Selasa, 02 Mei 2017

,

Program 6 Sektor, Badan Kelengkapan Tidak Ikut Andil


Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang dilandaskan bisnis utama Kementrian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) maka disepakati Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang memiliki Tri Dharma Perguruan Tinggi harus melakukan 5 hal: membentuk lembaga berkualitas, penguatan sumber daya manusia, penguatan pada sisi riset pengembangan, peningkatan kualitas program pembelajaran dan organisasi kemahasiswaan serta memperbanyak produk inovasi dan tenaga terampil Dikti.

UTM saat ini juga sedang mengembangkan ke-5 hal tersebut guna mewujudkan perguruan tinggi yang memiliki daya saing. Namun sedikit berbeda, pengembangan yang dilakukan oleh UTM fokus terhadap potensi lokal yang ada di Madura. UTM memilih 6 sektor pokok yang perlu dikembangkan. Hal tersebut meliputi pengembangan tenaga kerja pendidik, pengembangan produksi tembakau, garam, jagung, dan sapi yang merupakan beberapa produk pangan lokal Madura. Disamping itu UTM, mengembangkan pariwisata Madura melalui unsur-unsur kebudayaan serta media untuk memperkenalkan beberapa destinasi pariwisata Madura.

Menurut Wakil Rektor 1 bagian akademik Deni Yuherawan, pengembangan 6 sektor merupakan ciri pembeda antara UTM dengan PTN lain. Selain itu, hal ini juga sebagai bentuk pengabdian UTM untuk turut memajukan Madura. ”Ini adalah sisi unik dari UTM, ini ciri pembeda. Kenapa tidak kita sebagai PTN yang ada di Madura untuk turut serta mengembangkan potensi yang ada di Madura?” ungkapnya.

Salah satu Dosen Fakultas Hukum itu juga mengungkapkan, dalam rangka memajukan 6 sektor ini, UTM akan bersinergi dengan seluruh lapisan yang ada didalamnya. Mulai dari pihak pimpinan hingga kalangan mahasiswa. ”Semua harus ikut andil dalam menyukseskan program pengembangan 6 sektor yang ada di Madura. Seperti mahasiswa hingga pimpinan, seharusnya organisasi mahasiswa sudah mulai mengarahkan program kerjanya ke 6 sektor,” terangnya.

Kurangnya Sinergi Antar Beberapa Elemen Kampus

Namun program yang telah digagas sejak tahun 2014 hingga saat ini, masih belum terealisasikan dengan baik. Pasalnya, mahasiswa yang menjadi salah satu subjek guna menyukseskan program tersebut justru tidak tahu-menahu perkara rencana pengembangan 6 sektor. Bahkan beberapa Organisasi Mahasiswa (Ormawa) masih belum memiliki program kerja yang mengarah ke 6 sektor.

Ilham selaku Gubernur Fakultas Teknik (FT) menerangkan pihaknya tidak mengetahui banyak tentang program 6 sektor. Program kerja yang disusun oleh badan kelengkapan FT kebanyakan mengarah kepada minat dan bakat. ”Saya pernah dengar soal 6 sektor ini, tapi tidak tahu apa saja dan bagaimana sistemnya, kalau untuk program kerja saat ini masih sesuai dengan minat dan bakat,” ujar mahasiswa semester 8 tersebut.

Ketika ditanya tentang alasan pembuatan  mesin yang dapat mempermudah produksi garam, Ilham mengaku hal ini hanyalah suatu kebetulan  yang mengarah ke 6 sektor. ”Mesin yang dapat memproduksi garam walau musim hujan itu hanya kebetulan saja, tidak ada niatan mengarah ke 6 sektor, sebab saya juga kurang tahu perkara 6 sektor sendiri,” tambahnya.

Senada dengan Ilham, Gubernur Fakultas Pertanian (FP) Andika juga masih belum membentuk program kerja yang sesuai dengan 6 sektor. Ia mengaku wacana mengenai 6 sektor tersebut masih sampai pada fakultas, sedang untuk sosialisasi masih belum dilakukan kepada badan kelengkapan. ”Saya masih belum fokus ke sana (program 6 sektor, red.), saya hanya sering dengar hal tersebut melalui dosen,” terangnya.

Selain itu mahasiswa Prodi Teknologi Industri Pertanian ini juga mengeluhkan tentang sosialisasi program yang tidak jelas. Pasalnya, kabar yang beredar hanya sebatas “kabar burung” saja. “Seharusnya hal tersebut disosialisasikan dengan pihak badan kelengkapan jika menuntut mahasiswa untuk bersinergi dengan program ini,” keluhnya.

Tidak jauh berbeda, Miftahul Achyar mahasiswa Prodi Psikologi yang juga Gubernur Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) ini mengaku kecewa sebab kurangnya informasi mengenai 6 sektor yang sedang digagas oleh UTM. ”Saya saja baru tahu beberapa minggu lalu waktu Dekan (FISIB) menyinggung perkara 6 sektor yang digagas UTM, ya namanya baru tahu, progam kerja kami sementara ya masih tetap (tidak mengarah pada program 6 sektor, red.), sepertinya ada (yang mengarah pada 6 sektor) pariwisata dan budaya,” ucapnya.

Miftah juga menegaskan jika pihak pimpinan harus dapat merangkul para mahasiswa jika ingin bersinergi mewujudkan branding UTM dalam mengembangkan 6 sektor di Pulau Madura. ”Lah ini saya ingin menegaskan kepada pihak pimpinan kalau memang mau bersinergi ya harusnya bisa menyatu dengan mahasiswa, ya badan kelengakapan minimal. Diadakan sosialisasi atau pertemuan, sebab sampai saat ini belum ada sama sekali,” pungkas mahasiswa asal Surabaya tersebut.

Hidayat selaku Gubernur Fakultas Hukum (FH) turut mengusulkan adanya sosialisasi guna terbentuknya sinergitas antara pimpinan pusat dan mahasiswa. ”Jadi, sosialisasi itu perlu dilakukan, sebab selama periode saya menjabat ini masih belum, sepertinya hanya sampai pimpinan fakultas. karena saya memang pernah dengar dari Wakil Dekan 1,” terang mahasiswa asal Pamekasan ini.

Tidak hanya itu, Eko Prasetyo Gubenur Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) juga mengharapkan sosialisasi langsung perkara 6 sektor yang digagas UTM. ”Sinergi akan terbentuk secara merata jika ada sosialisasi secara langsung dan bersama seluruh badan kelengkapan se-UTM, sehingga hal ini tidak hanya dianggap sebagai wacana Rektor saja. Biar semua mahasiswa juga tahu,” Ujar mahsiswa Prodi Akuntansi tersebut.

Menanggapi komentar para Gubernur Fakultas, sebagai perwakilan dari badan kelengkapan kampus, Warek 1 menyatakan bahwasannya badan kelengkapan kampus hanya sebatas penyalur minat bakat mahasiswa sehingga akan sulit untuk ikut campur dalam merealisasikan 6 sektor. ”Sebenarnya organisasi kemahasiswaan adalah wadah untuk menampung minat dan bakat dari mahasiswa, maka akan sulit jika kegiatan mereka di arahkan untuk mengembangkan 6 sektor yang ada di Madura,” tegasnya. (aww/dul/ning)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra