Senin, 12 Maret 2018

Kuliah Umum Islam Nusantara, BEM datangkan Ketua PBNU


Sulton Fathoni ketika menyampaikan kuliah umum di Gedung Auditorium UTM. Foto : Ardi

WKUTM – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) kabinet Gajah Mada menyelengarakan kuliah umum dengan nuansa Islam Nusantara (12/03) di gedung auditorium Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Acara yang dimulai pukul 08.30 sampai 12.30 ini mengusung tema ”Menjunjung Tinggi Asa Menuju Negeri Nusantara.”


Acara yang diikuti oleh sekitar 200 mahasiswa dan delegasi mahasiswa se-kabupaten Bangkalan ini mengundang ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),  Muhammad Sulton Fatoni sebagai pemateri. Beliau merupakan Pembantu Rektor Universitas Islam Jakarta sekaligus pengarang Buku Pintar Islam Nusantara.


Perbincangan isu Islam phobia dan keributan yang timbul dengan dalih beragama menjadi latar belakang BEM mengadakan acara kali ini. ”Kami melihat akhir-akhir ini bangsa Indonesia dihadapkan dengan kegaduhan yang tidak semestinya memakai topeng agama terutama dalam kehidupan sosial dan politik,” tutur ketua pelaksana M. Rosyid.


Selain itu, menurutnya masih terjadi kesalahpahaman tentang pengertian beragama bagi beberapa kelompok. Seperti paham tentang Islam radikal yang harus membunuh dan sebagainya. Padahal, menurut mahasiswa prodi Hukum Bisnis Syari’ah (HBS) tersebut agama adalah penyelamat bagi setiap pemeluknya.


”Agama adalah penyelamat, penolong, bukan membunuh, pemarah,  dan penindasan. Nah, itulah yang harus dipahami masyarakat khususnya para peserta,” tutur Mahasiswa semester delapan tersebut.


Adanya kuliah tamu kali ini,  diharapkan menjadi sarana keselarasan pemahaman tentang esensi beragama agar dapat bertoleransi. Selain itu agar hilangnya dalih beragama radikal yang menjadi sebab perpecahan bangsa.


”Mengharap kesadaran, toleransi agar terhindar dari stigma bangsa anti teror yang mengatasnamakan agama,” Pungkas Mahasiswa asal Sumenep tersebut.


Pada sesi tanya jawab beberapa peserta bertanya persoalan yang kasuistik. Misalnya, ada tentang pelarangan penggunaan cadar untuk beberapa universitas di Indonesia. Menjawab persoalan tersebut, pemateri memaparkan bahwa masih sah saja dan tidak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) seperti yang ramai diperdebatkan.


”Sebenarnya, kalau larangan penggunaan cadar tidak terlalu menjadi masalah. Larangan itu juga tidak melanggar HAM. Yang menjadi masalah ketika sudah dilarang menggunakan hijab. Toh, cadar merupakan adopsi dari budaya Arab, bukan Nusantara. Jadi, masih sah saja jika melihat pantas atau tidaknya pemakaian cadar di lingkup Universitas,” terangnya.


Meskipun kuliah tamu sekaligus wadah diskusi berakhir mundur setengah jam dari jadwal, namun peserta  tetap menyambut dengan antusias. Seperti Mohammad Firdaus yang mengaku senang mengikuti acara tersebut. Dia menuturkan baru kali pertama berkesempatan langsung berdiskusi dengan narasumber.


”Saya merasa senang sekali dengan acara ini. Selama ini kita hanya mendapat wawasan tentang Islam Nusantara dari media dan internet, sedangkan sekarang bisa bertemu langsung dengan narasumbernya,” tutur Sekertariat Jendral BEM Sekolah Tinggi Agama Islam Syaichona (STAIS) Bangkalan.


Harapan mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab semester enam ini agar acara tidak berhenti sampai sini tapi, terus dikembangkan untuk menjawab segala persoalan yang sedang terjadi.


”Untuk ke depan terus dikembangkan acara seperti ini untuk menjawab dan mendiskusikan tentang isu agama yang sedang terjadi di luar,” tutur mahasiswa asal Burneh tersebut dengan bersemangat.


Tidak jauh berbeda dengan Mohammad Firdaus, mahasiswi Teknologi Industri Pertanian (TIP) UTM Solehatul Munawaroh. Dia mengaku senang karena jarang ada acara atau seminar yang membahas tentang agama. Dia juga berharap agar progam kerja BEM selanjutnya tetap konsisten mengadakan acara yang bernuansa spiritualitas.


”Saya senang dengan adanya kuliah tamu kali ini, karena sebelumnya belum pernah ada kuliah tamu yang membahas khusus tentang Islam, saya berharap semoga progam kerja dari BEM terus melanjutkan acara seperti ini, apalagi menyangkut persoalan spiritualitas” tambah mahasiswa asal Sampang ini.


Pada akhir acara, pihak BEM menyerahkan cindera mata kepada pemateri. Cindera mata berupa vandel bergambarkan gedung rektorat UTM ini diserahkan langsung oleh Presiden Mahasiswa (Presma) Achmad Zahid yang didampingi oleh Wakil Presiden Mahasiswa (Wapresma)  Badrus Soleh Helmi. (Tim/Wuk/Aww)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra