Sabtu, 03 Oktober 2015

,

Getah Tahun

getah tahun tak perlu takut pada getah tahun ia hanya perekat yang dicipratkan pada pisau dapur agar bulan robek tertikam dan cahayanya bocor memenuhi telaga malam akan jadi secantik dan secerdik kau melarung cinta kita usai pasar malam (2015) mawar merah kuhadiahkan padamu seikat mawar merah. menyala seperti celana dalammu; seperti kemarahanku hingga aku terburu-buru meninggalkanmu menangis sendirian (2015) kotak cahaya di depan kotak cahaya itu warna-warna berpendar dari kota yang diasingkan ke sungai mampet mengalir. melambat ke wajah pucat tak berpenghuni menjelang malam: dongeng dinyalakan lagu menyala dendam-sayang di sebalik kasak-kusuk diskusi suami-istri memberkati persetubuhan cinta tanpa tegur sapa di kotak cahaya itu malam jadi lebih panjang tapi kebahagiaan dipersingkat lagu bunuh diri, berdentang jam-jam malam dari wajah kasar penghuni pos ronda dan kamar ngelangut tanpa liuk seruling dengkur halus dijeda seekor nyamuk dalam kelambu kotak itu, cahaya itu melahirkan suami-istri yang lain aurat kota-kota besar dalam rencana petualangan yang ingin mereka lewati dengan membayangkan sepasang kaki dan sirip tumbuh memisahkan: siapa yang akan ke terminal? siapa yang akan ke dermaga? (2015) suatu ketika, rindu engkau rindu hutan cinta yang hijau dan keperakan embun jatuh ke tanah ke daun, percik-percik adalah air matamu dari masa lalu, dari rasa cemas berdengung dan terbang ke langit menyigi matahari nikmati hijau raut nelangsa dan ngelangut hanya cintamu yang bening sekokoh batang coklat semerdu siul buhul denting klenengan mengantar ning kuda-kuda pengangkut jati, pengangkut damar pergi melambai, untuk luka dan nelangsa meniup rambutmu-rambutku oh, suwung sunyi mengemas luka kerinduan nyala api yang pecah ke gelap malam istirah saat jendela terbuka. saat itu apa kau jawab salam hutan? (2015) kepergian laut laut tak pernah ke langit ia mencintaiku menyimpan rindu saat gerimis kemalaman tak ada puisi dibuat sebab, sulur-sulur ombak menelusup dalam ranjang menenun ingatan ke percik mimpi “laut-kekasih tak ingin pulang. Tidurlah,” kata ibu tapi asin terus berkabar surat cinta laut sampai kemana? ia tak berdebur di mataku dan kafe musik pinggir pantai; lagu bernada minor, pasir daun nyiur tanggal menunjuk arah angin, tetes hujan di atap adalah peta ke jantungmu ke jantung musim yang mengungsi di sela-sela dapur; kampung nelayan yang pernah kau sapa (tapi kulupakan) laut, ikan jerung kah kekasihmu? sakit sekali, sayang saat nelayan mulai terjaga lengking tangis bayi, gemeletak api menandai jarak: aku, laut, dan tangis membadai di tubuhmu hingga sore tiba tapi laut tak pernah kembali (2015) gambar eropa kau menghindari matahari dan teror lagu-lagu asing dan bersembunyi dalam gambar potret yang menangkap eropa memenjarakan paris dengan gaun hitam, pesta lihat itu, kota tua dengan arsitektur lingga-yoni di atapnya yang mengacung menantangmu sambil tersenyum, kau bayangkan menjemput anak sepulang sekolah. lalu mampir ke salon agar eropa mendekat australis, dimana dingin bersalju yang tak menerbitkan hasrat bercinta? membeli pancake sembari menenggak rum tapi semua itu nyata setelah kau berlari dari matahari setelah gambar-gambar menelanjangimu menemukanmu dengan seorang pria kurus menghangatkan jaket tebalmu dengan chesnut panggang dan itu tidak di sini, bukan? di tempat bau matahari dan cemburu sedang kau rindu salju. rindu berlari (sekali lagi) pada paris dengan gaun hitam legam. (2015) mimpi buruk nenek mimpi buruk selalu berwarna merah marun? nenekku gelisah menemukan ibuku: dalam tidur putih, cahaya, daun koro, kediaman, dan tamu yang tak jelas bentuknya ibu merasa akan mati, sementara aku merasa akan membunuh ibu dengan tandatangan palsu. menghidupkan cerita babi gendut dan pelacurnya. kejahatan yang membunyikan drum kosong, pabrik kengerian tanpa ilmu dan ijasah dari rumah-rumah gila penuh tikus. aku pernah membongkar bangkai tikus di bawah kasur dendam tikus merubah jemariku menjadi ular air mengintai dan menunggu aku lengah mengapa mimpi selalu berwarna merah marun? kalau para tikus mencariku, katakan: aku sedang mengasah parang dan membuat api (2015) Citra D. Vresti Trisna, lahir di Surabaya. Puisinya terangkum dalam beberapa antologi bersama. Cerpen, kolom, esainya dimuat di beberapa Surat Kabar lokal maupun nasional.


getah tahun
tak perlu takut pada getah tahun
ia hanya perekat yang dicipratkan
pada pisau dapur agar bulan robek tertikam
dan cahayanya bocor memenuhi telaga
malam akan jadi secantik dan secerdik kau
melarung cinta kita usai pasar malam
(2015)

mawar merah
kuhadiahkan padamu seikat mawar
merah. menyala seperti celana dalammu;
seperti kemarahanku hingga aku terburu-buru
meninggalkanmu menangis
sendirian
(2015)

kotak cahaya
di depan kotak cahaya itu
warna-warna berpendar
dari kota yang diasingkan
ke sungai mampet
mengalir. melambat ke wajah pucat
tak berpenghuni

menjelang malam:
dongeng dinyalakan
lagu menyala dendam-sayang
di sebalik kasak-kusuk
diskusi suami-istri
memberkati persetubuhan
cinta tanpa tegur sapa

di kotak cahaya itu
malam jadi lebih panjang
tapi kebahagiaan dipersingkat
lagu bunuh diri, berdentang
jam-jam malam
dari wajah kasar
penghuni pos ronda
dan kamar ngelangut
tanpa liuk seruling
dengkur halus
dijeda seekor nyamuk
dalam kelambu

kotak itu, cahaya itu
melahirkan suami-istri yang lain
aurat kota-kota besar
dalam rencana petualangan
yang ingin mereka lewati
dengan membayangkan
sepasang kaki dan sirip tumbuh
memisahkan:
siapa yang akan ke terminal?
siapa yang akan ke dermaga?
(2015)

suatu ketika, rindu
engkau rindu hutan
cinta yang hijau
dan keperakan
embun jatuh ke tanah
ke daun, percik-percik
adalah air matamu
dari masa lalu, dari rasa cemas
berdengung dan terbang
ke langit
menyigi matahari

nikmati hijau
raut nelangsa dan ngelangut
hanya cintamu yang bening
sekokoh batang coklat
semerdu siul buhul
denting klenengan
mengantar ning
kuda-kuda pengangkut jati,
pengangkut damar
pergi melambai,
untuk luka dan nelangsa
meniup rambutmu-rambutku

oh, suwung sunyi
mengemas luka
kerinduan nyala api yang pecah
ke gelap malam
istirah saat jendela
terbuka. saat itu
apa kau jawab salam hutan?
(2015)

kepergian laut
laut tak pernah ke langit
ia mencintaiku
menyimpan rindu
saat gerimis kemalaman

tak ada puisi dibuat
sebab, sulur-sulur ombak
menelusup dalam ranjang
menenun ingatan ke percik mimpi
“laut-kekasih tak ingin pulang. Tidurlah,” kata ibu

tapi asin terus berkabar surat cinta laut
sampai kemana?
ia tak berdebur di mataku
dan kafe musik pinggir pantai;
lagu bernada minor, pasir daun nyiur tanggal
menunjuk arah angin, tetes hujan di atap
adalah peta ke jantungmu
ke jantung musim
yang mengungsi di sela-sela dapur;
kampung nelayan yang pernah kau sapa
(tapi kulupakan)
laut, ikan jerung kah kekasihmu?
sakit sekali, sayang
saat nelayan mulai terjaga
lengking tangis bayi, gemeletak api
menandai jarak: aku, laut, dan tangis
membadai di tubuhmu hingga sore tiba
tapi laut tak pernah kembali
(2015)

gambar eropa
kau menghindari matahari dan teror
lagu-lagu asing dan bersembunyi dalam gambar

potret yang menangkap eropa
memenjarakan paris dengan gaun hitam, pesta

lihat itu, kota tua dengan arsitektur lingga-yoni
di atapnya yang mengacung menantangmu

sambil tersenyum, kau bayangkan menjemput anak
sepulang sekolah. lalu mampir ke salon agar eropa mendekat

australis, dimana dingin bersalju yang tak menerbitkan
hasrat bercinta? membeli pancake sembari menenggak rum

tapi semua itu nyata setelah kau berlari dari matahari
setelah gambar-gambar menelanjangimu

menemukanmu dengan seorang pria kurus
menghangatkan jaket tebalmu dengan chesnut panggang

dan itu tidak di sini, bukan?
di tempat bau matahari dan cemburu

sedang kau rindu salju. rindu berlari (sekali lagi)
pada paris dengan gaun hitam legam.
(2015)

mimpi buruk nenek
mimpi buruk selalu berwarna merah marun?
nenekku gelisah menemukan ibuku: dalam tidur putih, cahaya,
daun koro, kediaman, dan tamu yang tak jelas bentuknya
ibu merasa akan mati, sementara aku merasa akan membunuh ibu
dengan tandatangan palsu. menghidupkan cerita babi gendut
dan pelacurnya. kejahatan yang membunyikan drum kosong,
pabrik kengerian tanpa ilmu dan ijasah dari rumah-rumah gila
penuh tikus. aku pernah membongkar bangkai tikus di bawah kasur
dendam tikus merubah jemariku menjadi ular air
mengintai dan menunggu aku lengah
mengapa mimpi selalu berwarna merah marun?
kalau para tikus mencariku, katakan:
aku sedang mengasah parang dan membuat api
(2015)

Citra D. Vresti Trisna
lahir di Surabaya. Puisinya terangkum dalam beberapa antologi bersama. Cerpen, kolom, esainya dimuat di beberapa Surat Kabar lokal maupun nasional.

(Puisi Ini Di Muat Di Buletin Sastra Kecubung Edisi Ke 3)

Top Ad 728x90