Rabu, 19 Agustus 2015

Sebelum PKK-MB Atau Ormaba di UTM dibubarkan, Penuh Ketidakpastian

Para MABA mendengarkan PR 3 membacakan surat edaran ORMABA Spirit Mahasiswa News- Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA) akhirnya dibubarkan, Rabu(19/8/15). Kegiatan yang ditujukan sebagai wadah pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tersebut menuai banyak masalah. Pembubaran yang dilakukan menambah keyakinan bila kegiatan ini sangat dipaksakan. Hal ini dibuktikan dengan salah satu keterangan dari Tolak Adi selaku Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM), ”Kami mempersiapkan ini semua sangat mendadak, karena keputusan persetujuan pimpinan baru keluar H-14" ujarnya. Kurangnya informasi tentang pelaksaan ORMABA dirasa cukup membingungkan, khususnya bagi para mahasiswa baru. Bahkan beberapa dosen telah mengumumkan jika kegiatan ORMABA bukanlah kegiatan yang wajib diikuti. Dengan adanya pengumuman tersebut, sebagian mahasiswa baru merasa senang. ”Memang kata pak Teguh dan pak Khalili (dosen), ORMABA tidak wajib diikuti. Ya sudah pulang aja" ujar Dina selaku mahasiswa baru prodi Pendidikan Ilmu pengetahuan Alam. Di sisi lain, pengumuman tersebut membuat panitia merasa gusar. Sehingga terjadi perdebatan antata mahasiswa baru dan panitia. Sampai pada akhirnya dikeluarkan surat keputusan dari Pembantu Rektor III yang berisikan tentang kewajiban mengikuti ORMABA dengan beberapa ketentuan tertentu, yang diantaranya tidak ada kekerasan mental serta perploncoan. Tidak berhenti pada kejadian tersebut, pembukaan ORMABA yang dilaksanakan rabu (19/8/15) bertempat di lapangan sepak bola UTM tidak dihadiri oleh rektor. Ketidakhadiran rektor merupakan salah satu akibat dari pelanggaran yang dilakukan oleh panitia. ”Di dalam surat keputusan tercantum tidak adanya kegiatan di panas-panasan, tidak ada upacara. Tetapi pada kenyataannya kegiatan upacara tetap dilaksanakan" jelas Boedi Moestiko selaku Pembantu Rektor III saat dimintai keterangan. Bahkan banyak mahasiswa baru yang pingsan diduga kecapekan setelah melaksanakan upacara. ”Ada sekitar 7 anak yang pingsan di dalam satu ruangan, bahkan ada salah satu mahasiswi yang sampai kejang dan dirujuk ke pukesmas Kamal" ujar salah satu anggota KSR PMI Universitas Trunojoyo Madura. Menyikapi kerumitan kegiatan ORMABA, PR III mengeluarkan surat edaran yang membubarkan kegiatan pada hari ini juga (19/8/15). Namun, kekacauan masih belum berhenti. Pembubaran ORMABA menyebabkan gejolak antara UKM yang akan mengisi acara, serta mahasiswa baru yang menginginkan ORMABA tetap dilanjutkan. Tetapi keputusan yang dihasilkan tetap sama. ORMABA tetap di bubarkan. "keputusan ini sudah dengan berbagai pertimbangan, kami pihak pimpinan akan tetap mengenalkan Unit Kegiatan Mahasiswa kepada seluruh Mahasiswa Baru tetapi tidak saat ini, waktunya masih panjang. Tolong beri saya waktu untuk berpikir dan merencanakannya. Pasti" tegas Budi Moestiko.(aww/ris)

Para MABA mendengarkan PR 3 membacakan surat edaran ORMABA

Spirit Mahasiswa News- Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA) akhirnya dibubarkan, Rabu(19/8/15). Kegiatan yang ditujukan sebagai wadah pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tersebut menuai banyak masalah. Pembubaran yang dilakukan menambah keyakinan bila kegiatan ini sangat dipaksakan. Hal ini dibuktikan dengan salah satu keterangan dari Tolak Adi selaku Presiden Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM), ”Kami mempersiapkan ini semua sangat mendadak, karena keputusan persetujuan pimpinan baru keluar H-14" ujarnya.

Kurangnya informasi tentang pelaksaan ORMABA dirasa cukup membingungkan, khususnya bagi para mahasiswa baru. Bahkan beberapa dosen telah mengumumkan jika kegiatan ORMABA bukanlah kegiatan yang wajib diikuti. Dengan adanya pengumuman tersebut, sebagian mahasiswa baru merasa senang. ”Memang kata pak Teguh dan pak Khalili (dosen), ORMABA tidak wajib diikuti. Ya sudah pulang aja" ujar Dina selaku mahasiswa baru prodi Pendidikan Ilmu pengetahuan Alam.

Di sisi lain, pengumuman tersebut membuat panitia merasa gusar. Sehingga terjadi perdebatan antata mahasiswa baru dan panitia. Sampai pada akhirnya dikeluarkan surat keputusan dari Pembantu Rektor III yang berisikan tentang kewajiban mengikuti ORMABA dengan beberapa ketentuan tertentu, yang diantaranya tidak ada kekerasan mental serta perploncoan.

Tidak berhenti pada kejadian tersebut, pembukaan ORMABA yang dilaksanakan rabu (19/8/15) bertempat di lapangan sepak bola UTM tidak dihadiri oleh rektor. Ketidakhadiran rektor merupakan salah satu akibat dari pelanggaran yang dilakukan oleh panitia. ”Di dalam surat keputusan tercantum tidak adanya kegiatan di panas-panasan, tidak ada upacara. Tetapi pada kenyataannya kegiatan upacara tetap dilaksanakan" jelas Boedi Moestiko selaku Pembantu Rektor III saat dimintai keterangan.

Bahkan banyak mahasiswa baru yang pingsan diduga kecapekan setelah melaksanakan upacara. ”Ada sekitar 7 anak yang pingsan di dalam satu ruangan, bahkan ada salah satu mahasiswi yang sampai kejang dan dirujuk ke pukesmas Kamal" ujar salah satu anggota KSR PMI Universitas Trunojoyo Madura. Menyikapi kerumitan kegiatan ORMABA, PR III mengeluarkan surat edaran yang membubarkan kegiatan pada hari ini juga (19/8/15). Namun, kekacauan masih belum berhenti. Pembubaran ORMABA menyebabkan gejolak antara UKM yang akan mengisi acara, serta mahasiswa baru yang menginginkan ORMABA tetap dilanjutkan.

Tetapi keputusan yang dihasilkan tetap sama. ORMABA tetap di bubarkan. "keputusan ini sudah dengan berbagai pertimbangan, kami pihak pimpinan akan tetap mengenalkan Unit Kegiatan Mahasiswa kepada seluruh Mahasiswa Baru tetapi tidak saat ini, waktunya masih panjang. Tolong beri saya waktu untuk berpikir dan merencanakannya. Pasti" tegas Budi Moestiko.(aww/ris)

Sastra