Selasa, 31 Mei 2016

,

Keluhan Camaba dan Orang Tua Camaba Terhadap UKT

WKUTM- Tingginya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Universitas Trunojoyo Madura ( UTM) dikeluhkan oleh sebagian besar Calon Mahasiswa Baru (Camaba) 2016 dan orang tua Camaba. Hal ini salah satunya disebabkan oleh faktor ketidaksesuaian informasi serta peningkatan signifikan biaya UKT dibanding tahun lalu. Dina Sakina calon mahasiswa baru program studi (Prodi) Agribisnis misalnya, Ia merasa keberatan dengan nominal UKT yang dibebankan. Ekspresi sesal bercampur kecewa tidak bisa disembunyikan lagi setelah dirinya baru tahu ada informasi permohonan penurunan UKT waktu heregistrasi. Karena bagi Dina siang itu sudah tidak mungkin bisa mengurus. ”Saya keberatan sebenarnya dengan UKT 5 Juta tapi, ya bagaimana lagi saya sebelumnya juga tidak tahu kalau ada permohonan penurunan UKT,” Ujar Camaba asal sumenep tersebut. Orang tua Camaba Rika juga merasa kaget dan keberatan dengan nominal UKT anaknya yang terdaftar sebagai Camaba prodi Ilmu Komunikasi. Ia terkena UKT sebesa sebesar 4 Juta. Dengan profesinya saat ini sebagai penjual susu kedelai penghasilannya menjadi pas-pasan. Bila anaknya tidak mendapat penurunan UKT kata Rika kemungkinan beban hidup keluarganya semakin berat. ”Saya memang keberatan. Terlalu besar nominalnya buat saya yang hanya penjual susu kedelai, tapi saya rasa kebanyakan orang tua memang protes tentang UKT yang tinggi ini,” keluhnya. Ibu-ibu orang tua Camaba program studi Ilmu Kelautan merasa bingung dan tidak ada lagi pilihan lain. Ia terkena UKT sebesar 5 juta sementara penghasilan kotor yang diperoleh keluarganya perbulan cuma 3 juta. ”Yo saya merasa keberatan to mbak, lha wong penghasilan suami saya saja tiga juta dan anak saya juga dua. Kalau setiap semester segitu ya nggak bakalan cukup. Kalau sudah begini anak saya atau anak lain dari keluarga pas-pasan seperti kami hak untuk memperoleh pendidikan semakin sulit,” keluh ibu asal Surabaya tersebut. Senada dengan hal tersebut, seorang Ibu Camaba program studi Teknik Industri juga heran dan keberatan dengan nominal kenaikan UKT yang drastis. ”kenaikannya itu loh dua kali lipat dari kakaknya yang juga kuliah disini, saya pikir ya tidak jauh beda dengan kakaknya yang cuma 2,25 juta eh tau-taunya ini malah 5 juta, saya harap sih bisa ada keringanan UKT, ” ujar Ibu asal Gresik tersebut. Bahkan orang tua Camaba asal Ngawi Jawa Timur merasa tertipu dengan biaya UKT di UTM yang begitu besar. Pasalnya Ia jauh hari sebelumnya sengaja memilihkan anaknya untuk kuliah di UTM karena berdasarkan informasi awal yang didapat UTM termasuk dalam daftar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terjangkau dan ada berbagai fasilitas penunjang belajar dari pemerintah secara memadai. Rasa kecewa tersebut sedikit terobati sewaktu melihat demo penurunan UKT dari Aliansi mahasiswa UTM.”Semoga saja dengan keluhan serta bantuan dari mahasiswa UTM ini hati mereka para pimpinan bisa tersentuh dan bersedia menurunkan UKT,” harapnya. (AWW/KAK)

Salah satu bekas atribut milik massa Aliansi Mahasiswa saat berdemo penurunan UKT yang sengaja dipasang di belakang gedung Graha Utama UTM
WKUTM- Tingginya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di Universitas Trunojoyo Madura ( UTM) dikeluhkan oleh sebagian besar Calon Mahasiswa Baru (Camaba) 2016 dan orang tua Camaba. Hal ini salah satunya disebabkan oleh faktor ketidaksesuaian informasi serta peningkatan signifikan biaya UKT dibanding tahun lalu.

Dina Sakina calon mahasiswa baru program studi (Prodi) Agribisnis misalnya, Ia merasa keberatan dengan nominal UKT yang dibebankan. Ekspresi sesal bercampur kecewa tidak bisa disembunyikan lagi setelah dirinya baru tahu ada informasi permohonan penurunan UKT waktu heregistrasi. Karena bagi Dina siang itu sudah tidak mungkin bisa mengurus. ”Saya keberatan sebenarnya dengan UKT 5 Juta tapi, ya bagaimana lagi saya sebelumnya juga tidak tahu kalau ada permohonan penurunan UKT,” Ujar Camaba asal sumenep tersebut.

Orang tua Camaba Rika juga merasa kaget dan keberatan dengan nominal UKT anaknya yang terdaftar sebagai Camaba prodi Ilmu Komunikasi. Ia terkena UKT sebesa sebesar 4 Juta. Dengan profesinya saat ini sebagai penjual susu kedelai penghasilannya menjadi pas-pasan. Bila anaknya tidak mendapat penurunan UKT kata Rika kemungkinan beban hidup keluarganya semakin berat. ”Saya memang keberatan. Terlalu besar nominalnya buat saya yang hanya penjual susu kedelai, tapi saya rasa kebanyakan orang tua memang protes tentang UKT yang tinggi ini,” keluhnya.

Ibu-ibu orang tua Camaba program studi Ilmu Kelautan merasa bingung dan tidak ada lagi pilihan lain. Ia terkena UKT sebesar 5 juta sementara penghasilan kotor yang diperoleh keluarganya perbulan cuma 3 juta. ”Yo saya merasa keberatan to mbak, lha wong penghasilan suami saya saja tiga juta dan anak saya juga dua. Kalau setiap semester segitu ya nggak bakalan cukup. Kalau sudah begini anak saya atau anak lain dari keluarga pas-pasan seperti kami hak untuk memperoleh pendidikan semakin sulit,” keluh ibu asal Surabaya tersebut.

Senada dengan hal tersebut, seorang Ibu Camaba program studi Teknik Industri juga heran dan keberatan dengan nominal kenaikan UKT yang drastis. ”kenaikannya itu loh dua kali lipat dari kakaknya yang juga kuliah disini, saya pikir ya tidak jauh beda dengan kakaknya yang cuma 2,25 juta eh tau-taunya ini malah 5 juta, saya harap sih bisa ada keringanan UKT, ” ujar Ibu asal Gresik tersebut.

Bahkan orang tua Camaba asal Ngawi Jawa Timur merasa tertipu dengan biaya UKT di UTM yang begitu besar. Pasalnya Ia jauh hari sebelumnya sengaja memilihkan anaknya untuk kuliah di UTM karena berdasarkan informasi awal yang didapat UTM termasuk dalam daftar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terjangkau dan ada berbagai fasilitas penunjang belajar dari pemerintah secara memadai. Rasa kecewa tersebut sedikit terobati sewaktu melihat demo penurunan UKT dari Aliansi mahasiswa UTM.”Semoga saja dengan keluhan serta bantuan dari mahasiswa UTM ini hati mereka para pimpinan bisa tersentuh dan bersedia menurunkan UKT,” harapnya. (AWW/KAK)

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra