Senin, 04 Januari 2016

Foto Sebagai Pelipur Lara

Salam Redaksi Kadang foto memiliki kelebihan dalam menjelaskan suatu moment atau mampu menggambarkan emosi yang terlalu panjang jika dituliskan oleh kata. Namun itu sangat relatif, karena setiap manusia sangat relatif dalam menyampaikan pendapat. “Tidak ada karya foto yang jelek” semua serba kontekstual. Mengapa seperti itu, tak adakah standart khusus atau ukuran-ukuran tertentu dalam menilai sebuah karya foto. Bagaimana orang bisa mengatakan bahwa karya foto itu bagus dan sebaliknya. Pertanyaan yang menimbulkan berbagai macam kategori dalam fotografi, bahkan menimbulkan polemik-klasik diantara penikmat foto dan fotografer. Sudut pandang selalu menentukan bagaimana pendapat atau asumsi dalam menilai sebuah karya foto. Maka, apakah kita akan terjebak oleh makna, cerita, dan esensi dalam sebuah foto atau kita akan melihat karya foto hanya dalam bingkai kedangkalan visualisasi, komposisi, dan kuasa angel mungkin juga moment. Foto adalah bentuk karya alternatif dalam menyampaikan pesan mahkluk hidup. Seperti yang ingin disampaikan Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa (LPM-SM) dalam terbitan Buletin Fotogenial Edisi Ke’empat 2015 ini mengangkat tema “Pelipur Lara” yang berarti penghibur dikala sedih. Kenapa memilih tema “Pelipur Lara”, siapa yang sedih dan siapa yang perlu dihibur. Sederhana saja Redaksi Spirit Mahasiswa ingin menyampaikan pesan dalam Buletin Fotogenial ini bahwa masih banyak manusia yang belum seberuntung manusia lainnya. Dalam banyak hal seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan teknologi. Kesenjangan seolah mendominasi, keadilan, kesejahtraan, dan kemakmuran hanya menjadi mitos yang utopis. Namun kita seharusnya bukan malah apatis atau malah realistis dan tidak melakukan usaha-usaha untuk perbaikan dalam segalahal walaupun itu kecil kemungkinannya untuk mengubah kondisi kekinian yang semakin runyam. Kita memang perlu penghibur, untuk menenangkan cara pandang yang tegang dalam memandang banyak persoalan fundamental dalam hidup. Dan sembari mensyukuri kekayaan dengan sebuah karya foto adalah bentuk syukur manusia dalam mengabadikan setiap hal yang akan berlalu. Melalui Buletin Fotogenial ini segenap redaksi akan berusaha menjadi “Pelipur Lara” anda. Mencoba memberikan sudut pandang lain tentang manusia dan tempat hidupnya. Menghibur itu sederhana dan mohon maklumilah kami selaku redaksi, kalau cara menghibur kami hanya menyuguhkan deretan karya foto yang belum tentu anda sukai. Namun kami bersyukur bahwa terbitan Buletin Fotogenial ini bisa berlanjut hingga Edisi Ke’empat. Kami akan menjaga konsistensi ini untuk selalu menyuguhkan karya yang lebih baik dan bermanfaat. Terimakasih



Kadang foto memiliki kelebihan dalam menjelaskan suatu moment atau mampu menggambarkan emosi yang terlalu panjang jika dituliskan oleh kata. Namun itu sangat relatif, karena setiap manusia sangat relatif dalam menyampaikan pendapat. “Tidak ada karya foto yang jelek” semua serba kontekstual. Mengapa seperti itu, tak adakah standart khusus atau ukuran-ukuran tertentu dalam menilai sebuah karya foto. Bagaimana orang bisa mengatakan bahwa karya foto itu bagus dan sebaliknya. Pertanyaan yang menimbulkan berbagai macam kategori dalam fotografi, bahkan menimbulkan polemik-klasik diantara penikmat foto dan fotografer. Sudut pandang selalu menentukan bagaimana pendapat atau asumsi dalam menilai sebuah karya foto. Maka, apakah kita akan terjebak oleh makna, cerita, dan esensi dalam sebuah foto atau kita akan melihat karya foto hanya dalam bingkai kedangkalan visualisasi, komposisi, dan kuasa angel mungkin juga moment. 

Foto adalah bentuk karya alternatif dalam menyampaikan pesan mahkluk hidup. Seperti yang ingin disampaikan Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa (LPM-SM) dalam terbitan Buletin Fotogenial Edisi Ke’empat 2015 ini mengangkat tema “Pelipur Lara” yang berarti penghibur dikala sedih. Kenapa memilih tema “Pelipur Lara”, siapa yang sedih dan siapa yang perlu dihibur. Sederhana saja Redaksi Spirit Mahasiswa ingin menyampaikan pesan dalam Buletin Fotogenial ini bahwa masih banyak manusia yang belum seberuntung manusia lainnya. Dalam banyak hal seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan teknologi. Kesenjangan seolah mendominasi, keadilan, kesejahtraan, dan kemakmuran hanya menjadi mitos yang utopis. Namun kita seharusnya bukan malah apatis atau malah realistis dan tidak melakukan usaha-usaha untuk perbaikan dalam segalahal walaupun itu kecil kemungkinannya untuk mengubah kondisi kekinian yang semakin runyam. 



Kita memang perlu penghibur, untuk menenangkan cara pandang yang tegang dalam memandang banyak persoalan fundamental dalam hidup. Dan sembari mensyukuri kekayaan dengan sebuah karya foto adalah bentuk syukur manusia dalam mengabadikan setiap hal yang akan berlalu. Melalui Buletin Fotogenial ini segenap redaksi akan berusaha menjadi “Pelipur Lara” anda. Mencoba memberikan sudut pandang lain tentang manusia dan tempat hidupnya. Menghibur itu sederhana dan mohon maklumilah kami selaku redaksi, kalau cara menghibur kami hanya menyuguhkan deretan karya foto yang belum tentu anda sukai. Namun kami bersyukur bahwa terbitan Buletin Fotogenial ini bisa berlanjut hingga Edisi Ke’empat. Kami akan menjaga konsistensi ini untuk selalu menyuguhkan karya yang lebih baik dan bermanfaat. 

Nofianto Puji Imawan
Pimpinan Redaksi LPM Spirit Mahasiswa
Universitas Trunojoyo Madura

Sastra