Rabu, 16 Desember 2015

,

Dari Madura Sampai Global

Muchtar W Oetomo sedang memberikan materi kepada peserta seminar The Right To Dream Prodi Ilmu Komunikasi UTM Dari Madura Sampai Global WKUTM- ”Kesempatan Madura untuk merdeka dalam bingkai merah putih masih terbuka lebar dan sangat mungkin. Madura layak untuk mendirikan provinsi sendiri apabila dibandingkan daerah-daerah lain di luar Jawa.” Perkataan tersebut di ungkapkan oleh Dadan S. Suharmawijaya Research Executive Jawa Pos Institute of Pro Otonomi sewaktu menjadi pemateri seminar The Right To Dream Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) , Rabu (16/12) di Gedung Graha UTM lantai 10. Dadan menambahkan bahwa proses yang wajib ditempuh masyarakat Madura untuk menjadi sebuah provinsi masih panjang. Lebih penting untuk disoroti saat ini adalah soal masalah pemerataan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Karena IPM daerah Madura masih rendah, 2 dari 4 kabupaten wilayah Madura masih termasuk daerah paling tertinggal di Indonesia. Namun, melihat bekal populasi jumlah penduduk telah memenuhi standart menjadi provinsi. ”Modal Utama untuk membangun Madura adalah SDM dan jumlah penduduk,” kata Dadan. Muhtar Wahyudi Oetomo selaku pemateri kedua juga mengingatkan seandainya Madura benar-benar ingin menjadi provinsi sendiri harus mempertimbangkan aspek perlindungan nilai adat istiadat serta kearifan lokal. Selama ini kecondongan generasi muda sering mengadopsi budaya populer, terutama barat. Fenomena ini mengundang keprihatinan, pasalnya menjadi langkah mundur membangun peradaban. Seperti Tesis Muhtar saat mengawali materi seminar di katakana bahwa ”Sebuah bangsa yang akan menjadi besar selalu hidup dengan karakternya sendiri. Sedangkan cara hidup bangsa lain hanyalah pelengkap penyempurna dari cara hidup sendiri.” Tesis tersebut didasarkan atas bukti sejarah peradaban masa lalu sebelum terbentuk Indonesia. Dikenal sebagai Nusantara. Nenek moyang kita masa itu telah memiliki peradaban tinggi dan diperhitungkan oleh dunia. Visioner mereka telah jauh berfikir global. Baik dari segi perekonomian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pertahanan. Sepanjang acara seminar antusiasme peserta untuk mendengarkan ceramah dari pemateri cukup tinggi. Mereka selain dari civitas Prodi Ilmu Komunikasi sendiri juga berasal dari berbagai program studi lain di UTM yang telah mendaftar dihari secara online. Diawal acara dekan Fisib UTM juga terlihat menghadiri acara walaupun tidak mengikuti sampai selesai. Akhirnya seminar ditutup oleh pemateri terakhir Muhammad Rokib. Ia banyak menjelaskan secara teknis bagaimana keiikutsertaan mahasiswa dalam berperan aktif kegiatan aktivisme global. Bagi M. Rokib aktivisme global itu penting dilakukan sebab bisa mengarahkan mahasiswa medalami globalisasi secara intelektual dan moral tentang nilai-nilai global. M. Rokib mengatakan langkah aktivisme global patut dilakukan mahasiswa agar mampu melihat dunia luar dan keluar dari zona nyaman perkuliahan. Tidak lupa berbagai alamat situs-situs penyedia informasi yang mendorong aktivisme global turut dibagikan kepada peserta seminar beserta tips-tipsnya. ”Mahasiswa perlu menjebol dunia nyamannya dan mencari terobosan baru untu terlibat dengan aktivisme global,” ujarnya.(ISK)

Muhammad Rokib sedang memberikan materi kepada peserta seminar The Right To Dream Prodi Ilmu Komunikasi UTM
WKUTM- ”Kesempatan Madura untuk merdeka dalam bingkai merah putih masih terbuka lebar dan sangat mungkin. Madura layak untuk mendirikan provinsi sendiri apabila dibandingkan daerah-daerah lain di luar Jawa.” Perkataan tersebut di ungkapkan oleh Dadan S. Suharmawijaya Research Executive Jawa Pos Institute of Pro Otonomi sewaktu menjadi pemateri seminar The Right To Dream Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) , Rabu (16/12) di Gedung Graha UTM lantai 10.

Dadan menambahkan bahwa proses yang wajib ditempuh masyarakat Madura untuk menjadi sebuah provinsi masih panjang. Lebih penting untuk disoroti saat ini adalah soal masalah pemerataan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Karena IPM daerah Madura masih rendah, 2 dari 4 kabupaten wilayah Madura masih termasuk daerah paling tertinggal di Indonesia. Namun, melihat bekal populasi jumlah penduduk telah memenuhi standart menjadi provinsi. ”Modal Utama untuk membangun Madura adalah SDM dan jumlah penduduk,” kata Dadan.

Muhtar Wahyudi Oetomo selaku pemateri kedua juga mengingatkan seandainya Madura benar-benar ingin menjadi provinsi sendiri harus mempertimbangkan aspek perlindungan nilai adat istiadat serta kearifan lokal. Selama ini kecondongan generasi muda sering mengadopsi budaya populer, terutama barat. Fenomena ini mengundang keprihatinan, pasalnya menjadi langkah mundur membangun peradaban.

Seperti Tesis Muhtar saat mengawali materi seminar di katakana bahwa ”Sebuah bangsa yang akan menjadi besar selalu hidup dengan karakternya sendiri. Sedangkan cara hidup bangsa lain hanyalah pelengkap penyempurna dari cara hidup sendiri.” Tesis tersebut didasarkan atas bukti sejarah peradaban masa lalu sebelum terbentuk Indonesia. Dikenal sebagai Nusantara. Nenek moyang kita masa itu telah memiliki peradaban tinggi dan diperhitungkan oleh dunia. Visioner mereka telah jauh berfikir global. Baik dari segi perekonomian, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pertahanan.

Sepanjang acara seminar antusiasme peserta untuk mendengarkan ceramah dari pemateri cukup tinggi. Mereka selain dari civitas Prodi Ilmu Komunikasi sendiri juga berasal dari berbagai program studi lain di UTM yang telah mendaftar dihari secara online. Diawal acara dekan Fisib UTM juga terlihat menghadiri acara walaupun tidak mengikuti sampai selesai.

Akhirnya seminar ditutup oleh pemateri terakhir Muhammad Rokib. Ia banyak menjelaskan secara teknis bagaimana keiikutsertaan mahasiswa dalam berperan aktif kegiatan aktivisme global. Bagi M. Rokib aktivisme global itu penting dilakukan sebab bisa mengarahkan mahasiswa medalami globalisasi secara intelektual dan moral tentang nilai-nilai global.

M. Rokib mengatakan langkah aktivisme global patut dilakukan mahasiswa agar mampu melihat dunia luar dan keluar dari zona nyaman perkuliahan. Tidak lupa berbagai alamat situs-situs penyedia informasi yang mendorong aktivisme global turut dibagikan kepada peserta seminar beserta tips-tipsnya. ”Mahasiswa perlu menjebol dunia nyamannya dan mencari terobosan baru untu terlibat dengan aktivisme global,” ujarnya.(ISK)

Top Ad 728x90