Senin, 15 Mei 2017

,

Pendaftar SNMPTN Menurun, UTM Tingkatkan Kuota SBMPTN

Calon Mahasiswa Baru Ketika Melakukan Verifikasi Data. Foto : Fahmi

WKUTM -  Kebijakan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk mengurangi kuota pendaftar Seleksi Nasional Masuk  Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) juga berimbas kepada Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Seperti yang diketahui, jumlah pendaftar SNMPTN di UTM turun lebih dari tiga ribu orang dibanding tahun sebelumnya. Ditambah lagi dengan adanya beberapa pendaftar yang memundurkan diri atau gugur sebab tidak melakukan registrasi secara online atau verifikasi berkas.

Menanggapi hal ini, Kepala Biro Administrasi Akademik Kemahasiswaan dan Perencanaan Sistem Informasi (BAAKPSI), Supriyanto menegaskan bahwa hal tersebut sudah umum adanya. Kebijakan dari pusat tak hanya berimbas pada UTM saja, melainkan secara nasional. Namun,  dirinya menyayangkan masih adanya pendaftar yang memundurkan diri setelah lolos seleksi. Kan sayang, sudah diterima disini (UTM) tetapi tidak diambil. Ini kan tandanya dia nggak serius.  Tahu begitu kita kasihkan ke yang lain saja, ujar Supriyanto
.
Adapun untuk menyiasati kuota SNMPTN yang kurang. Pihak UTM berinisiatif untuk menambah jumlah kuota pendaftar yang diterima di jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Supriyanto memaparkan dari total 12.658 pendaftar yang akan diseleksi, akan dipilih sebanyak 2.680 pendaftar yang lolos. Jumlah ini lebih banyak dari rencana awal yang hanya akan meloloskan 1.886 pendaftar saja.

Supriyanto juga menghimbau agar mahasiswa tidak perlu takut mengenai masalah Uang Kuliah Tunggal (UKT). Pasalnya UKT untuk tahun ini jumlah maksimalnya tidak berubah, masih sama seperti tahun lalu sebesar tiga juta rupiah. Dengan demikian dirinya berharap agar calon mahasiswa tidak mengalami kesulitan untuk menempuh jenjang perkuliahan.


UKT kita sudah murah. Sudah tidak ada alasan buat tidak kuliah gara-gara biaya yang mahal. Tetapi kalau sudah tetap mau memundurkan diri mau bagaimana lagi? Mana mungkin kita larang.  Paling-paling kita cuma menyurati sekolahnya biar sekolah yang negur, ungkapnya. (Raj/Aww)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra