Jumat, 08 Januari 2016

,

Partisipasi Mahasiswa Pada Pilpresma Sangat Rendah

Partisipasi Mahasiswa Pada Pilpresma Sangat Rendah WKUTM - Pilpresma (Pemilihan presiden mahasiswa) yang berlangsung kemarin, Kamis (07/01) berakhir dengan kemenangan calon nomor urut lima yakni Fathal Hidayatullah dan Maghfira Octaviana. Pasangan ini menang dengan mengantongi 1.295 suara. Namun, apabila dibandingkan data jumlah mahasiswa aktif di UTM kemenangan mereka hanya setara 10 persennya. Berdasarkan catatan Dewan Perwakilan Mahasiswa selaku penyelenggara pilpresma, jumlah partisipasi mahasiswa pada pemilihan presma dan wapresma 2016 sebesar 3.340 mahasiswa. Adapun rincian lengkap pesebaran perolehan suara tanpa pasangan nomor urut lima adalah: Pasangan Sayyidi – Samsul Arifin 90 suara, Fajar Norullah – Kohar Komaruddin 473 suara, Moh. Hafid – Irman Mualana 494 suara, dan Faisal Maulana – Moh. Iqbal mendapatkan 639 suara. Meskipun berdasarkan perhitungan suara menang, Fathal mengaku kurang begitu puas terhadap penyelenggaraan pilpresma. Pasalnya mayoritas mahasiswa aktif di UTM memilih golput. Ia menduga penyebab dari tingginya angka golput mencerminkan tingkat kepedulian mahasiswa UTM terhadap perpolitikan di kampus. Selain itu pemilihan waktu pelaksanaan pilpresma dinilai kurang tepat, mengingat sebagian mahasiswa sudah selesai melaksanakan UAS. ”Perolehan angka 3.340 sudah luar biasa, sebab ini telah melebihi prediksi yang hanya sekitar 2.000 pemilih,” kata Fathal. Senada dengan pasangan terpilih, Moh. Hafid calon presma nomor urut 3 menilai banyaknya angka golput lebih disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dan persiapan yang di lakukan pihak penyelenggara pilpresma. Waktu sosialisasi dianggap terlalu mendadak, seharusnya menurut Hafid satu bulan sebelum pemungutan suara sudah harus dimulai. Ditemui secara terpisah, Hobairi selaku penyelenggara pilpresma mengatakan tingginya angka golput bukan salah DPM. Berdasarkan pengalaman DPM di pemilu sebelumnya partisipasi mahasiswa dalam pilpresma juga selalu rendah. Jika dihitung rata-rata partisipasi pemilih hanya kisaran 2000 – 3000an mahasiswa. Kalau tahun ini angka golput dinilai tinggi sebenarnya kurang begitu tepat. ”Golput bukan urusan DPM, karena setiap tahun ada mahasiswa golput,” ujar ketua DPM.

Mahasiswa sedang melakukan pencoblosan pilpresma di depan gedung RKB-D
WKUTM - Pilpresma (Pemilihan presiden mahasiswa) yang berlangsung kemarin, Kamis (07/01) berakhir dengan kemenangan calon nomor urut lima yakni Fathal Hidayatullah dan Maghfira Octaviana. Pasangan ini menang dengan mengantongi 1.295 suara. Namun, apabila dibandingkan data jumlah mahasiswa aktif di UTM kemenangan mereka hanya setara 10 persennya.

Berdasarkan catatan Dewan Perwakilan Mahasiswa selaku penyelenggara pilpresma, jumlah partisipasi mahasiswa pada pemilihan presma dan wapresma 2016 sebesar 3.340 mahasiswa. Adapun rincian lengkap pesebaran perolehan suara tanpa pasangan nomor urut lima adalah: Pasangan Sayyidi – Samsul Arifin 90 suara, Fajar Norullah – Kohar Komaruddin 473 suara, Moh. Hafid – Irman Mualana 494 suara, dan Faisal Maulana – Moh. Iqbal mendapatkan 639 suara. 

Meskipun berdasarkan perhitungan suara menang, Fathal mengaku kurang begitu puas terhadap penyelenggaraan pilpresma. Pasalnya mayoritas mahasiswa aktif di UTM memilih golput. Ia menduga penyebab dari tingginya angka golput mencerminkan tingkat kepedulian mahasiswa UTM terhadap perpolitikan di kampus. Selain itu pemilihan waktu pelaksanaan pilpresma dinilai kurang tepat, mengingat sebagian mahasiswa sudah selesai melaksanakan UAS. ”Perolehan angka 3.340 sudah luar biasa, sebab ini telah melebihi prediksi yang hanya sekitar 2.000 pemilih,” kata Fathal. 

Senada dengan pasangan terpilih, Moh. Hafid calon presma nomor urut 3 menilai banyaknya angka golput lebih disebabkan oleh kurangnya sosialisasi dan persiapan yang di lakukan pihak penyelenggara pilpresma. Waktu sosialisasi dianggap terlalu mendadak, seharusnya menurut Hafid satu bulan sebelum pemungutan suara sudah harus dimulai. 

Ditemui secara terpisah, Hobairi selaku penyelenggara pilpresma mengatakan tingginya angka golput bukan salah DPM. Berdasarkan pengalaman DPM di pemilu sebelumnya partisipasi mahasiswa dalam pilpresma juga selalu rendah. Jika dihitung rata-rata partisipasi pemilih hanya kisaran 2000 – 3000an mahasiswa. Kalau tahun ini angka golput dinilai tinggi sebenarnya kurang begitu tepat. ”Golput bukan urusan DPM, karena setiap tahun ada mahasiswa golput,” ujar ketua DPM.(Rinda/ Alvi)

Sastra