Selasa, 06 Mei 2014

PENCARIAN

Oleh : Riris Aditia N

Pagi menampakkan aroma sejuknya lewat rintik-rintik embun yang memantulkan dingin dan basahnya di permukaan kaca jendela. Ia seakan menjadi sinyal-sinyal yang mengirimiku pesan untuk segera bersiap pada perjalanan hari ini. Perjalanan sebagai tanda pradiklat LPM SM yang sedari 2 minggu yang lalu aku ikuti. Perjalanan yang sudah kuekpektasikan akan sedikit rumit, namun aku yakin akan sangat berarti untuk hidupku.

    Aku terus  menatap ke arah jarum jam yang saling berkejaran satu sama lain. Kurasa ingin secepatnya memulai perjalanan hari ini bersama keluarga SM. Tepat ketika jarum pendek hinggap pada angka 10, aku pun bergegas menuju sekretariat bersama 2 teman seperjuangan di asrama. Kami bertiga menyusuri jalanan yang lengang akibat tak ada kuliah yang aktif pada hari itu. Membuat langkah demi langkah kami lebih nyaman dan aman.

    Setibanya di sekretariat, hanya pintu terkunci yang kami dapti, tak ada satu pun dari anggota SM yang tampak. Kami pun memanfaatkan sedikit celah yang ada untuk beristirahat sejenak. Namun, hampir setengah jam dari waktu yang dirundingkan, keadaan sekretariat tidak juga menandakan sebuah instruksi agar kami berangkat.

    Akhirnya, kudapati sebuah pesan agar kami ke depan gerbang kampus. Disana, terlihat beberapa senior dan teman-teman seperjuangan berkumpul di sebuah gardu sambil menikmati rindangnya pohon yang teduh. Kami yang baru datang langsung disambut dengan tawaran air es dan beberapa snack yang tergeletak di atas gardu, sembari mendiskusikan strategi apa untuk perjalanan kami nanti. Disitu, kami blak-blakan tentang berapa jumlah uang yang sudah kami persiapkan untuk bekal perjalanan kami. Dan dari 9 teman seperjuangan, kami sepakat masing-masing mengeluarkan lembaran uang berwarna biru bernilai 50 ribu rupiah. Meski ada juga salah satu yang mengeluarkan uang dengan nilai yang lebih rendah dari yang lain, tapi ini bukan masalah. Kami mulai belajar tentang persaudaraan, suka duka kami tanggung bersama. Berangkat bersembilan, pulang pun demikian.

    Bersamaan dengan suara adzan berkumandang, nyatanya kami tak lantas diberangkatkan. Kami mendirikan sholat Dhuhur terlebih dahuludan kembali ke sekretariat. Disana, salah seorang senior memminta kami menanak nasi pada sebuah magic jar yang telah disiapkan. Menit demi menit, kami menanti kepulan asap yang disemburkan dari corong magic jar agar segera habis, menunjukkan nasi telah matang dan layak makan.

    Selembar daun pisang berwarna hijau muda, kemudian kami pilih sebagai piring makan kami untuk dituangi nasi dan beberapa lauk yang telah dibeli. Kami bersembilan menikmatinya bersama-sama, tak peduli salah seorang teman memperlihatkan kuku-kuku panjangnya yang terselip kotoran berwarna hitam yang mungkin adalah sarang bakteri penyakit, hingga menyulap nafsu makan kami dari antusias menjadi sekedar makan daripada lapar. Tapi disini, lagi-lagi kami teringat makna persaudaraan, dimana segalanya ditanggung bersama-sama.

Nasi dalam wadah magic jar pun telah habis seluruhnya. Sementara lauknya habis terlebih dahulu ketimbang nasi. Dari butir-butir nasi itulah, perlahan energi kami muncul dan  bersiap pada perjalanan  yang akan dilakukan. Sebelumnya, do’a bersama dan ajang narsis pada bidikan kamera tak ketinggalan mengawali perjalanan kami yang natinya akan terkenang.

Kami bersembilan bersama 3 senior, pelan-pelan berjalan kaki menuju pertigaan, tempat dimana angkutan umum menawarkan jasanya mengantarkan kami menuju pelabuhan. Kami berjalan sambil menundukkan kepala lekat-lekat, mencegah semburat terik matahari yang kian menyengat, agar tak terlalu menusuk kulit kami yang sudah kering.
Warna-warni air es dan cendol di sepanjang perjalanan seperti sedang tersenyum manis mencuri perhatian kami. Namun apa daya, hidup hemat sedang diperjuangkan. Kami hanya menelan ludah dan makan angin yang berterbangan gratis. Toh akhirnya kami sampai di pertigaan, dan tidak perlu menunggu panjang untuk sebuah angkutan umum bertarif miring, karena saking berbakatnya senior kami dalam hal tawar-menawar tarif angkutan. Sehingga kami pun diberangkatkan menuju kota pahlawan lewat pelabuhan.

Di depan loket pelabuhan, ada sedikit cekcok antara kami dan petugas. Entah masalah pendengaran petugas yang mengira kami tak menyebutkan jenis tiket khusus mahasiswa, atau memang ada suatu kesengajaan demi untung yang sedikit lebih banyak jika memberi kami tiket khusus dewasa. Bagaimana pun, pada posisi ini kami yang dipersalahkan, “Idealisme hanya ada di bangku kuliah,” begitu kata salah senior kami.

Bercampur kesal dan terpaksa memegang tiket yang tak semestinya, akhirnya kami tetap memasuki sebuah kapal berlantai dua. Kami duduk di dalamnya, dan menikamati berbagai pemandangan yang ditawarkan. Aku melihat sebuah perjuangan keras dibalik gorengan tahu yang kehilangan hangatnya, sebuah termos dan beberapa bungkus bubuk kopi instant yang dijual di siang yang terik, hingga nasib semir sepatu yang mulai rindu dengan penumpang bersepatu.

 Hal ini memang wajar, namun yang terlintas di benakku ketika suara kapal mengisyaratkan, “Penyeberangan akan segera usai”, perjuangan mereka justru masih berlanjut, karena kapal terus berjalan, dan karena kapal terus menyeberang. Seperti tak ada batas penyeberangan bagi mereka, meski niat dan mungkin keinginan mereka juga berseberangan dari apa yang sebenarnya. Lalu, sampai kapan bersandar pada perjuangan yang terus-terusan berseberangan? Ini yang kemudian terpikir olehku, aku hanya bisa berdo’a agar yang terbaik dibagi pada mereka. Meskipun pada do’a lainnya, aku juga berujar agar aku tak sampai seperti mereka. Ah… aku masih saja tidak bijak melihat fenomena!

Tunjungan Plaza
Tujuan yang sempat menjadi rahasia senior, akhirnya terungkap sudah yang pertama: Tunjungan plaza. Membuat aku dan teman-teman perempuan teringat betapa elit tempat itu, dan sangat memalukan jika aroma kampung kami tercium disana. Akhirnya, usai sholat ashar di masjid pelabuhan, ada semacam rahasia umum para perempuan yang kami lakukan terlebih dahulu, untuk setidaknya menyamarkan kulit yang kusam akibat keringat dan polusi udara dari perjalanan tadi.

Di Tunjungan plaza, kami dibagi kelompok untuk sebuah tugas wawancara tersembunyi pada pengunjung, penjual, hingga satpam atau petugas lainnya yang ada di dalamnya. Sempat terselip keraguan untuk tugas ini, kami tak memahami betul bahan wawancara apa yang akan kami pilih, dan akhirnya hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana yang kami lontarkan. Mengasah kemampuan bersandiwara juga kami lakukan, karena kami hanya sekedar berpura-pura membeli untuk melancarkan misi wawancara tersembunyi tadi. Namun tetap saja, kami lebih banyak diacuhkan oleh lawan bicara yang tak kami kenal.

Masih tertumpuk rapi hasil wawancara itu, bercampur dengan pertanyaan: kenapa kami ditugaskan seperti ini? Pelajaran apa yang ingin dilihatkan pada kami? Dan akhirnya, aku tak mampu menjawabnya. Aku bersama rombongan melanjutkan perjalanan yang kedua, perjalanan yang juga belum aku tahu bertujuan untuk apa.
Taman Bungkul

Gemerlap malam kian terlihat di tempat ini, sebuah taman dimana gelap malam bukan halangan untuk bersenang-senang. Kilauan titik-titik cahaya bintang yang masih bisa terlihat meski tak sempurna, ditambah warna-warni lampu yang dijadikan permainan anak-anak, menambah semarak taman yang tak sepi dari pengunjungnya.

Di tempat inilah, beberapa senior SM yang lain bertemu dengan kami, tentunya untuk memberi pencerahan tentang perjalanan kami ini. Kami ditanyakan makna dan pelajaran apa yang kami dapat dari Tunjungan plaza, namun jawaban yang kami lontarkan nyatanya disimpulkan sebagai perjalanan yang gagal. Mestinya kami bisa membuka mata kami lebar-lebar, bertanya lebih dalam lagi tentang Tunjungan plaza. Tentang perputaran ekonomi yang kian rumit dibanding hanya sekedar pedagang asongan seperti yang kami lihat di Taman bungkul. Perputaran ekonomi, dimana hanya seorang yang memegang untung dari berbagai stand di dalam Tunjungan plaza, dan bukan masalah apa-apa biarpun kami tak menyumbang rupiah karena tak belanja disana. Berbeda jika rupiah tersebut diserahkan untuk pedagang asongan.

Kami mulai berkaca, betapa masih dangkal yang kami pikirkan tentang Tunjungan plaza. Perjalanan pun kami lanjutkan di taman bungkul. Kami dibagi kelompok menjadi 2 orang, laki-laki dan perempuan. Perjalanan di taman ini tak jauh beda dengan yang pertama, masih tentang mengamati lebih dekat sebuah fenomena. 

Lagi-lagi kami tersadar betapa masih dangkal pandangan kami tentang taman ini. Disini, kami diingatkan tentang awal mula taman bungkul yang hanyalah sebuah wisata religi untuk ziarah, dan sekarang alih fungsi sebagai ruang hiburan, dimana muda-mudi lebih banyak menampakkan dirinya hingga larut malam sekalipun.

Stasiun Wonokromo
Perlahan aku mencoba belajar peka tentang sebuah fenomena, karena hal inilah yang sebenarnya diajarkan pada perjalanan ini. Namun, tujuan yang ketiga agak lain dari yang sebelumnya, stasiun Wonokromo, tempat dimana lokalisasi prostitusi dijalankan seperti gerakan bawah tanah. Situasi mencekam, menakutkan dan menegangkan membuatku semakin deg-degan setibanya di tempat ini. Disini, kami tetap berkelompok 2 orang (laki-laki perempuan), namun bedanya kami diintruksikan untuk pura-pura tidak saling mengenal satu sama lain, bahkan juga dengan senior kami. Aku bersama teman sekelompokku, memilih sebuah warung untuk mengamati lebih dekat tentang fenomena di tempat ini. Ternyata yang kami dapat adalah sebuah nasehat dari seorang bapak, agar kami cepat-cepat keluar dari tempat ini. Agar kami terhindar dari fitnah dan razia yang dijalankan di tempat ini.
Nasehat bapak itu semakin membuatku tegang dan ketakutan, membuatku gugup dan seperti tak nyaman ketika mencoba keluar dari sana, karena tiba-tiba sebuah obrakan tentang adanya razia diumumkan salah senior kami secara diam-diam. Kami berdua cepat-cepat keluar dan mencoba lari dengan tenang, meskipun pada akhirnya tidak bisa sempurna. Tapi syukurlah, kami ssemua selamat.

Setelah melihat langsung bagaimana situasi sebuah lokalisasi kian panik dan rumit seperti itu, kami mulai melihat fenomena ini secara positif. Melihat bahwa tidak dibenarkan jika seburuk-buruknya wanita adalah PSK. Tidak berhak untuk siapapun menilai mereka dengan cara rendahan, bagaimanapun dan atas alas an apapun.
Sebuah malam yang panjang bagiku adalah hari ini, 21 September 2013, dimana aku merasakan sendiri sebuah perjalanan mendalami fenomena biasa, namun menyimpan banyak hal yang tak biasa. Bersamaan dengan memandang langit malam yang luas dan permai oleh bintang-bintang yang bersinar, aku merasa teduh dipayungi secara langsung oleh langit malam disertai angin dingin sebagai selimutnya. Mencoba tertidur di pinggiran rel kereta api yang tak pernah tidur adalah penutup yang cukup sempurna untuk perjalanan hari ini.


Pasar Waru
Pagi-pagi buta, kami berlanjut lagi untuk sebuah perjalanan mencari makna kehidupan. Kali ini, di sebuah pasar yang tak teratur dengan rapi, dengan bau-bauan yang tak jelas, dan  lagi-lagi kami harus  mampu menguak sebuah pelajaran bermakna darinya. Sepanjang jalan raya, hingga bahkan di tengah-tengah rel kereta api sekali pun

Sastra