Minggu, 18 Maret 2018

The Arabian Nights: Naskah Suriah


Judul Buku     : The Arabian Nights
Penulis : Husain Haddawi
Penyunting : Muhsin Mahdi
Terbit pertama : New York, 1990
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : Qanita, Cet. 2016


Tidak ada penulis yang akan bebas dari kematian
Tetapi apa yang ditulis tangannya akan disimpan masa
Maka jangan menulis apapun di atas kertas, kecuali
Apa yang kau inginkan terbaca di Hari Kiamat

Dikisahkan hiduplah dua raja bersaudara yang memerintah di kerajaan yang berbeda. Raja yang tua bernama Syahrazar, sedangkan adiknya bernama Syahzaman. Suatu waktu, Syahrazar merindukan adiknya, sehingga mengutus wazirnya untuk mengundang Syahzaman mendatangi kerajaannya. Mendengar kedatangan wazir dari kerajaan kakaknya, Raja Sayahzaman mendirikan kemah di luar istana untuk menjamu wazir itu. Setelah bertemu, wazir kerajaan Raja Syahrazar mengutarakan maksud kedatangannya.

Dengan diterimanya undangan itu, Syahzaman pada malam hari sebelum pemberangkatan menyempatkan menuju istana untuk ber-pamitan pada istrinya. Namun, dilihatnya sang istri justru sedang tidur dengan juru masak istana. Melihat kejadian itu, Syahzaman naik pi-tam. Ia segera menghunuskan pedang pada istri sekaligus juru masak, dan membuang jasad keduanya ke parit di luar istana. Rasa sakit hati akibat kejadian membuatnya bergegas berangkat menuju kerajaan Syahrazar.

Sesampainya di istana, Raja Syahrazar segera berajak menerima mereka dan menuguhi Syahzaman dengan penuh kemewahan. Namun, Syahzaman selalu teringat apa yang telah terjadi sebelumnya. Dalam kesedihannya, dia kehilangan selera makan, bertambah pucat, dan kesehatannya terganggu.

Syahrazar bingung dan berpikir menyiapkan hadiah yang mendatangkan kebaikan dan menyuruhnya pulang. Sebulan penuh ia siap-kan hadiah untuk adiknya dan berniat mengajak berburu untuk beberapa hari. Namun, Syahzaman dengan lembut dan menolak, sehingga Syahrazar menganggap adiknya sudah begitu merindukan kerajaannya. Karena tidak ingin memaksa, akhirnya Syahrazar bersama semua pengawal istana menuju hutan untuk berburu.

Syahzaman kini tinggal sendiri dalam sebuah kamar di istana. Sesaat kemudian dia melihat istri kakaknya berjalan bersama dua pu-luh gadis budak. Namun dari dua puluh gadis budak tersebut, setengah darinya adalah budak laki-laki yang menyamar. Mengira semua laki-laki istana sedang berburu, istri Syahrazar memanggil seorang budak yang bersembunyi dan melakukan perzinaan beserta para bu-daknya.

Melihat kejadian tersebut, Syahzaman merasa sebagai bukan satu-satunya orang yang sudah dihianati seorang yang ia cintai. Meski kakaknya adalah penguasa dunia, ternyata tak mampu untuk menjaga hartanya sendiri. Kesedihannya pun hilang, tetapi ia tidak secara langsung mengungkapkan kejadian itu pada kakaknya. Mendengar hal tersebut, Syahrazar ingin membuktikan dengan pergi berburu dan kembali ke istana sesaat guna memastikan keberadaan istrinya. Dilihatlah kejadian yang sama seperti yang diceritakan Syahzaman sebelumnya.

Dengan semua yang telah terjadi, Syahrazar mengumpulkan pejabat istana. Ia meminta wazirnya untuk memanggil istrinya. Syahra-zar mengacungkan pedang membunuh istri beserta para budak yang telah berkhianat dan menggatinya dengan yang lain. Kemudian dia bersumpah menikah hanya untuk semalam dan membunuh istrinya di pagi hari.

Kisah-kisah ini adalah kisah yang aneh dan mengagumkan, yang, jika dapat dilukiskan akan menjadi suatu pelajaran bagi mereka yang mencari kearifan.

 Kisah 1001 Malam mengisahkan Raja Syahrazar dan istri terakhirna yang bernama Syahrazad. Kisah-kisah yang ada mencoba menceritakan kehidupan manusia dan keberadaan hal-hal supranatural. Semua cerita tentang hal supranatural dibubah menjadi hal natural sehingga sepertinya nyata adanya. Manusia hidup berdampingan dengan jin, bersahabat, juga bertarung dalam bentuk sihir serupa bentuk hewan atau api. Di tengah kisah dipadukan dengan syair, puisi, dan sitiran lain yang menjadi ciri khas kehidupan sastra zaman kerajaan Timur Tengah.

Banyak penulis yang telah menuliskan kisah-kisah tentang 1001 Malam. Namun, banyaknya karya yang ada adalah hasil modifikasi penulis juga tambahan untuk melengkapi naskah. Selain menggenapkan nasah sesuai sebutan cerita, banyak penulis menrubah kisah-kisah yang ada hingga membedakan versi satu dengan lainnya.

Buku ini mencoba menyesuaikan penulisan kisah berdasar pada naskah yang ada di Suriah. Terjemahan mengikuti apa yang dituliskan dalam naskah, sehingga gaya sastra selayaknya zaman tersebut. Dengan demikian, bila diterjemahkan syair yang ada akan berbeda sajak meski diusahakan pada makna yang sama. 

Diresensi oleh : Tri Samsudin Marjuki
Anggota UKM-FH Voice of Law

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra