Kamis, 01 Juni 2017

,

Senjata bagi Persatuan Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan nilai-nilai luhur, baik dalam kontek sosial, budaya, ekonomi, politik maupun pendidikan. Dalam rangka memperingati hari lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni. Pada hari yang istimewa ini, dirasa perlu menjadikan hari ini sebagai momen refleksi rasa patriotisme dan mawas diri terhadap ujian-ujian yang melanda bangsa Indonesia. Dalam menerawang masa depan bangsa, perlu kiranya kita menyelam lebih dalam untuk mengetahui masa lalu bangsa Indonesia, atau bangsa yang dulunya bernama Nusantara. 

Pancasila yang menjadi ideologi bangsa Indonesia, bukan dilahirkan oleh Presiden Soekarno. Hanya saja, Soekarno lebih dulu lahir dan menyampaikannya di sidang parlemen kala itu. Pada kesempatan kali ini, segala persoalan yang mengguncang bangsa Indonesia, akan saya hubungkan dengan kisah ‘perang saudara’ Baratayudha. Soekarno adalah jelmaan Adipati Karna, dimana beliau merupakan kakanda tertua dari Putra Prabu Pandu Dewanata, atau biasa disebut Pandawa. Sedangkan Pandawa menjelma sebagai Pancasila. Keduanya lahir dari seorang ibu yang sama, yakni Dewi Kunti. Itulah sebabnya (mungkin) hingga bangsa ini lebih nyaman dipanggil dengan sebutan Ibu Pertiwi ketimbang Bapak Pertiwi.

Puntadewa atau Yudistira menjelma sebagai Ketuhanan yang Maha Esa; Werkudara atau Bimasena menjelma sebagai Kemanusiaan yang adil dan beradab; Arjuna sebagai Persatuan Indonesia; Putra kembar, Nakula dan Sadewa menjelma sebagai sila keempat dan kelima yakni Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kala itu, Soekarno dijatuhkan oleh sekelompok masyarakat Indonesia dari tonggak kepemimpinan, lantaran Soekarno lebih condong kepada Komunis. Padahal sudah jelas, bahwa keberadaan komunis kala itu, tidak begitu diterima oleh sebagian besar masyarakat Indonesia lantaran mencoreng nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Sama halnya, dengan keadaan dimana Adipati Karna yang memihak pada Kurawa sehingga berlawanan dengan Pandawa, padahal kala itu, rakyat sudah muak dengan kesewenang-wenangan Kurawa. Apalagi sikap Kurawa yang begitu hina kepada Pandawa. Khususnya kecurangannya dalam permainan dadu, hingga Pandawa kalah dan mengasingkan diri ke hutan dengan waktu yang cukup lama.

Begitu banyak ujian melanda Indonesia. Termasuk munculnya persoalan penistaan agama yang boleh dikatakan telah mengikis ataupun menghilangkan nilai sila ketiga pada Pancasila, yakni persatuan Indonesia. Kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi? Bagaimana untuk mengembalikan sila ketiga? Jawabnya, ketika Pandawa mengasingkan diri di hutan dan bersumpah untuk tidak saling bertemu dalam pengasingannya. Musibah muncul ketika Arjuna menyelamatkan Puntadewa dari niat buruk Nogogombang dan membunuhnya. Karena Arjuna bertemu Puntadewa dan itu artinya bahwa Arjuna mengingkari sumpah Pandawa. Maka, Arjuna dihukum oleh Puntadewa untuk mendapatkan senjata Pasopati di gunung. Dimana kekuatan senjata itu sebanding dengan senjata Adipati Karna. Akhirnyapun, Arjuna mendapatkannya serta kembali bergabung dengan Pandawa. 

Setelah Arjuna yang menjadi simbol sila ketiga itu mendapatkan Pasopati. Apakah persatuan Indonesia sudah kembali mengutuhkan diri ke Pancasila? Jawabnya, iya benar. Tapi pertanyaanya, dalam keadaan Indonesia sekarang, Siapakah yang bertindak sebagai Pasopati? Dalam benak saya, ketika mendengar Istilah ‘Pasopati’ yang muncul malah suporter sepakbola Solo yakni Pasopati. Berarti terdapat suatu hubungan antara Pasopati dengan Solo. Jika begitu, maka  Pasopati adalah orang Solo. Siapa lagi kalau bukan Presiden Indonesia saat ini, Joko Widodo yang namanya masyhur di Solo lantaran pernah menjadi Walikota yang bisa dikatakan berhasil.

Pandawa telah kembali utuh dan bertambah kuat dengan hadirnya senjata Pasopati yang diperoleh Arjuna dari gunung. Dalam hal ini, kenapa Pasopati diperolehnya di gunung? Gunung merupakan tempat penyembunyian javan hawk eagle, elang jawa atau biasa disebut dengan burung garuda untuk melepaskan (memperbarui) paruh, kuku dan bulu-bulunya. Sehingga, garuda seperti lahir kembali dan bisa terbang lebih tinggi dari sebelumnya. Indonesia yang sedang terpuruk merupakan adopsi dari persembunyian Garuda untuk menemukan Indonesia yang baru, agar mampu terbang lebih tinggi. Sempurnalah Garuda Pancasila sebagaimana Pandawa dengan Pasopatinya.

Perang Baratayudha merupakan perang antar saudara, perang antara sifat mulia dari kubu Pandawa dengan sifat iri dengki dari kubu Kurawa. Dan peperangan itu dimenangkan oleh kubu Pandawa. Dimana titah Puntadewa kepada Arjuna untuk segera menghunuskan senjata Pasopati kepada Karna berhasil menumbangkan pasukan Kurawa yang durjana. Meski kematian Karna sudah jelas akan memberikan kemenangan kepada Pandawa, namun peperangan masih berlanjut sampai terbunuhnya Duryudana. Jika dihubungkan dengan keadaan Indonesia dewasa ini. Timbulnya kegaduhan di bangsa ini disebabkan oleh sifat iri, dengki, kejam dan semacamnya dari salah satu kubu yang melawan kubu sifat mulia dengan perjuangannya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jokowi yang menjadi simbol Pasopati, harus menghunus dan menumbangkan Karna untuk mengalahkan kubu iri dengki demi mencapai kedaulatan Pancasila.

Siapakah Karna yang dimaksud? Bukankah Soekarno sudah lama meninggal? Jawabnya sederhana, anak turun Soekarno yang datang dengan ideologi “tandingan”. Lalu langkah yang harus diambil menurut kisah pewayangan  adalah ‘Persatuan Indonesia’ yang bersenjatakan Jokowi, harus taat pada perintah ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ dengan cara ‘membunuh’ atau lepas dari segala intervensi Sehingga dengan begitu, akan memberikan langkah terang untuk tercapainya kedaulatan Pancasila.

Lantas siapakah Duryudana? Karena dengan terbunuhnya Duryudana sebagai Raja Kurawa, maka perang saudara ‘Baratayudha’ berakhir. Yang jelas Duryudana merupakan raja dari ‘sesuatu’ yang membenci Pancasila dan dibunuh oleh Werkudara ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’. Silahkan direnungkan, saya tidak ingin menghakimi terlebih dahulu. Semoga rakyat Indonesia, mulai dari rakyat jelata sampai kaum pemerintah disadarkan Tuhan supaya segera dan menemukan jawabannya. 

Ditulis oleh Sokran
Mahasiswa Universitar Trunojoyo Madura

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra