Senin, 21 Mei 2018

CIVITAS AKADEMIKA UTM IKUTI UPACARA HARI KEBANGKITAN NASIONAL




WKUTM – segenap civitas akademika Universitas Trunojoyo Madura (UTM) mengikuti upacara Hari Kebangkitan Nasional ke-10 pada (21/05) yang diselenggarakan di depan gedung Graha Utama. Upacara yang di mulai pukul 08.00 ini dipimpin langsung oleh rektor UTM, Muhammad Syarif.

Pengibaran bendera merah putih dengan menyayikan lagu Indonesia Raya sebagai tanda dimulainya upacara dan lagu Satu Nusa Satu Bangsa, serta Bagimu Negeri oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Golden sebagai tanda berakhirnya upacara.

Pada kesempatan kali ini, Rektor UTM membacakan naskah pidato dari Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Pidato yang berisikan tentang sejarah serta bukti dari semangat dan komitmen. Pihaknya juga menyampaikan tentang semangat nasionalisme yang menjadi obor kemerdekaan.

"Bersatu, adalah kata kunci ketika ingin menggapai cita-cita yang sangat mulia. Namun pada saat yang sama tantangan yang maha kuat menghadang di depan. Boedi Oetomo memberi contoh bagaimana dengan berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal promordial akhirnya bisa mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan," Jelasnya.

Pihaknya juga menambahkan dengan menghimbau agar memaknai upacara kali ini sesuai porsi dan peran masing-masing, terutama generasi muda yang menanggung beban kejayaan di masa mendatang.

"Mari maknai peringatan tahun ini di lingkungan kita masing-masing, sesuai lingkup tugas kita masing-masing, untuk semaksimal mungkin memfasilitasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama generasi muda, yang akan membawa kepada kejayaan bangsa di tahun-tahun mendatang." Tambahnya.

Acara berjalan dengan baik, hanya ada beberapa kendala ringan yakni edaran untuk mengikuti upacara dan memakai atribut yang dinilai terlalu mendadak dan anjuran memakai atribut yang ditentukan. Seperti kata salah satu Pustakawan UTM, Lilik Soeprihatin, pihaknya menilai memang edaran terlalu mendadak.

"Upacara hari ini memang banyak peserta yang tidak menggunakan Korpri untuk mengikuti berjalannya upacara. Pemberitahuannya juga saya rasa mendadak. Diantara H-3 atau H-2," ungkapnya.

Kejadian ini sedikit disesalkan oleh Protokoler upacara, Setya, karena himbauan untuk para pegawai menggunakan seragam korpri lengkap.

"Semua peserta sudah dihimbau untuk menggunakan Korpri karena dari Dikti sendiri menganjurkan hal tersebut. Namun,masih ada beberapa yang tidak menggunakan Korpri. Setidaknya kami telah memberitau perihal ketentuan tersebut. Jika dirasa masih ada yang tidak menggunakan saya rasa mereka akan malu. Atau paling tidak jiwa nasionalisme-nya perlu ditanyakan kembali,” tegasnya.

Menurut mahasiswa Pendidikan Informatika tersebut, meskipun upacara dilakukan di bulan puasa ia berharap agar tetap berjalan kedepannya, dan agar lebih tepat waktu.

"Saya ingin kedepannya para peserta disiplin waktu. Karena saya melihat bahwa acara ini banyak mengulur waktu sehingga tidak berjalan sebagaimana waktu seharusnya,” pungkas anggota Resimen Mahasiswa Sakera. (Yah/Tim)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra