Minggu, 04 Juni 2017

,

Raja Tanpa Mahkota


Sebut saja namaku Domba.

Aku bukanlah seorang ber-IQ tinggi layaknya Albert Einstain  dengan rambut kribon yang acak-acakan tak terurus. Aku juga bukan Jokowi yang suka pakai baju kotak-kotak, apalagi jika kamu samakan aku dengan Andika eks-kangen band yang menikah 4 kali. Tetepi aku adalah bagian dari mereka.

Orang lain sering memandangku bagaikan Singa garang yang sudah mengencingi daerah kekuasaanya. Barang siapa yang sengaja maupun tidak masuk wilayahku jangan harap bisa keluar dengan muka penuh tawa. Senyummu adalah milikku, wajahmu itu mainanku, dan lubangmu menjadi camilan makan malamku.

Botol-botol setiap pagi bergelimpangan ditiap kamar tidurku. Berbalut mahkota dengan gadis-gadis penghibur yang menemaniku sepanjang malam. Artis, mbak-mbak yang bergelar miss-miss, bahkan para politikus elit selalu menjadi teman pengantar tidur. Mereka mau saja menjadi meja, kursi, dan keset tempat sepatu emasku.

Siapa kamu?

Sudah aku katakan, sebut saja namaku Domba.

Sebagai seekor Domba tugasku hanyalah makan. Bukan rumput lagi yang menjadi makananku setiap hari. Bagiku rumput sudah menjadi sepah yang tak berasa. Aku biasa makan spageti, hamburger, pizza, dan manusia yang katanya menjadi makanan terenak di dunia. Tempat makanankupun bukanlah embong ditepi jalan kaum kumuh, karena bagiku tempat itu menjadi tinja sisa-sisa isi perut.

Kau yang mengaku sebagai singa garangpun menjadi tunduk dihadapanku. Akulah Domba yang menjadi raja di antara raja. Jika orang Somalia bilang manusia yang  berani hanya memiliki tiga hal  ketakutan terhadap Singa. Maka untuk orang yang dekat denganku, kenal aku, pernah lihat aku, dengar namaku, bahkan hanya samar-samar saja. Mereka akan gemetar mengingil kedinginan berbalut dengan rasa takut padaku.

Siapa kamu sebenarnya?

Akukan sudah bilang namaku Domba.

Dombakan.......?

Aku memang Domba, seorang raja yang datang pada abad sembilan belas. Bahkan sebelum itupun aku sudah menjadi raja. Raja yang membungihanguskan semua yang aku sentuh. Pohon-pohon yang asri di tengah hutan menjadi gundul karena perintahku. Gajah-gajah diburu untuk diambil gadingnya demi memenuhi hiasan dinding kamarku.

Kau tau siapa yang memperkosa anakmu di kala dingin malam itu. itulah aku. Ketika rasa menjadi mahkota yang tak terlihat. Ketika nafsu mulai memburu dengan ganasnya dan gelombang mencoba menarik pasir yang mulai lelah oleh goncangan-goncanganya. Aku datangi anakmu untukku perkosa.

Tapi tolong jangan tuduh aku benar-benar memerkosanya. Walaupun aku akui. Akulah yang memulai dengan meyobek bajunya dengan kasar, melucuti secara paksa roknya yang menjuntai menutupi tumit. Akulah yang memaksa dia membuka penutup dada, dan calana dalamnya hingga telanjang bulat. Tapi pada akhirnya anakmu menikmati juga. Ia bahkan ketagihan meronta-ronta meminta aku memerkosanya kembali.

 Kurang ajar!

Kanapa kamu bilang aku kurang ajar. Bukankah aku sudah katakan padamu. Anakmu sendiri yang malah mau. Jangankan anakmu, hampir semua wanita di dunia ini aku perkosa. Laki-lakipun tak luput dari incaranku dan jangan kamu tanyakan apa jenis kelaminku karena aku berkelamin ganda.

Mengapa aku tidak kamu perkosa?

Sudah, aku sudah perkosa kamu sejak dari dulu. Ketika itu usiamu masih tergolong muda. Aku perkosa kamu saat ibadah hanya menjadi kegiatan yang membosankan bagimu. Pada  saat itulah aku masuk menyelusip pada kamarmu yang dingin itu. kamar yang setiap malam ibumu bercerita tentang surga dengan sungai air susu mengalir di bawahnya. Tempat yang nyaman untuk membangun keluarga bahagia. Ketika itulah aku masuk naik keranjangmu. Mengoyak secara perlahan kancing baju, celana, pakaian dalam hingga cahaya tuhan berhenti menyinari masa kecilmu dulu.

Kapan itu?

Dulu sekali. Waktu itu kamu sudah semakin jarang mengikuti Misa. Kamupun minta ibu berhenti untuk mendongeng tentang kisah heroik tokoh agama. Waktu itulah aku masuk dalam mimpimu. Sebuah mimpi yang aku buat semu. Mimpi yang mengambarkan surga dunia tampa perlu kamu mati terlebih dahulu. Lewat itulah aku masuk dalam kehidupanmu yang suci.

Kamu ini iblis?

Sudah aku katakan, aku Domba.

Seekor domba yang bisa memakan serigala-serigala ganas di tepi hutan. Menjadi Domba yang menundukkan para singa tampa setetes darahpun. Aku cukup ,memperlihatkan sosokku maka mereka akan tunduk dan menghamba.

 Kenapa orang memanggilmu Domba jika kamu adalah raja?

Karena orang-orang yang paham siapa aku. Aku tak ubahnya seperti seekor Domba yang mencoba merebut rumput mereka. Sebuah rumput yang menyejukkan jiwa. Rumput yang dapat menghidupi seluruh makhluk hidup di dunia ini. hewan, tumbuhan, manusia akan hidup dengan tentram dan damai. Tugasku menjadi seorang perusak segalanya. Tatanan yang dulu telah tersusun rapi secara perlahan aku runtuhkan dengan hawa nafsu.

Biadab.

Kau tau anakmu kini telah menjadi budak sejatiku. Setiap malam ia menemaniku di kamar mandi, menjadi handukku, sepatu, celana dalam, dan apapun yang aku minta pasti ia turuti.

Di mana dia sekarang?

Di kamarmu, gadis yang kau cumbu tadi malam itulah anakkmu. Kau sungguh bodoh! demi aku kau korbankan anakmu. Tengoklah dia, Kemarin ia menjadi seorang gadis manja yang kau gauli ketika ada waktu. Kini terbujur kaku tampa membawa apapun. Semua apa yang ia miliki telah aku ambil kembali, begitupun kau, dan mereka yang aku jebak dengan jaring laba-labaku. Jangan pernah berharap kau bisa keluar dengan mudahnya karena jaringku membelenggu setiap manusia yang datang dan meminta.


Oleh:

SU
Mahasiswa Universitas Trunojoyo

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra