaian kata di media sosial, seperti: ”Ramadan telah usai, semoga kita dipertemukan tahun depan,” atau ”Akan kurindukan engkau (ramadan) pada tahun-tahun berikutnya.” Sungguh! Anda tidak perlu melakukannya. Namun, sebelumnya ucapan selamat yang besar untuk anda semua yang masih hidup dan bisa membaca tulisan ini. Juga; selamat buat anda yang masih berkumpul keluarga dengan cara pribadi yang belum dilakukan oleh keluarga lain. Selain itu, anda sah untuk berterima kasih yang banyak kepada pemberi hidup karena masih dikumpulkannya insan-insan dalam satu ruangan, karena tidak semua orang merasakan hal yang sama.

Ramadan tahun ini telah usai. Dulu, orang tua sering bilang, ”Jika tidak ikut puasa, maka tidak layak ikut hari raya.” Jika ditelan dengan bantuan air agar cepat ditelan, maka omongan itu biasa saja. Namun, sesungguhnya kalimat sederhana itu adalah representasi dari fase yang luar biasa dan rumit yang disederhanakan.

Sebulan lalu kita (mungkin) menggencarkan peribadatan, karena memang kalkulasi pahala sampai 70 kali lipat. Belum lagi dengan bonus malam kemuliaan yang konon lebih baik dari seribu bulan. Tidak hanya orang taat yang menambah kuantitas ibadah mereka, bahkan banyak pelacurpun yang berlomba-lomba berinvestasi untuk hari pembalasan kelak. Ya, sah-sah saja sebenarnya. Jika kita pakai kalkulator untuk menghitung, maka hasilnya cukup untuk setahun. Namun, kalkulator Tuhan tidak sesederhana matematika di bangku perkuliahan. Jadi, kita tidak bisa dengan mudah menghitung investasi pahala untuk menebus kehidupan layak di hari yang abadi.

Sebenarnya adakah yang salah?

Tidak. Selama ini kultur semacam ini terus berjalan. Namun, sangat disayangkan jika masih dari kita tidak mengerti hal-hal sederhana di sekitar kita. Malah, sering kita ribut dengan yang rumit, sampai kita lupa dengan kesederhanaan. Masih banyak dari kita mengambil pesan di balik ramadan, hari raya khususnya. Padahal, banyak pesan terkandung pada dua fase tersebut.

Tentang puasa sebenarnya adalah sebuah jalan. Jalan menuju ke surga. Surga yang bertuliskan tidak menerima orang yang sombong dan pelit pada pintu masuknya. Puasa adalah salah satu cara kita mengontrol hawa nafsu pada tingkat dasar, makan-minum. Namun, tidak hanya itu yang perlu dikontrol, melainkan hawa nafsu dan amarah adalah faktor utama. Bukan bermaksud untuk menghilangkan sifat kodrat pada manusia, hanya mengontrolnya. Sampai Imam Ghazali memetakan 3 jenis berpuasa yaitu; puasa hewan, manusia, dan malaikat. Jika hewan berpuasa cukup waktu sahur kasih makan dan setelah itu cukup tempatkan pada kandang. Jika hewan itu punya pasangan, pisahkan pada kandang lain. Satukan dan beri makan ketika sudah maghrib. Pasti bisa, kok. Pasti nanti hewan itu cuma tiduran saja. Sedang untuk puasa malaikat ataupun hewan pembeda hanya pada akal yang dimiliki manusia dan hilangnya hawa nafsu pada malaikat. Katanya, sih, gitu.

Lalu, pasti akan ada pertanyaan, ”Berarti boleh kita tidak berpuasa kalau sudah tidak sombong?” Ya, boleh saja. Namun, tidak bisa kita menafikan manusia tempatnya salah dan lupa. Jadi, kesimpulannya tidak boleh.

Syahdan, tentang hari raya. Pelajaran berharga yang bisa kita ambil adalah manusia yang berpuasa akan menemui hari raya. Pelajaran ini seperti yang dikatakan oleh orang pada awal pembahasan tadi. Jika kita membuka literasi (googling) maka kita akan  menemukan banyak tafsiran bahwa hari raya adalah hari berbuka, fitri, kembali, dan lain-lain. Walaupun seperti itu, hari raya tidak hanya pada Islam. Namun, masih banyak hari raya yang diamini oleh umat selain Islam. Dalam suatu riwayat pernah Muhammad berkata kepada Abu Bakar, ”Wahai Abu Bakar, sesungguhnya bagi setiap kaum ada hari rayanya dan ini adalah hari raya kita.” Dalam sejarahnya, sebelum hari raya Idul Fitri ataupun Adha, ada hari raya Nairuz dan Mahrajan sejak zaman Persia kuno.

Sebenarnya, boleh kita mengartikan apa saja tentang hari raya. Yang jelas harus ada fase untuk menuju kepadanya. Lebih baik lagi kita memetik pelajaran berharga karena berhasil atas suatu proses. Ya, masih seperti kata orang tua tadi. Ibaratkan hari raya adalah sebuah hadiah, maka puasa pada bulan ramadhan sebagai syaratnya. Lalu, jika hari raya adalah syaratnya, maka hadiahnya perlu kita pikirkan bersama. Karena hari raya bukanlah ujung dari peribadatan kita selama ini. Sehingga, hal dasar kita bisa nimbrung di hari raya, sebenarnya tidak layak jika puasa kita selama ini masih bolong-bolong tanpa alasan yang jelas. Atau seperti ini, bolehkah orang mendapatkan hasil tanpa adanya usaha? Tidak.

Lalu, bagaimana dengan orang menemui hari raya sedang tidak berpuasa? Itu sudah urusan sang pencipta. Bisa saja Tuhan memberikan nikmat  menemui hari raya, tapi nikmat hidup semata, ya hanya nikmat hidup. Nilai yang terkandung dalam hidup dan hari raya beda cerita. Toh, banyak orang yang bisa apa saja tapi tidak merasakan yang terjadi padanya.

Terakhir, mengutip orang-orang dulu, jika setelah ramadan ini peribadahan kita secara horizontal atau vertikal semakin baik dari sebelumnya, maka boleh dikatakan orang yang berhasil. Dan inilah tantangan sebenarnya buat kita. Karena memang semua kembali pada diri masing-masing. Bahkan, pada perang yang besar Muhammad pernah bilang, ”Kita pulang dari perang kecil dan menuju perang yang lebih besar,” perang Badar. Jika perang besar sekelas Badar dikatakan perang kecil oleh suri tauladan dan orang nomor satu paling berpengaruh di dunia, maka hanya untuk menahan makan-minum, tugas kuliah, urusan perasaan, pekerjaan, dan lainnya itu urusan apa? 


Oleh: Birar Z
Anggota LPM-SM


0 komentar:

Posting Komentar

Sastra