Sabtu, 17 Januari 2015

PR DUNIA KEDOKTERAN

Beberapa waktu lalu, pakde saya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Sebelum meninggal, pakde mengeluhkan bila tenggorokannya sakit hingga dia sulit berbicara dan tak mampu menelan makanan. Dokter tidak memberi jawaban memuaskan tentang penyakit yang dideritanya. Bahkan, setelah diteliti melalui serangkaian tes kesehatan dengan alat-alat canggih, dokter masih belum menemukan penyakit yang menggerogoti tubuh pakde. Melihat pakde yang tak kunjung sembuh, masyarakat desa menduga bila pakde saya terkena santet. Santet merupakan ilmu gaib yang lebih dikenal dengan ilmu hitam dan digunakan seseorang dalam rangka iri hati, dengki, dendam yang berkelanjutan, dengan membuat orang tersebut sakit dan lambat laun meninggal. Media yang digunakan dalam santet adalah benda-benda tajam seperti kawat, paku, jarum, dan peniti. Dalam dunia kedokteran, santet masih menjadi sesuatu yang misterius. Meski bukan kasus baru bagi dunia kedokteran, nyatanya hingga kini dokter tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberikan obat yang sebenarnya tak menyelesaikan masalah. Dunia kedokteran memandang kasus santet sebagai hal yang mustahil di tengah zaman yang mengagungkan akal dan logika. Tapi, dunia kedokteran kita telah banyak menangani kasus-kasus di luar area medis, seperti si manusia paku dari Sumatra. Meski belum jelas benar bila Supiati terkena santet atau tidak, namun dunia medis hanya mampu mengungkapkan bahwasannya penyakit yang diderita Supiati adalah penyakit langka dan aneh. Terkadang dokter kerap tak mau ambil pusing dengan perkara santet. Sepertinya harga diri dan arogansi dunia kedokteran enggan mencari bagaimana benda asing seperti jarum, gunting dan paku bisa masuk di tubuh pasien. Begitu juga dengan orang-orang kota yang mengaku telah modern juga enggan mempercayai perkara santet. Padahal, santet juga sering menyerang orang-orang kota. Tak jadi soal mereka percaya atau tidak pada santet, tapi yang jelas ketika mereka sudah terkena, maka bisa dipastikan ajal menjemput mereka. Memang kehadiran santet masih menjadi ganjalan bagi sebuah zaman yang mengklaim dirinya sebagai modern. Seakan-akan kecanggihan teknologi yang serba maju, dibuat nihil oleh keberadaan santet yang jauh dari nalar. Kendati demikian, masyarakat yang menyatakan dirinya telah modern, tetap tak mampu meninggalkan hal-hal mistis. Karena santet menjadi alat pembunuhan yang tidak akan diketahui pelakunya. Sebab ilmu gaib semacam santet akan sulit dibuktikan di ranah pidana. Jadi, tidak heran mengapa pada tahun 2013 lalu saat kencang-kencangnya diberitakan tentang RUU santet, banyak masyarakat yang tidak menyetujui karena santet hal yang irasional. Mitos-mitos modernisasi Masyarakat modern adalah masyarakat yang telah keluar dari adat istiadat lama menuju peradaban baru yang disebabkan kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun keberadaan santet seolah membungkam modernisasi, khususnya di bidang kedokteran, yang tidak dapat memecahkan serta menelaah banyaknya kasus santet di masyarakat. Padahal santet merupakan persoalan lama yang terjadi di Indonesia sebelum modernisasi. Sehingga pantaskah kita disebut masyarakat modern ketika belum dapat mencari solusi dari kebiasaan-kebiasaan lama (santet)? Bukankah (mitos) modernisasi mampu bergerak lebih jauh dalam mempermudah kehidupan manusia. Seperti halnya telah ditemukannya traktor sebagai pengganti bajak kerbau/sapi dan berkomunikasi dengan surat menyurat yang kini dimudahkan dengan adanya chatting via media sosial. Coba kita lihat betapa modernitas mampu membuat jawaban-jawaban atas persoalan masa lampau dengan teknologi, namun tidak pada santet. Santet belum terselesaikan bagi mereka yang mengaku masyarakat modern. Kita juga bisa menyaksikan betapa sombongnya dunia modern yang menandai arogansinya dengan gedung-gedung rumah sakit yang tinggi, tapi masih gagap mencari jawaban atas kasus-kasus yang dianggap kuno dan terbelakang. Bukankah santet adalah pukulan telak terhadap dunia kesehatan modern? Mungkin benar medis telah angkat tangan terhadap penyakit-penyakit yang tidak diketahui dalam beberapa tes kesehatan. Meskipun mereka telah menyelesaikan banyak kasus berat seperti operasi plastik Lisa beberapa tahun yang lalu, tragedi bayi kembar dempet, dan penyakit ganas seperti tumor dan kanker. Jadi ketika santet menyerang kita, kembali saja pada cara Islam yakni sholat hajat yang dilanjutkan oleh tidur di atas sajadah atau cara yang lebih kuno dengan tidur di depan pintu dengan berbantal sapu lidi. Saya tak ingin mati dengan cara modern. Saya ingin tetap hidup dengan cara tradisional. Rinda Fitary Ningsih Anggota Baru LPM Spirit Mahasiswa 2014.

Ilustrasi By : Cdv_t

Beberapa waktu lalu, pakde saya meninggal dunia tanpa sebab yang jelas. Sebelum meninggal, pakde mengeluhkan bila tenggorokannya sakit hingga dia sulit berbicara dan tak mampu menelan makanan. Dokter tidak memberi jawaban memuaskan tentang penyakit yang dideritanya. 
Bahkan, setelah diteliti melalui serangkaian tes kesehatan dengan alat-alat canggih, dokter masih belum menemukan penyakit yang menggerogoti tubuh pakde. Melihat pakde yang tak kunjung sembuh, masyarakat desa menduga bila pakde saya terkena santet. Santet merupakan ilmu gaib yang lebih dikenal dengan ilmu hitam dan digunakan seseorang dalam rangka iri hati, dengki, dendam yang berkelanjutan, dengan membuat orang tersebut sakit dan lambat laun meninggal. 
Media yang digunakan dalam santet adalah benda-benda tajam seperti kawat, paku, jarum, dan peniti. Dalam dunia kedokteran, santet masih menjadi sesuatu yang misterius. Meski bukan kasus baru bagi dunia kedokteran, nyatanya hingga kini dokter tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberikan obat yang sebenarnya tak menyelesaikan masalah. Dunia kedokteran memandang kasus santet sebagai hal yang mustahil di tengah zaman yang mengagungkan akal dan logika. Tapi, dunia kedokteran kita telah banyak menangani kasus-kasus di luar area medis, seperti si manusia paku dari Sumatra. 
Meski belum jelas benar bila Supiati terkena santet atau tidak, namun dunia medis hanya mampu mengungkapkan bahwasannya penyakit yang diderita Supiati adalah penyakit langka dan aneh. Terkadang dokter kerap tak mau ambil pusing dengan perkara santet. Sepertinya harga diri dan arogansi dunia kedokteran enggan mencari bagaimana benda asing seperti jarum, gunting dan paku bisa masuk di tubuh pasien. Begitu juga dengan orang-orang kota yang mengaku telah modern juga enggan mempercayai perkara santet. Padahal, santet juga sering menyerang orang-orang kota. 
Tak jadi soal mereka percaya atau tidak pada santet, tapi yang jelas ketika mereka sudah terkena, maka bisa dipastikan ajal menjemput mereka. Memang kehadiran santet masih menjadi ganjalan bagi sebuah zaman yang mengklaim dirinya sebagai modern. Seakan-akan kecanggihan teknologi yang serba maju, dibuat nihil oleh keberadaan santet yang jauh dari nalar. 
Kendati demikian, masyarakat yang menyatakan dirinya telah modern, tetap tak mampu meninggalkan hal-hal mistis. Karena santet menjadi alat pembunuhan yang tidak akan diketahui pelakunya. Sebab ilmu gaib semacam santet akan sulit dibuktikan di ranah pidana. Jadi, tidak heran mengapa pada tahun 2013 lalu saat kencang-kencangnya diberitakan tentang RUU santet, banyak masyarakat yang tidak menyetujui karena santet hal yang irasional. Mitos-mitos modernisasi Masyarakat modern adalah masyarakat yang telah keluar dari adat istiadat lama menuju peradaban baru yang disebabkan kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. 
Namun keberadaan santet seolah membungkam modernisasi, khususnya di bidang kedokteran, yang tidak dapat memecahkan serta menelaah banyaknya kasus santet di masyarakat. Padahal santet merupakan persoalan lama yang terjadi di Indonesia sebelum modernisasi. 
Sehingga pantaskah kita disebut masyarakat modern ketika belum dapat mencari solusi dari kebiasaan-kebiasaan lama (santet)? Bukankah (mitos) modernisasi mampu bergerak lebih jauh dalam mempermudah kehidupan manusia. Seperti halnya telah ditemukannya traktor sebagai pengganti bajak kerbau/sapi dan berkomunikasi dengan surat menyurat yang kini dimudahkan dengan adanya chatting via media sosial. 
Coba kita lihat betapa modernitas mampu membuat jawaban-jawaban atas persoalan masa lampau dengan teknologi, namun tidak pada santet. Santet belum terselesaikan bagi mereka yang mengaku masyarakat modern. Kita juga bisa menyaksikan betapa sombongnya dunia modern yang menandai arogansinya dengan gedung-gedung rumah sakit yang tinggi, tapi masih gagap mencari jawaban atas kasus-kasus yang dianggap kuno dan terbelakang. 
Bukankah santet adalah pukulan telak terhadap dunia kesehatan modern? Mungkin benar medis telah angkat tangan terhadap penyakit-penyakit yang tidak diketahui dalam beberapa tes kesehatan. 
Meskipun mereka telah menyelesaikan banyak kasus berat seperti operasi plastik Lisa beberapa tahun yang lalu, tragedi bayi kembar dempet, dan penyakit ganas seperti tumor dan kanker. Jadi ketika santet menyerang kita, kembali saja pada cara Islam yakni sholat hajat yang dilanjutkan oleh tidur di atas sajadah atau cara yang lebih kuno dengan tidur di depan pintu dengan berbantal sapu lidi. Saya tak ingin mati dengan cara modern. Saya ingin tetap hidup dengan cara tradisional. 

Rinda Fitary Ningsih
Anggota Baru LPM Spirit Mahasiswa 2014.

Top Ad 728x90