Rabu, 17 September 2014

,

Kampus & Masa Depan Dunia Kesenian

BY : CDV_T Agaknya Bronislaw Malinowski cukup berlebihan ketika dalam bukunya “The Group and The Individual in Fungtional Analysis” mengatakan bila semua unsur dan hasil kebudayaan itu bermanfaat bagi masyarakat. Dan tentunya salah satu bagian dari kebudayaan itu termasuk seni. Tapi, ironisnya ketika membicarakan wajah dunia kesenian hari ini, kita hanya menemui jalan buntu yang klasik: “pasar”. Mungkin pengistilahan “pasar sebagai tuhan baru kesenian” cukup tepat bila berkaca dalam realitas kesenian hari ini. Karena gaung kesenian tidak pernah jauh dari nada sumbang soal kapitalisasi dan dekadensi kreatif. Situasi ini merupakan sebuah keadaan dimana pasar membuat kesenian memiliki harga, tapi sekaligus “terbunuh”. Kesenian dapat dikatakan memiliki harga, bila segala keindahan di dalamnya dapat dikapitalisasi untuk sesuatu yang praktis. Sehingga kesenian yang sebelumnya merupakan sebuah ide utuh tentang produk kebudayaan, dipoles sedemikian rupa dengan mitos dan label-label kelas sosial agar dapat memiliki nilai jual. Tapi, dengan proses kapitalisasi inilah yang mengkroposkan proses kreatif—dimana seharusnya proses kreatif harus bisa mencapai wilayah ruh dan kematangan penjiwaan—sehingga proses kreatif dalam kesenian hanya sekedar rutinitas dangkal yang praktis. Bisa atau tidaknya kesenian menjadi mata air kehidupan yang menyegarkan masyarakat merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan para penggiat kesenian. Selain itu, jalan panjang proses kreatif sangat bergantung pada bergulirnya jaman. Belum lagi, ketika media mengambil peran dalam proses legitimasi eksistensi kesenian, justru memperkeruh budaya dan proses berkesenian itu sendiri. Selain itu, penggiat kesenian juga ditantang untuk dapat melawan konstuksi, standar etis dan output yang materialistis pada kesenian yang telah diciptakan media. Sehingga mau tidak mau, alternatif untuk melawan kanonisasi media dalam memperkeruh kesenian harus dicari antitesisnya. Beralih ke kampus Paradigma pasar dan kesenian sudah jadi mata rantai budaya hasil bentukan media. Dan mata rantai ini hampir sulit diputuskan karena telah menjadi kebutuhan dan standar nilai yang berlaku saat ini. Tapi, ketika dunia kesenian sudah mencapai titik kulminasi, masih saja ada kelompok-kelompok konservatif kesenian yang yakin bila denyut kesenian yang murni masih bisa hidup. Kelompok tersebut mengkritik bila keputusasaan dalam bangkitnya kesenian hanya sesuatu yang berlebihan. Artinya, tercemarnya dunia kesenian dengan semangat pasar hanya sebuah paranoia. Mereka beranggapan ladang subur kesenian masih bisa ditemui di kampus-kampus. Perguruan tinggi dianggap sebagai sebuah dunia yang terpisah dari segala carut-marut dunia kesenian yang notabene hanya menganggap kesenian sebagai komoditi. Selain itu, kampus juga merupakan antitesis dari golongan-golongan elit di dunia kesenian yang memiliki dukungan pendanaan besar dan support media, seperti halnya kelompok Salihara. Kampus juga dianggap tempat yang ideal dalam berproses untuk menghadirkan sebuah kesenian yang bebas dari hiruk-pikuk standar-nilai yang diciptakan media dan pasar yang matrealistis. Tapi, ada juga kelompok kesenian di Universitas Trunojoyo Madura yang dimotori Timur Budi Raja menganggap kesenian yang berangkat dari kampus telah jauh sublim pada budaya pop. Menurut saya, pandangan Timur ada benarnya. Karena organisasi-organisasi teater dan seni, yang notabene menjadi wadah kesenian di kampus tidak mampu memperoleh kejayaannya sebagaimana organisasi seni pra-98. Dekadensi kreatif di lembaga kesenian kampus bisa ditinjau dari empat hal: pertama organisasi seni di kampus tidak lagi mampu menarik simpati penikmatnya untuk mendapat informasi, kebaruan dan wacana yang menyegarkan; Kedua keseriusan dalam kaderisasi dan penggemblengan anggota muda kurang maksimal dalam membakar semangat generasi penerus organisasi; Ketiga, kurangnya ruang eksis yang dibuka untuk memfasilitasi masih jauh dari yang diharapkan, sehingga generasi penerus organisasi kesenian semakin berkurang; Keempat, organisasi kesenian sudah mulai ditinggalkan oleh pelaku-pelakunya dan beralih pada organisasi yang lebih pop, seperti: sinematografi dan event organizer acara-acara musik. Saya pun melihat sendiri bentuk-bentuk keputusasaan organisasi kesenian di kampus yang mulai merasa ditinggalkan peminat. Sikap sinis penggiat kesenian pada organisasi-organisasi baru yang lebih merebut simpati mahasiswa baru sudah mulai terjadi. Menurut mereka, satu-satunya penyebab berkurangnya minat mahasiswa baru pada organisasi kesenian disebabkan karena organisasi-organisasi pop tersebut. Tapi, justru pandangan seperti inilah yang membuat organisasi kesenian di kampus sulit bangkit dari keterpurukan. Dekadensi kesenian di berbagai lini, baik di dalam atau di luar kampus sudah cukup lama terjadi. Disorientasi kesenian seakan mewabah dan semakin parah dari waktu ke waktu. Sehingga mau tidak mau kita harus berpikir ulang bila kita menganggap seni bisa benar-benar membawa pesan kebudayaan dan memberikan kesegaran wawasan. Sehingga, jangankan bercita-cita agar seni bisa dinikmati masyarakat; tetap kontinyu di kalangan internal saja masih sangat sulit. Kendati demikian, beralihnya minat masyarakat pada hiburan-hiburan media (yang sebenarnya tak mendidik), juga bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat. Apalagi sampai menuduh bila masyarakat itu bodoh. Karena, seharusnya berpalingnya masyarakat adalah mutlak karena kejenuhan suguhan kesenian yang itu-itu saja. Selain itu, pagelaran kesenian dari organisasi kampus yang melibatkan masyarakat hampir tidak pernah dilakukan. Hal ini merupakan kesalahan yang sangat fatal, mengingat pagelaran kesenian seharusnya menjadi jembatan antara penggiat kesenian di kampus dengan masyarakat untuk sama-sama belajar dan matang menyikapi hidup. Tapi sayangnya dekadensi di dunia kesenian, tidak menjadi cermin yang membuat penggiat kesenian introspeksi diri. Saya rasa, tidak ada salahnya bila para penggiat kesenian di kampus kembali membuka diri agar mau berbenah. Selain itu, sudah waktunya pegiat kesenian bisa kembali membuka literasi dan menganalisis sakitnya dunia kesenian hari ini untuk mencari formula yang pas dalam mencari celah ruang untuk dimasuki dan mendapat tempat di hati masyarakat. Yang perlu dicatat adalah para penggiat kesenian di kampus sudah semestinya kembali merunduk dan belajar pada masyarakat sebagai modal penghayatan akan kesadaran fungsional seni sebagai produk budaya. Dan yang paling penting adalah penggiat kesenian di kampus tidak terkungkung dalam eksklusifitas dan narsisme yang salon. Bukankah kampus adalah tempat para pembaru dan generasi yang mengobati “sakit” di dunia kesenian? Bukankah di punggung penggiat kesenian kampus masa depan kesenian di Indonesia di letakkan? Karena saya pikir, penggiat kampus seharusnya tidak hanya mengerti cara berpenampilan nyentrik: berambut panjang, jarang mandi, memakai gelang dan sarung agar dikira seniman. Pakde DAni L. BOndan SM, 13 September 2014

BY : CDV_T
Agaknya Bronislaw Malinowski cukup berlebihan ketika dalam bukunya “The Group and The Individual in Fungtional Analysis” mengatakan bila semua unsur dan hasil kebudayaan itu bermanfaat bagi masyarakat. Dan tentunya salah satu bagian dari kebudayaan itu termasuk seni. Tapi, ironisnya ketika membicarakan wajah dunia kesenian hari ini, kita hanya menemui jalan buntu yang klasik: “pasar”. Mungkin pengistilahan “pasar sebagai tuhan baru kesenian” cukup tepat bila berkaca dalam realitas kesenian hari ini. Karena gaung kesenian tidak pernah jauh dari nada sumbang soal kapitalisasi dan dekadensi kreatif. Situasi ini merupakan sebuah keadaan dimana pasar membuat kesenian memiliki harga, tapi sekaligus “terbunuh”. 

Kesenian dapat dikatakan memiliki harga, bila segala keindahan di dalamnya dapat dikapitalisasi untuk sesuatu yang praktis. Sehingga kesenian yang sebelumnya merupakan sebuah ide utuh tentang produk kebudayaan, dipoles sedemikian rupa dengan mitos dan label-label kelas sosial agar dapat memiliki nilai jual. Tapi, dengan proses kapitalisasi inilah yang mengkroposkan proses kreatif—dimana seharusnya proses kreatif harus bisa mencapai wilayah ruh dan kematangan penjiwaan—sehingga proses kreatif dalam kesenian hanya sekedar rutinitas dangkal yang praktis. Bisa atau tidaknya kesenian menjadi mata air kehidupan yang menyegarkan masyarakat merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan para penggiat kesenian. Selain itu, jalan panjang proses kreatif sangat bergantung pada bergulirnya jaman. 

Belum lagi, ketika media mengambil peran dalam proses legitimasi eksistensi kesenian, justru memperkeruh budaya dan proses berkesenian itu sendiri. Selain itu, penggiat kesenian juga ditantang untuk dapat melawan konstuksi, standar etis dan output yang materialistis pada kesenian yang telah diciptakan media. Sehingga mau tidak mau, alternatif untuk melawan kanonisasi media dalam memperkeruh kesenian harus dicari antitesisnya. Beralih ke kampus Paradigma pasar dan kesenian sudah jadi mata rantai budaya hasil bentukan media. Dan mata rantai ini hampir sulit diputuskan karena telah menjadi kebutuhan dan standar nilai yang berlaku saat ini. 

Tapi, ketika dunia kesenian sudah mencapai titik kulminasi, masih saja ada kelompok-kelompok konservatif kesenian yang yakin bila denyut kesenian yang murni masih bisa hidup. Kelompok tersebut mengkritik bila keputusasaan dalam bangkitnya kesenian hanya sesuatu yang berlebihan. Artinya, tercemarnya dunia kesenian dengan semangat pasar hanya sebuah paranoia. Mereka beranggapan ladang subur kesenian masih bisa ditemui di kampus-kampus. Perguruan tinggi dianggap sebagai sebuah dunia yang terpisah dari segala carut-marut dunia kesenian yang notabene hanya menganggap kesenian sebagai komoditi. Selain itu, kampus juga merupakan antitesis dari golongan-golongan elit di dunia kesenian yang memiliki dukungan pendanaan besar dan support media, seperti halnya kelompok Salihara. 

 Kampus juga dianggap tempat yang ideal dalam berproses untuk menghadirkan sebuah kesenian yang bebas dari hiruk-pikuk standar-nilai yang diciptakan media dan pasar yang matrealistis. Tapi, ada juga kelompok kesenian di Universitas Trunojoyo Madura yang dimotori Timur Budi Raja menganggap kesenian yang berangkat dari kampus telah jauh sublim pada budaya pop. Menurut saya, pandangan Timur ada benarnya. Karena organisasi-organisasi teater dan seni, yang notabene menjadi wadah kesenian di kampus tidak mampu memperoleh kejayaannya sebagaimana organisasi seni pra-98. 

Dekadensi kreatif di lembaga kesenian kampus bisa ditinjau dari empat hal: pertama organisasi seni di kampus tidak lagi mampu menarik simpati penikmatnya untuk mendapat informasi, kebaruan dan wacana yang menyegarkan; Kedua keseriusan dalam kaderisasi dan penggemblengan anggota muda kurang maksimal dalam membakar semangat generasi penerus organisasi; Ketiga, kurangnya ruang eksis yang dibuka untuk memfasilitasi masih jauh dari yang diharapkan, sehingga generasi penerus organisasi kesenian semakin berkurang; Keempat, organisasi kesenian sudah mulai ditinggalkan oleh pelaku-pelakunya dan beralih pada organisasi yang lebih pop, seperti: sinematografi dan event organizer acara-acara musik. Saya pun melihat sendiri bentuk-bentuk keputusasaan organisasi kesenian di kampus yang mulai merasa ditinggalkan peminat. Sikap sinis penggiat kesenian pada organisasi-organisasi baru yang lebih merebut simpati mahasiswa baru sudah mulai terjadi. Menurut mereka, satu-satunya penyebab berkurangnya minat mahasiswa baru pada organisasi kesenian disebabkan karena organisasi-organisasi pop tersebut. Tapi, justru pandangan seperti inilah yang membuat organisasi kesenian di kampus sulit bangkit dari keterpurukan. Dekadensi kesenian di berbagai lini, baik di dalam atau di luar kampus sudah cukup lama terjadi. Disorientasi kesenian seakan mewabah dan semakin parah dari waktu ke waktu. 

Sehingga mau tidak mau kita harus berpikir ulang bila kita menganggap seni bisa benar-benar membawa pesan kebudayaan dan memberikan kesegaran wawasan. Sehingga, jangankan bercita-cita agar seni bisa dinikmati masyarakat; tetap kontinyu di kalangan internal saja masih sangat sulit. Kendati demikian, beralihnya minat masyarakat pada hiburan-hiburan media (yang sebenarnya tak mendidik), juga bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat. Apalagi sampai menuduh bila masyarakat itu bodoh. Karena, seharusnya berpalingnya masyarakat adalah mutlak karena kejenuhan suguhan kesenian yang itu-itu saja. Selain itu, pagelaran kesenian dari organisasi kampus yang melibatkan masyarakat hampir tidak pernah dilakukan. Hal ini merupakan kesalahan yang sangat fatal, mengingat pagelaran kesenian seharusnya menjadi jembatan antara penggiat kesenian di kampus dengan masyarakat untuk sama-sama belajar dan matang menyikapi hidup. Tapi sayangnya dekadensi di dunia kesenian, tidak menjadi cermin yang membuat penggiat kesenian introspeksi diri. Saya rasa, tidak ada salahnya bila para penggiat kesenian di kampus kembali membuka diri agar mau berbenah. 

Selain itu, sudah waktunya pegiat kesenian bisa kembali membuka literasi dan menganalisis sakitnya dunia kesenian hari ini untuk mencari formula yang pas dalam mencari celah ruang untuk dimasuki dan mendapat tempat di hati masyarakat. Yang perlu dicatat adalah para penggiat kesenian di kampus sudah semestinya kembali merunduk dan belajar pada masyarakat sebagai modal penghayatan akan kesadaran fungsional seni sebagai produk budaya. Dan yang paling penting adalah penggiat kesenian di kampus tidak terkungkung dalam eksklusifitas dan narsisme yang salon. Bukankah kampus adalah tempat para pembaru dan generasi yang mengobati “sakit” di dunia kesenian? Bukankah di punggung penggiat kesenian kampus masa depan kesenian di Indonesia di letakkan? Karena saya pikir, penggiat kampus seharusnya tidak hanya mengerti cara berpenampilan nyentrik: berambut panjang, jarang mandi, memakai gelang dan sarung agar dikira seniman.

Pakde DAni L. BOndan 
SM, 13 September 2014

Sastra