Rabu, 17 September 2014

,

Lesuhnya Gairah Perteateran Mahasiswa

BY : GOOGLE Teater mahasiswa kini sedang hidup dalam ambiguitas. Lesunya gairah dan semakin kerdilnya pemahaman akan esensi-estetik dari para pelaku teater membuat kegagapan nampak jelas dalam perkembangan perteateran mahasiswa. Bahkan, masalah klasik ini telah lama disadari oleh penggiat teater di kampus. Kendati demikian, penggiat teater mahasiswa tidak berusaha mengatasi permasalahan ini, sehingga dunia perteateran mengalami dekadensi seiring dengan perkembangannya. Baik Dari sisi internal yang menyangkut urusan kreativitas-estetik, serta di sisi eksternal, dimana teater mahasiswa belum mampu keluar dari problem klasik yang menyangkut kemiskinan wacana kebudayaan. Selain itu, masalah lain yang mewarnai dunia perteateran mahasiswa adalah kurangnya komunikasi antar penggiat seni, penonton, manajemen, dukungan dari pihak kampus, sumbangsih, miskin manfaat, bahkan miskin wawasan mengenai perteateran itu sendiri. Sehingga rata-rata teater mahasiswa hanya menjalankan agenda dan proker sebagai formalitas demi menaati regulasi organisasi di kampus. Kemunduran teater mahasiswa kini, sangat erat kaitanya dengan kualitas generasi muda yang terus menurun. Lalu banyak yang menganggap teater, khususnya teater mahasiswa, kurang begitu penting. Apalagi faktor minat selalu menjadi alasan klasik yang menyebabkan kualitas dan metode pendekatan teater mahasiswa kurang variatif dan kerap tidak memiliki dasar yang kuat dan peta pemikiran yang jelas. Hal ini disebabkan karena kurangnya referensi dan kosistensi pada proses kreatif yang mereka jalani. Ditambah lagi dengan kedisiplinan serta totalitas juga semakin memperunyam dunia perteateran mahasiswa. Sehingga teater mahasiswa seakan-akan tidak membawa manfaat apa-apa. Khususya dilingkungan kampus dan bahakan di skala yang lebih besar, kecuali sebagai ajang eksistensi. Sampai saat ini teater mahasiswa masih saja dininabobo oleh budaya eksis. Di sisi lain persoalan mendasar, terutama dalam pemahaman proses kreatif masih belum selesai. Kini tantangan penggiat teater mahasiswa hari ini adalah proses pembangunan image yang berorientasi pada pengetahuan, emosi, dan pemahaman dalam ranah apresiasi. Selain itu yang perlu dilakukan para penggiat teater mahasiswa adalah memahami kondisi kekinian sebagai modal dalam memperkaya proses kreatif. Di sisi lain persaingan di dunia perteateran semakin ketat dan tak kenal kompromi. Teater mahasiswa tak punya cukup bekal untuk survive Geliat teater mahasiswa kini belum dibarengi kesadaran bila teater berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan dan proses pembelajaran kehidupan. Kondisi ini mempengaruhi daya eksplorasi, termasuk kualitas artistik yang ditawarkan. Kebanyakan teater mahasiswa masih bereorientasi bahwa fokus latihan adalah segalanya. Dan sampai saat ini teater belum dipamahami dan disadari sebagi disiplin pengetahuan yang jelas. Apalagi tradisi intelektual dalam tubuh teater mahasiswa tidak berjalan dengan semestinya. Di beberapa kampus, ruang teater atau seni hanya jadi tempat kumpul-kumpul tanpa sebuah bahasan mengenai wacana kebudayaan, inovasi-inovasi, sumbangsih budaya, bahkan diskusi-diskusi budaya yang bermanfaat. Padahal pekembangan teknologi sudah menawarkan banyak kemudahan. Seharusnya tidak ada alasan atau kesulitan dalam meningkatkan kualialitas dan kuantitas para pelaku teater mahasiswa, sehingga mampu menciptakan iklim dan regenerasi yang lebih produktif dan kaya akan wacana, wawasan, dan pemahaman yang mendalam. Melihat realitas perteateran di tingkat perguruan tinggi memang cukup menggelikan. Selain karena dipandang sebelah mata, teater mahasiswa masih sulit mengembangkan diri. Sehingga yang dihasilkan dari dunia perteateran hanya aktor-aktor instan yang kurang matang dari segi kualitas karya. Sampai saat ini teater mahasiswa masih disibukkan dengan persoalan regenerasi setiap tahunnya. Rutinitas tersebut membuat energi penggiatnya habis dalam siklus regenerasi untuk menjamin keberlangsungan organisasi ketimbang menciptakan berkreasi dalam pertunjukan. Bahkan, kini banyak anggapan orang yang menganggap teater tak lebih dari pengisi waktu luang menuntut ilmu. Bahkan nada sumbang tersebut juga muncul di kalangan penggiat kesenian di luar kampus. Namun di tengah runyamnya dunia perteateran mahasiswa, terutama di UTM, masih ada juga teater mahasiswa yang memiliki kontribusi sebagai media perantara dalam proses pembentukan grup-grup yang lebih serius dan professional. seperti StudiklubTeater Bandung (STB) dengan Suyatna Anirun, Jim Lim dan sejumlah mahasiswa pada sekitar akhir tahun 1950-an mendirikan grup dengan basis sosial kalangan mahasiswa, yang sampai kini eksistensinya diakui sebagai salah satu grup yang memiliki kontribusi dalam pertumbuhan dan perkembangan teater di Indonesia. Generasi perteateran mahasiswa hari ini masih kesulitan dalam melahirkan tokoh-tokoh besar sebagaimana Rendra. Sebelum mendirikan Bengkel Teater, Renda juga berangkat dari teater kampus UGM. Dan sampai hari ini Bengkel Teater masih dianggap sebagai grup professional yang anggotanya juga terdiri dari kalangan mahasiswa dari berbagai kampus dan disiplin akademik. Selain itu masih ada Komunitas Payung Hitam (KPH) di Bandung serta Teater Garasi di Yogyakarta yang memilih jalan untuk menciptakan basis sosial yang lebih luas ketimbang berkutat hanya di dalam kampus. Beberapa kelompok teater yang disebut di atas hanya beberapa contoh diantara puluhan grup teater lainnya yang tersebar di Makassar, Medan, Padang, Jakarta, Solo, dari periode tahun 1950-an sampai kini. Tapi, ironi hanya tinggal ironi. Meski dari waktu ke waktu banyak organisasi teater bermunculan, organisasi teater dengan sendirinya telah terjangkit wabah dan tumbang satu per satu menjadi batu nisan yang menandai kematian dunia perteateran mahasiswa di tanah air. Nofianto Puji Imawan 14 September 2014

BY : GOOGLE
Teater mahasiswa kini sedang hidup dalam ambiguitas. Lesunya gairah dan semakin kerdilnya pemahaman akan esensi-estetik dari para pelaku teater membuat kegagapan nampak jelas dalam perkembangan perteateran mahasiswa. Bahkan, masalah klasik ini telah lama disadari oleh penggiat teater di kampus. Kendati demikian, penggiat teater mahasiswa tidak berusaha mengatasi permasalahan ini, sehingga dunia perteateran mengalami dekadensi seiring dengan perkembangannya. Baik Dari sisi internal yang menyangkut urusan kreativitas-estetik, serta di sisi eksternal, dimana teater mahasiswa belum mampu keluar dari problem klasik yang menyangkut kemiskinan wacana kebudayaan. 

Selain itu, masalah lain yang mewarnai dunia perteateran mahasiswa adalah kurangnya komunikasi antar penggiat seni, penonton, manajemen, dukungan dari pihak kampus, sumbangsih, miskin manfaat, bahkan miskin wawasan mengenai perteateran itu sendiri. Sehingga rata-rata teater mahasiswa hanya menjalankan agenda dan proker sebagai formalitas demi menaati regulasi organisasi di kampus. 

Kemunduran teater mahasiswa kini, sangat erat kaitanya dengan kualitas generasi muda yang terus menurun. Lalu banyak yang menganggap teater, khususnya teater mahasiswa, kurang begitu penting. Apalagi faktor minat selalu menjadi alasan klasik yang menyebabkan kualitas dan metode pendekatan teater mahasiswa kurang variatif dan kerap tidak memiliki dasar yang kuat dan peta pemikiran yang jelas. Hal ini disebabkan karena kurangnya referensi dan kosistensi pada proses kreatif yang mereka jalani. Ditambah lagi dengan kedisiplinan serta totalitas juga semakin memperunyam dunia perteateran mahasiswa. Sehingga teater mahasiswa seakan-akan tidak membawa manfaat apa-apa. Khususya dilingkungan kampus dan bahakan di skala yang lebih besar, kecuali sebagai ajang eksistensi. Sampai saat ini teater mahasiswa masih saja dininabobo oleh budaya eksis. 

Di sisi lain persoalan mendasar, terutama dalam pemahaman proses kreatif masih belum selesai. Kini tantangan penggiat teater mahasiswa hari ini adalah proses pembangunan image yang berorientasi pada pengetahuan, emosi, dan pemahaman dalam ranah apresiasi. Selain itu yang perlu dilakukan para penggiat teater mahasiswa adalah memahami kondisi kekinian sebagai modal dalam memperkaya proses kreatif. Di sisi lain persaingan di dunia perteateran semakin ketat dan tak kenal kompromi. Teater mahasiswa tak punya cukup bekal untuk survive Geliat teater mahasiswa kini belum dibarengi kesadaran bila teater berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan dan proses pembelajaran kehidupan. Kondisi ini mempengaruhi daya eksplorasi, termasuk kualitas artistik yang ditawarkan. 

Kebanyakan teater mahasiswa masih bereorientasi bahwa fokus latihan adalah segalanya. Dan sampai saat ini teater belum dipamahami dan disadari sebagi disiplin pengetahuan yang jelas. Apalagi tradisi intelektual dalam tubuh teater mahasiswa tidak berjalan dengan semestinya. Di beberapa kampus, ruang teater atau seni hanya jadi tempat kumpul-kumpul tanpa sebuah bahasan mengenai wacana kebudayaan, inovasi-inovasi, sumbangsih budaya, bahkan diskusi-diskusi budaya yang bermanfaat. Padahal pekembangan teknologi sudah menawarkan banyak kemudahan. Seharusnya tidak ada alasan atau kesulitan dalam meningkatkan kualialitas dan kuantitas para pelaku teater mahasiswa, sehingga mampu menciptakan iklim dan regenerasi yang lebih produktif dan kaya akan wacana, wawasan, dan pemahaman yang mendalam. Melihat realitas perteateran di tingkat perguruan tinggi memang cukup menggelikan. 

Selain karena dipandang sebelah mata, teater mahasiswa masih sulit mengembangkan diri. Sehingga yang dihasilkan dari dunia perteateran hanya aktor-aktor instan yang kurang matang dari segi kualitas karya. Sampai saat ini teater mahasiswa masih disibukkan dengan persoalan regenerasi setiap tahunnya. Rutinitas tersebut membuat energi penggiatnya habis dalam siklus regenerasi untuk menjamin keberlangsungan organisasi ketimbang menciptakan berkreasi dalam pertunjukan. Bahkan, kini banyak anggapan orang yang menganggap teater tak lebih dari pengisi waktu luang menuntut ilmu. Bahkan nada sumbang tersebut juga muncul di kalangan penggiat kesenian di luar kampus. 

 Namun di tengah runyamnya dunia perteateran mahasiswa, terutama di UTM, masih ada juga teater mahasiswa yang memiliki kontribusi sebagai media perantara dalam proses pembentukan grup-grup yang lebih serius dan professional. seperti StudiklubTeater Bandung (STB) dengan Suyatna Anirun, Jim Lim dan sejumlah mahasiswa pada sekitar akhir tahun 1950-an mendirikan grup dengan basis sosial kalangan mahasiswa, yang sampai kini eksistensinya diakui sebagai salah satu grup yang memiliki kontribusi dalam pertumbuhan dan perkembangan teater di Indonesia. 

Generasi perteateran mahasiswa hari ini masih kesulitan dalam melahirkan tokoh-tokoh besar sebagaimana Rendra. Sebelum mendirikan Bengkel Teater, Renda juga berangkat dari teater kampus UGM. Dan sampai hari ini Bengkel Teater masih dianggap sebagai grup professional yang anggotanya juga terdiri dari kalangan mahasiswa dari berbagai kampus dan disiplin akademik. Selain itu masih ada Komunitas Payung Hitam (KPH) di Bandung serta Teater Garasi di Yogyakarta yang memilih jalan untuk menciptakan basis sosial yang lebih luas ketimbang berkutat hanya di dalam kampus. 

Beberapa kelompok teater yang disebut di atas hanya beberapa contoh diantara puluhan grup teater lainnya yang tersebar di Makassar, Medan, Padang, Jakarta, Solo, dari periode tahun 1950-an sampai kini. Tapi, ironi hanya tinggal ironi. Meski dari waktu ke waktu banyak organisasi teater bermunculan, organisasi teater dengan sendirinya telah terjangkit wabah dan tumbang satu per satu menjadi batu nisan yang menandai kematian dunia perteateran mahasiswa di tanah air. 

Nofianto Puji Imawan
14 September 2014

Top Ad 728x90