Sabtu, 17 Januari 2015

IBLIS

Ilustrasi By : Cdv_t Banyak orang berkata bahwa Iblis adalah sosok yang paling “buruk” di alam semesta. Jika ada seorang manusia yang berbuat dosa, dia pasti yang pertama disalahkan. Padahal, tanpa digoda pun manusia akan mengikuti jalannya. Mungkin pendapat mereka tentang Iblis cukup berasalan. Berangkat dari sesat pikir bila iblis adalah makhluk durhaka yang ditugaskan menggoda manusia, sehingga iblis serta-merta dituduh sebagai aktor utama segala keburukan duniawi. Selain itu, Iblis juga digambarkan sebagai makhluk yang sikap sombongnya kelewat batas. Iblis memang buruk dalam penampilan, tapi dia mampu menyamar sebagai seorang atau sesuatu yang menarik sesukanya. Tapi, apakah masuk akal jika hanya karena itu Iblis pantas menjadi makhluk paling buruk? Manusia juga punya andil tersendiri untuk melakukan kesalahan tanpa godaan iblis sekalipun. Maka apologi paling ampuh untuk mentolelir kesalahan manusia adalah dengan meng-kambing-hitamkan Iblis. Alkisah, Iblis dan malaikat adalah penghuni sorga. Mereka berdua diciptakan dari sesuatu yang sama: cahaya. Hanya saja cahaya si Iblis membakar sedangkan cahaya malaikat tidak. Tapi, ketentraman tersebut tidak bertahan lama, hingga Allah menciptakan seorang makhluk dari sesuatu yang remeh: tanah. Saat itu terjadi banyak perdebatan antara malaikat dan Allah saat proses penciptaan manusia. Sebab, malaikat khawatir bila, selain punya sifat baik, manusia juga punya segudang sifat buruk. Tetapi karena malaikat termasuk makhluk yang penurut, dia pun diam setelah Allah berkata, ”Aku tau apa yang kalian tidak tau.” Lalu datanglah perintah dari Allah kepada penghuni surga untuk bersujud kepada manusia sebagai masterpiece ciptaan-Nya. Dalam momen seperti ini, hanya Iblis makhluk yang menolak untuk bersujud. Iblis merasa dirinya lebih baik dari manusia. Sebab dia diciptakan dari api sedang manusia dari tanah. Meski dia mempunyai alasan, tetapi dia telah durhaka dengan perintah yang seharusnya wajib ia laksanakan. Bahkan, ada yang beranggapan bahwa sebenarnya iblis menolak bersujud karena mentauhidkan-Nya. Karena bersujud kepada selain Allah adalah haram hukumnya. Tetapi jika dilihat dari konteksnya terasa tidak mungkin jika Allah memerintahkan melakukan sesuatu yang dilarang karena Dia Yang Maha Benar. Akibat pelanggaran tersebut, Iblis menerima hukuman dilaknat oleh Allah. Karena hal itu, mungkin tidak dimungkinkan baginya mendapat ampunan. Tapi, sejak saat itu Iblis meminta dipanjangkan umurnya dan ingin mengabdikan dirinya sebagai penggoda manusia sampai hari akhir. Dalam segi keimanan pun dia tidak kalah meskipun dengan seorang nabi. Bagaimana tidak, tugas Iblis adalah menggoda manusia dan dia sukses dalam hal itu. Lagipula, dia masih iman atau percaya kepada Allah, dia sadar bahwa hanya dengan Kun-Nya dia akan hancur seketika. Sedangkan Nabi Musa, dia akan mampu beriman sepenuhnya jika sudah melihat Dzat-Nya. Meskipun beliau hanya melihat sebagian dari Dzat-Nya beliau pingsan. Bahkan dalam sumber lain mengisahkan bahwa dahulu Iblis merupakan makhluk yang paling dikasihi oleh Allah. Sedang nama Iblis sendiri baru diperoleh setelah dia membangkang perintah-Nya. Bahkan, malaikat yang diciptakan untuk taat pun kagum kepadanya karena seluruh do’a Iblis dikabulkan. Dan sebab ketaatannya pula dia pernah diangkat menjadi pemimpin para malaikat. Karena anugerah yang begitu melimpah dia mulai lupa diri dan sombong. Saya percaya bila apa yang terjadi di surga merupakan skenario keakraban Allah pada setiap makhluk. Ada yang bertugas meluruskan jalannya manusia dan ada yang menggoda manusia. Hal ini merupakan bahasa Allah dalam menciptakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan manusia. Dan dengan kesetiaan iblis menggoda manusia sampai akhir jaman dan kerelaan Iblis untuk menjadi tokoh antagonis dapat menunjukkan bila Iblis pun taat pada hukum Allah. Dari segi keimanan, ketaatan dan catatan historis, Iblis merupakan makhluk yang “lebih” dari kebanyakan manusia. Tetapi, manusia yang ditugaskan untuk menjadi pemimpin, malah merusak dan menindas satu sama lain. Kekhawatiran malaikat dan iblis dulu saat proses penciptaan cukup beralasan karena dia tau kalau manusia mempunyai potensi untuk melakukan hal itu. Hanya saja, Iblis teguh akan pendiriannya untuk tidak percaya pada sifat Ilmu-Nya Allah. Artinya dalam konteks dan situasi tertentu, Iblis masih lebih baik dari manusia. Maka pertanyaannya kemudian adalah: siapa yang lebih “Iblis” dari Iblis? Muhamad Adam Abdullah Anggota Baru LPM Spirit-Mahasiswa 2014.

Ilustrasi By : Cdv_t
Banyak orang berkata bahwa Iblis adalah sosok yang paling buruk di alam semesta. Jika ada seorang manusia yang berbuat dosa, dia pasti yang pertama disalahkan. Padahal, tanpa digoda pun manusia akan mengikuti jalannya.
Mungkin pendapat mereka tentang Iblis cukup berasalan. Berangkat dari sesat pikir bila iblis adalah makhluk durhaka yang ditugaskan menggoda manusia, sehingga iblis serta-merta dituduh sebagai aktor utama segala keburukan duniawi.
Selain itu, Iblis juga digambarkan sebagai makhluk yang sikap sombongnya kelewat batas. Iblis memang buruk dalam penampilan, tapi dia mampu menyamar sebagai seorang atau sesuatu yang menarik sesukanya. Tapi, apakah masuk akal jika hanya karena itu Iblis pantas menjadi makhluk paling buruk?
Manusia juga punya andil tersendiri untuk melakukan kesalahan tanpa godaan iblis sekalipun. Maka apologi paling ampuh untuk mentolelir kesalahan manusia adalah dengan meng-kambing-hitamkan Iblis.
Alkisah, Iblis dan malaikat adalah penghuni sorga. Mereka berdua diciptakan dari sesuatu yang sama: cahaya. Hanya saja cahaya si Iblis membakar sedangkan cahaya malaikat tidak. Tapi, ketentraman tersebut tidak bertahan lama, hingga Allah menciptakan seorang makhluk dari sesuatu yang remeh: tanah.
Saat itu terjadi banyak perdebatan antara malaikat dan Allah saat proses penciptaan manusia. Sebab, malaikat khawatir bila, selain punya sifat baik, manusia juga punya segudang sifat buruk. Tetapi karena malaikat termasuk makhluk yang penurut, dia pun diam setelah Allah berkata, ”Aku tau apa yang kalian tidak tau.”
Lalu datanglah perintah dari Allah kepada penghuni surga untuk bersujud kepada manusia sebagai masterpiece ciptaan-Nya. Dalam momen seperti ini, hanya Iblis makhluk yang menolak untuk bersujud. Iblis merasa dirinya lebih baik dari manusia. Sebab dia diciptakan dari api sedang manusia dari tanah. Meski dia mempunyai alasan, tetapi dia telah durhaka dengan perintah yang seharusnya wajib ia laksanakan.
Bahkan, ada yang beranggapan bahwa sebenarnya iblis menolak bersujud karena mentauhidkan-Nya. Karena bersujud kepada selain Allah adalah haram hukumnya. Tetapi jika dilihat dari konteksnya terasa tidak mungkin jika Allah memerintahkan melakukan sesuatu yang dilarang karena Dia Yang Maha Benar. 
Akibat pelanggaran tersebut, Iblis menerima hukuman dilaknat oleh Allah. Karena hal itu, mungkin tidak dimungkinkan baginya mendapat ampunan. Tapi, sejak saat itu Iblis meminta dipanjangkan umurnya dan ingin mengabdikan dirinya sebagai penggoda manusia sampai hari akhir.
Dalam segi keimanan pun dia tidak kalah meskipun dengan seorang nabi. Bagaimana tidak, tugas Iblis adalah menggoda manusia dan dia sukses dalam hal itu. Lagipula, dia masih iman atau percaya kepada Allah, dia sadar bahwa hanya dengan Kun-Nya dia akan hancur seketika. Sedangkan Nabi Musa, dia akan mampu beriman sepenuhnya jika sudah melihat Dzat-Nya. Meskipun beliau hanya melihat sebagian dari Dzat-Nya beliau pingsan.
Bahkan dalam sumber lain mengisahkan bahwa dahulu Iblis merupakan makhluk yang paling dikasihi oleh Allah. Sedang nama Iblis sendiri baru diperoleh setelah dia membangkang perintah-Nya. Bahkan, malaikat yang diciptakan untuk taat pun kagum kepadanya karena seluruh do’a Iblis dikabulkan. Dan sebab ketaatannya pula dia pernah diangkat menjadi pemimpin para malaikat. Karena anugerah yang begitu melimpah dia mulai lupa diri dan sombong.
Saya percaya bila apa yang terjadi di surga merupakan skenario keakraban Allah pada setiap makhluk. Ada yang bertugas meluruskan jalannya manusia dan ada yang menggoda manusia. Hal ini merupakan bahasa Allah dalam menciptakan sebuah keseimbangan dalam kehidupan manusia. Dan dengan kesetiaan iblis menggoda manusia sampai akhir jaman dan kerelaan Iblis untuk menjadi tokoh antagonis dapat menunjukkan bila Iblis pun taat pada hukum Allah.
Dari segi keimanan, ketaatan dan catatan historis, Iblis merupakan makhluk yang “lebih” dari kebanyakan manusia. Tetapi, manusia yang ditugaskan untuk menjadi pemimpin, malah merusak dan menindas satu sama lain. Kekhawatiran malaikat dan iblis dulu saat proses penciptaan cukup beralasan karena dia tau kalau manusia mempunyai potensi untuk melakukan hal itu. Hanya saja, Iblis teguh akan pendiriannya untuk tidak percaya pada sifat Ilmu-Nya Allah. Artinya dalam konteks dan situasi tertentu, Iblis masih lebih baik dari manusia.
Maka pertanyaannya kemudian adalah: siapa yang lebih “Iblis” dari Iblis?

Muhamad Adam Abdullah
Anggota Baru LPM Spirit-Mahasiswa 2014.

Top Ad 728x90