Rabu, 17 Agustus 2016

Buletin Sastra Kecubung Edisi 6

DOWNLOAD BULETIN SASTRA KECUBUNG EDISI 6
“Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki citra keunggulan seperti keorisinilan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan ungkapannya,” Panuti Sudjiman.

Seiring dengan berkembangnya fungsi koran yang tidak hanya menjadi wadah bagi wacana-wacana jurnalistik, beberapa rubrik baru dalam koran mulai dimunculkan untuk menarik perhatian para pembaca, termasuk rubrik sastra. Akhirnya, banyak penulis mulai berlomba-lomba untuk mengirimkan karya sastra mereka demi dimuat dalam koran. Seperti kata Virginia Woolf bahwa menulis itu seperti seks yang akhirnya dilakukan demi uang, untuk mendapat uang dengan menjual tulisan mereka. Pengarang-pengarang koran hanya bisa pasrah jika tulisan mereka harus diperpendek atau dibenahi oleh editor sesuai persyaratan dalam koran tertentu.

Dari sini, definisi sastra sebagai karya orisinil seperti yang dikatakan Panuti Sudjiman sebenarnya sudah mulai terdegradasi oleh peraturan-peraturan layak muat yang membatasi keaslian tulisan dari penulis. Dengan kata lain, penulis tidak lagi memiliki wewenang penuh dalam menerbitkan karya sastra mereka, namun editor koran dengan selera tertentulah yang menentukan kelayakan muat suatu karya sastra.

2 komentar:

  1. Journalists can only surrender if their letter is to be shortened or addressed to the editor in accordance with the requirements of a specific newspaper.

    BalasHapus
  2. I think the editor should take into account the particularities of reading for the reader. It determines the selection of works for publications.

    BalasHapus

Sastra