Sabtu, 09 Januari 2016

,

LPM Aksara Mengundurkan Diri dari FIIK

LPM Aksara Mengundurkan Diri dari FIIK WKUTM- Belum genap satu tahun diresmikan menjadi unit kegiatan mahasiswa fakultas di FIIK (Fakultas Ilmu-Ilmu Keislaman) LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Aksara mengundurkan diri. Berdasarkan surat edaran yang berisi pernyataan sikap, LPM Aksara secara resmi mengundurkan diri sejak tanggal 29 Desember 2015. Tetapi menurut keterangan Rasyiqi selaku ketua umum LPM Aksara membantah bubarnya LPM Aksara. Menurutnya, pengunduran diri tersebut hanya berkaitan dengan status kedudukan LPM Aksara sebagai unit kegiatan mahasiswa di bawah naungan FIIK. Dalam surat edaran tersebut juga dijelaskan bahwa alasan pengunduran diri LPM Aksara adalah tidak jelasnya penyelesaian kasus pemberitaan oleh DPM, dan pihak fakultas. Terlebih lagi, permintaan audiensi oleh LPM Aksara kepada pihak-pihak terkait selalu diabaikan. Pihak badan kelengkapan dan fakultas malah melakukan pemanggilan mendadak untuk menuntut pembubaran LPM Aksara secara sepihak. Rasyiqi mengatakan timbunya berbagai tekanan dari banyak pihak kepada LPM Aksara tanpa ada itikad penyelesaian kasus menimbulkan keresahan pada anggota. Setelah dilakukan pertimbangan bersama pendiri Aksara, akhirnya LPM Aksara memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai UKMF. Sehingga kedepan LPM Aksara kembali menjadi komunitas jurnalistik Aksara tanpa berlabel LPM. Rasyiqi juga mengatakan bahwa keputusan itu dianggap sudah final. Misalkan ada pihak yang menginginkan rekonsilisai baik dari pihak fakultas atau badan kelengkapan mahasiswa, anggota LPM Aksara mengatakan tidak akan mau. Sebab menurut Rasyiqi walaupun kembali menjadi LPM di FIIK citra Aksara sebagai LPM telah dirusak oleh isu-isu tidak bertanggungjawab. Secara pribadi ketua umum LPM Aksara berharap kalau di FIIK di bentuk LPM baru melarang menggunakan nama Aksara. Selain itu sebagai LPM harus tetap lebih berani lagi melakukan kritisi kepada semua pihak tanpa pandang bulu. Jika tidak dirinya menyarankan untuk menjadi humas saja dari pada menodai ideologi pers mahasiswa. ”Jika ada LPM baru semoga lebih baik dari LPM Aksara. Baik dalam artian untuk fakultas dan baik bagi pandangan ideologi pers mahasiswa,” ujar mahasiswa prodi hukum bisnis syariah itu. Sutrisno anggota LPM Voice Of Law fakultas hukum Universitas Trunojoyo Madura ketika dimintai penilaian terhadap kejadian ini mengaku cukup kaget. karena setelah membaca surat edaran pengunduran diri LPM Aksara seperti ada ketidakadilan. ”saya cukup jengkel dengan FIIK. Alasan mereka sebenarnya keberpihakan sikap yang diambil fakultas dan itu sangat tidak bertanggungjawab. Seharusnya setiap masalah harus dilakukan tindak lanjut penyelesaian secara jelas,” katanya. (Isk/Aji)

Rasyiqi ketua umum LPM Aksara sedang menunjukkan surat pengunduran diri LPM Aksara sebagai UKMF di FIIK
WKUTM- Belum genap satu tahun diresmikan menjadi unit kegiatan mahasiswa fakultas di FIIK (Fakultas Ilmu-Ilmu Keislaman) LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Aksara mengundurkan diri. Berdasarkan surat edaran yang berisi pernyataan sikap, LPM Aksara secara resmi mengundurkan diri sejak tanggal 29 Desember 2015. Tetapi menurut keterangan Rasyiqi selaku ketua umum LPM Aksara membantah bubarnya LPM Aksara. Menurutnya, pengunduran diri tersebut hanya berkaitan dengan status kedudukan LPM Aksara sebagai unit kegiatan mahasiswa di bawah naungan FIIK.

Dalam surat edaran tersebut juga dijelaskan bahwa alasan pengunduran diri LPM Aksara adalah tidak jelasnya penyelesaian kasus pemberitaan oleh DPM, dan pihak fakultas. Terlebih lagi, permintaan audiensi oleh LPM Aksara kepada pihak-pihak terkait selalu diabaikan. Pihak badan kelengkapan dan fakultas malah melakukan pemanggilan mendadak untuk menuntut pembubaran LPM Aksara secara sepihak.

Rasyiqi mengatakan timbunya berbagai tekanan dari banyak pihak kepada LPM Aksara tanpa ada itikad penyelesaian kasus menimbulkan keresahan pada anggota. Setelah dilakukan pertimbangan bersama pendiri Aksara, akhirnya LPM Aksara memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai UKMF. Sehingga kedepan LPM Aksara kembali menjadi komunitas jurnalistik Aksara tanpa berlabel LPM.

Rasyiqi juga mengatakan bahwa keputusan itu dianggap sudah final. Misalkan ada pihak yang menginginkan rekonsilisai baik dari pihak fakultas atau badan kelengkapan mahasiswa, anggota LPM Aksara mengatakan tidak akan mau. Sebab menurut Rasyiqi walaupun kembali menjadi LPM di FIIK citra Aksara sebagai LPM telah dirusak oleh isu-isu tidak bertanggungjawab.

Secara pribadi ketua umum LPM Aksara berharap kalau di FIIK di bentuk LPM baru melarang menggunakan nama Aksara. Selain itu sebagai LPM harus tetap lebih berani lagi melakukan kritisi kepada semua pihak tanpa pandang bulu. Jika tidak dirinya menyarankan untuk menjadi humas saja dari pada menodai ideologi pers mahasiswa. ”Jika ada LPM baru semoga lebih baik dari LPM Aksara. Baik dalam artian untuk fakultas dan baik bagi pandangan ideologi pers mahasiswa,” ujar mahasiswa prodi hukum bisnis syariah itu.

Sutrisno anggota LPM Voice Of Law fakultas hukum Universitas Trunojoyo Madura ketika dimintai penilaian terhadap kejadian ini mengaku cukup kaget. karena setelah membaca surat edaran pengunduran diri LPM Aksara seperti ada ketidakadilan. ”saya cukup jengkel dengan FIIK. Alasan mereka sebenarnya keberpihakan sikap yang diambil fakultas dan itu sangat tidak bertanggungjawab. Seharusnya setiap masalah harus dilakukan tindak lanjut penyelesaian secara jelas,” katanya. (Isk/Aji)

Sastra