Rabu, 17 September 2014

,

Gincu Kosmetik Pertunjukan Seni

BY : CDV_T Wajah dunia kesenian, terutama teater mahasiswa telah terpelanting jauh keluar rel. Selain itu, bila dianggap sebagai bagian dari dunia kesenian, pondasi dunia teater mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah roboh dan kehilangan esensi yang menjadikan teater benar-benar bermutu dan berkualitas. Identitas dan kelahiran teater yang semula sebagai representasi realitas dan kondisi sosial masyarakat, kini hanya sebatas ekspresi kebutuhan personal dan rutinitas belaka. Di samping itu, saya mencermati perkembangan dunia teater mahasiswa kekinian, dari waktu ke waktu, cenderung membosankan dan klise. Artinya, pertunjukan yang dihadirkan hanya menjadi gincu-kosmetik yang lupa pada substansi dan misi kebudayaan. Bahkan diskusi yang dihadirkan pasca pementasan hanya seputar teknis, dimana hal itu yang kemudian dibesar-besarkan seolah-olah dianggap penting. Kesenian teater sebenarnya bukanlah hal baru di kalangan mahasiswa. Teater lahir sebagai antitesis dari segala tesis mapan dalam peliknya kehidupan sosial. Kemunculan teater konon diawali dengan misi kemanusiaan dan kesadaran, juga semangat perlawanan. Seperti yang kita ketahui bersama, sebagaimana realitas perjuangan mahasiswa, dunia teater kampus pra-98 masih memiliki semangat kolektif yang sama: perlawanan Rezim Soeharto. Pada masa-masa represi tersebut, penggiat teater kampus meluapkan bentuk protes pada kebijakan-kebijakan pemerintah dan mulai mengkampanyekan kehidupan pemerintahan yang demokratis. Misi kebudayaan yang berlaku waktu itu adalah ingin menggugah keberanian masyarakat untuk turut melakukan perlawanan bersama untuk menuju sebuah kehidupan bernegara yang lebih leluasa dan beradab. Namun, di tengah ruang gerak yang sempit tersebut—terlepas benar atau tidak keputusan menggulingkan orba—penggiat teater justru tertempa baik secara fisik maupun kesadaran untuk menghadirkan konsep (naskah, setting panggung, dan penghayatan peran) lebih matang ketimbang hari ini. Pertunjukan yang dihadirkan penggiat teater kampus pra-98 dalam setiap kesempatan—pada saat itu, bersama dengan organisasi mahasiswa lainnya—mengusung tema yang hampir seluruhnya bernapaskan perlawanan terhadap rezim. Pasca 98, penggiat teater seperti kehilangan gairah untuk melanjutkan tugas-tugas kemanusiaan melalui wacana dan literasi kebudayaan yang disampaikan lewat pertunjukan. Sehingga pertunjukan teater hari ini tak ubahnya pupur bedak yang terus pudar dari waktu ke waktu. Yang paling miris adalah teater hari ini dimaknai hanya sebatas hiburan dan melupakan substansi esensialnya. Hilangnya gairah di dunia perteateran hari ini lebih banyak pada disorientasi arah ide dan gagasan yang membuat penggiatnya mengalami stagnasi kreatif. Hal ini membuat pertunjukan yang dihadirkan tidak lebih dari sekedar rutinitas, lain tidak! Kurangnya pendalaman wacana, terutama pada literasi kebudayaan membuat proses kreatif tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini bisa dilihat dari dua hal: Pertama, kurangnya penghayatan yang membuat aktor gagal pada proses “menjadi”; Kedua, pesan yang disampaikan hanya berkutat di kulit luar dan bukan pada makna terdalam atau makna filosofis. Sehingga wajar, dalam sebuah pertunjukan penonton diam-diam diliputi pertanyaan: semua itu untuk apa? Ini membicarakan apa? Disamping itu, yang patut menjadi catatan bagi para penggiat teater di UTM adalah terlalu mudah hanyut pada alam pseudo. Artinya, meski tema-tema yang dihadirkan kebanyakan tema-tema sosial dan persoalan terkini, namun kerap mengalami kegagalan dalam penyampaian pesan. Karena umumnya penggiat teater UTM kerap menyajikan jenis teater absurd, dimana para penikmatnya belum siap untuk menerima dan mencerna pesan yang disampaikan. Dan yang terpenting adalah kegagalan penggiat UTM dalam menggugah semangat kepedulian pada banyak persoalan hari ini. Hal ini rupanya luput dari perhatian penggiat teater mahasiswa UTM. Barangkali dunia teater kampus telah abai dengan nilai-nilai kebudayaan historis sebagai penyampai pesan atas kompleksitas tatanan sosial dan kebudayaan di masyarakat. Patron-patron pertunjukan yang ditawarkan penggiat teater kampus tidak sanggup membawa penikmat masuk ke dalam pertunjukan yang dipentaskan. Teater kampus hari ini telah kehilangan legitimasi sebagai ruh dari akar kesenian. Lebih dari itu, dalam hal sumber daya manusia di organisasi kesenian dan teater gagal melakukan proses pengkaderan, dimana selama ini perekrutan yang ada hanya berdasarkan kuantitas, bukan kualitas. Sehingga proses pencapaian personal oleh para penggiatnya gagal ditingkatkan. Bahkan loyalitas dalam tubuh organisasi teater kampus bisa dibilang masih sangat kurang. Proses semacam ini tak akan memberikan pengaruh berarti bagi kemajuan organisasi teater di kampus. Dan yang paling penting adalah penggiat teater kampus hari ini melupakan hal-hal yang justru sangat substansial dalam proses kreatif, diantaranya adalah perjalanan, interaksi dengan masyarakat, dan pengenalan (yang serius) pada alam. Tapi bukankah perguruan tinggi memiliki ruang bermain yang memungkinkan mendapatkan kebebasan mutlak dalam konteks berkreasi dan mengapresiasi? Tapi apakah itu penting? Entahlah! Ghinan Salman 13 September 2014

BY : CDV_T
Wajah dunia kesenian, terutama teater mahasiswa telah terpelanting jauh keluar rel. Selain itu, bila dianggap sebagai bagian dari dunia kesenian, pondasi dunia teater mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah roboh dan kehilangan esensi yang menjadikan teater benar-benar bermutu dan berkualitas. Identitas dan kelahiran teater yang semula sebagai representasi realitas dan kondisi sosial masyarakat, kini hanya sebatas ekspresi kebutuhan personal dan rutinitas belaka. Di samping itu, saya mencermati perkembangan dunia teater mahasiswa kekinian, dari waktu ke waktu, cenderung membosankan dan klise. Artinya, pertunjukan yang dihadirkan hanya menjadi gincu-kosmetik yang lupa pada substansi dan misi kebudayaan. Bahkan diskusi yang dihadirkan pasca pementasan hanya seputar teknis, dimana hal itu yang kemudian dibesar-besarkan seolah-olah dianggap penting. Kesenian teater sebenarnya bukanlah hal baru di kalangan mahasiswa. 

Teater lahir sebagai antitesis dari segala tesis mapan dalam peliknya kehidupan sosial. Kemunculan teater konon diawali dengan misi kemanusiaan dan kesadaran, juga semangat perlawanan. Seperti yang kita ketahui bersama, sebagaimana realitas perjuangan mahasiswa, dunia teater kampus pra-98 masih memiliki semangat kolektif yang sama: perlawanan Rezim Soeharto. Pada masa-masa represi tersebut, penggiat teater kampus meluapkan bentuk protes pada kebijakan-kebijakan pemerintah dan mulai mengkampanyekan kehidupan pemerintahan yang demokratis. Misi kebudayaan yang berlaku waktu itu adalah ingin menggugah keberanian masyarakat untuk turut melakukan perlawanan bersama untuk menuju sebuah kehidupan bernegara yang lebih leluasa dan beradab. Namun, di tengah ruang gerak yang sempit tersebut—terlepas benar atau tidak keputusan menggulingkan orba—penggiat teater justru tertempa baik secara fisik maupun kesadaran untuk menghadirkan konsep (naskah, setting panggung, dan penghayatan peran) lebih matang ketimbang hari ini. Pertunjukan yang dihadirkan penggiat teater kampus pra-98 dalam setiap kesempatan—pada saat itu, bersama dengan organisasi mahasiswa lainnya—mengusung tema yang hampir seluruhnya bernapaskan perlawanan terhadap rezim. Pasca 98, penggiat teater seperti kehilangan gairah untuk melanjutkan tugas-tugas kemanusiaan melalui wacana dan literasi kebudayaan yang disampaikan lewat pertunjukan. Sehingga pertunjukan teater hari ini tak ubahnya pupur bedak yang terus pudar dari waktu ke waktu. Yang paling miris adalah teater hari ini dimaknai hanya sebatas hiburan dan melupakan substansi esensialnya. Hilangnya gairah di dunia perteateran hari ini lebih banyak pada disorientasi arah ide dan gagasan yang membuat penggiatnya mengalami stagnasi kreatif. 

Hal ini membuat pertunjukan yang dihadirkan tidak lebih dari sekedar rutinitas, lain tidak! Kurangnya pendalaman wacana, terutama pada literasi kebudayaan membuat proses kreatif tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini bisa dilihat dari dua hal: Pertama, kurangnya penghayatan yang membuat aktor gagal pada proses “menjadi”; Kedua, pesan yang disampaikan hanya berkutat di kulit luar dan bukan pada makna terdalam atau makna filosofis. Sehingga wajar, dalam sebuah pertunjukan penonton diam-diam diliputi pertanyaan: semua itu untuk apa? Ini membicarakan apa? Disamping itu, yang patut menjadi catatan bagi para penggiat teater di UTM adalah terlalu mudah hanyut pada alam pseudo. Artinya, meski tema-tema yang dihadirkan kebanyakan tema-tema sosial dan persoalan terkini, namun kerap mengalami kegagalan dalam penyampaian pesan. 

Karena umumnya penggiat teater UTM kerap menyajikan jenis teater absurd, dimana para penikmatnya belum siap untuk menerima dan mencerna pesan yang disampaikan. Dan yang terpenting adalah kegagalan penggiat UTM dalam menggugah semangat kepedulian pada banyak persoalan hari ini. Hal ini rupanya luput dari perhatian penggiat teater mahasiswa UTM. Barangkali dunia teater kampus telah abai dengan nilai-nilai kebudayaan historis sebagai penyampai pesan atas kompleksitas tatanan sosial dan kebudayaan di masyarakat. Patron-patron pertunjukan yang ditawarkan penggiat teater kampus tidak sanggup membawa penikmat masuk ke dalam pertunjukan yang dipentaskan. Teater kampus hari ini telah kehilangan legitimasi sebagai ruh dari akar kesenian. Lebih dari itu, dalam hal sumber daya manusia di organisasi kesenian dan teater gagal melakukan proses pengkaderan, dimana selama ini perekrutan yang ada hanya berdasarkan kuantitas, bukan kualitas. 

Sehingga proses pencapaian personal oleh para penggiatnya gagal ditingkatkan. Bahkan loyalitas dalam tubuh organisasi teater kampus bisa dibilang masih sangat kurang. Proses semacam ini tak akan memberikan pengaruh berarti bagi kemajuan organisasi teater di kampus. Dan yang paling penting adalah penggiat teater kampus hari ini melupakan hal-hal yang justru sangat substansial dalam proses kreatif, diantaranya adalah perjalanan, interaksi dengan masyarakat, dan pengenalan (yang serius) pada alam. Tapi bukankah perguruan tinggi memiliki ruang bermain yang memungkinkan mendapatkan kebebasan mutlak dalam konteks berkreasi dan mengapresiasi? Tapi apakah itu penting? Entahlah! 

Ghinan Salman 
13 September 2014

Sastra