Selasa, 06 Mei 2014

PERJALANAN YANG PENUH MAKNA

Oleh : Azis

Saat untuk berangkat Pra-diklat makin dekat, dan sejalan dengan itu bayangan yang tidak menyenangkan mulai berdatangan. yang terutama memanggil-manggil adalah suara bentakan dari senior, tidur yang hanya sebentar dan acara yang sangat membosankan. Dari sidoarjo saya mulai menyiapkan apa kebutuhan yang harus dibawa untuk Pra-diklat, dan kemudian mulailah saya berangkat menuju kampus tercinta, kami berkumpul disana untuk berangkat bersama. Sesampai di kampus, kami tidak langsung berangkat. Kami masih harus menunggu teman-teman yang lain. setelah semua berkumpul ternyata kami tidak langsung diberangkatkan. Entah apa yang direncanakan para senior itu, yang jelas kami harus mematuhinya. Sampai waktu jam makan siang pun tiba, kami (para peserta pra-diklat) diberi sekantong beras. Kami masak beras itu menjadi nasi untuk menjadi makan siang kami, dan untuk lauknya kami membeli makanan seadanya untuk dinikmati. Setelah nasi matang dan lauk pun sudah di dapatkan, kami menyantapnya bersama-sama. Rasa kebersamaan ini sudah lama tak ku rasakan. Ketika kami makan, kami diberitahu tujuan kita untuk pra-diklat kali ini. Yaitu di kota Surabaya. Maka di waktu sore hari sekitar pukul 15.00 kami pun berangkat dari kampus menuju kota Surabaya, tepatnya di Tunjungan Plaza, dan serunya adalah kita menuju kota Surabaya dengan menggunakan angkutan umum. 

Hal yang tak pernah ku rasakan. Yang biasanya aku berpergian menggunakan Ninja orange ku (Sebutan untuk motorku yang unyu) sekarang harus naik angkutan umum, bagiku ini sebuah momen yang menarik. Kami pun berjalan menuju pertigaan kampus untuk memberhentikan mikrolet. Mikrolet pun mulai terlihat dan mas ilham senior kami langsung melambaikan tangannya untuk memberhentikan mikrolet tersebut. Ketika mikrolet berhenti, kami pun bergegas menaiki mobil tahun 90-an tersebut, kami pun berangkat menuju pelabuhan kamal dengan mobil yang sangat sempit dan pengap. Ya sudahlah, kami harus tetap menikmatinya. Sesampai di pelabuhan kami ganti naik kapal, dari pelabuhan kamal menuju pelabuhan Tj.Perak . melewati selat yang airnya berwarna kecoklatan, begitu keruh dan banyak sampah yang mengambang. Entah kenapa mereka membiarkan air laut yang seharusnya berwarna biru merubahnya menjadi warna kecoklatan, atau mungkin mereka tak suka dengan warna biru sehingga mereka merubah air tersebut menjadi kecoklatan? Entahlah, yang jelas setiap orang yang melewati selat itu menjadi tak nyaman. Selat Madura pun akhirnya kami lewati dengan selamat. Sesampainya kami di pelabuhan Tj.perak kami berjalan menuju terminal, dan kami naik bus untuk menuju Tunjungan plaza. Di perjalanan itu mata kami di manjakan dengan gedung-gedung bertingkat, begitu mewah dan berdiri dengan kokoh. Kami pun juga melewati Tugu pahlawan yang katanya menjadi saksi dari perjuangan melawan belanda. Sungguh mengagumkan. Kami juga melewati hotel majapahit yang bentuk arsitekturnya seperti bangunan belanda, banyak fotografer yang berburu foto di tempat tersebut. 

 Setelah kami melewati hotel majapahit, tibalah kami di depan tunjungan plaza. Disana kami mendapat tugas dari senior untuk mewawancarai pengunjung yang berdatangan, kami pun di bagi kelompok, satu kelompok terdiri dari tiga orang. Setiap kelompok mulai berpencar mencari target yang bisa di wawancarai. Kelompok ku mendapatkan target, seorang wanita setengah baya yang menenteng beberapa kantong kresek, kami pun menghampirinya dan mulai bertanya kepadanya. Ketika kami bertanya, ibu itu terlihat memalingkan wajahnya dari kami seperti enggan untuk berbicara pada kami. Kami pun memutuskan untuk mencari target lain. ada seorang bapak-bapak yang sedang berdiri sendiri, kami pun menghampirinya, dengan cara kami mendekatinya, akhirnya kami pun berhasil mengajaknya untuk mengobrol bersama kami, kami rekam semua obrolan dalam otak untuk menjadi bahan laporan kepada senior. Kami juga sempat berbincang-bincang dengan cleaning service yang sedang berjaga di area toilet. Kami simpan semuanya dalam memori ingatan kami. Setelah semuanya terkumpul, kemudian kami balik ke tempat senior menunggu kita, yaitu di luar area mall. Setelah semua kelompok kembali, kami melanjutkan perjalanan ke Taman bungkul. untuk menuju kesana kami naik metromini lagi. Sesampai di taman bungkul, kami tidak langsung diberi tugas, kami di kumpulkan untuk membahas apa yang kami dapat dari Tunjungan plaza. Kami di Tanya satu persatu. Ketika giliran ku tiba untuk menjawab, aku bercerita tentang tujuan bapak – bapak datang ke Mall itu dan bercerita tentang cleaning service yang mencari nafkah lewat pekerjaannya. Tetapi bukan jawaban seperti itu yang diharapkan oleh senior. Mereka sebenarnya berharap jawaban kami lebih dari itu, tujuan mereka sebenarnya menyuruh kami mendatangi Tunjungan Plaza untuk membuat kami agar bisa membaca suatu situasi yang ada di tempat tersebut. Sebenarnya mereka berbelanja di Tunjungan Plaza hanya untuk sebuah gengsi, dengan mereka berbelanja barang – barang yang bermerek membuat mereka berfikir untuk bisa pamer ke masyarakat. Mereka tak pernah berfikir bahwa dengan mereka berbelanja di Mall – Mall yang besar dan berbelanja barang – barang yang bermerek, mereka dapat membunuh pengusaha kecil. Padahal dari segi kualitas mereka sama – sama mempunyai kualitas yang baik. Bedanya barang – barang yang ada di Mall bermerek. Dari penjelasan senior tadi sedikit membuka pandangan kami tentang penting menghargai karya pribumi dan mengajarkan berempati kepada orang lain. Setelah membahas apa yang terjadi di Tunjungan Plaza kami diberi tugas untuk menganalisa apa yang terjadi di area taman Bungkul. Padahal sebenarnya taman Bungkul adalah sebuah makam seorang kyai yang taat pada ajaran agamanya. tapi mengapa banyak warga sekitarnya membuat tempat tersebut menjadi tempat melampiaskan canda tawa mereka. Banyak komunitas yang malah dengan bangganya memamerkan keahlian yang mereka punya tanpa memikirkan apa yang sebenernya berada di taman bungkul tersebut. Dan dengan sendirinya pertanyaan itu masih menjadi sebuah pertanyaan besar bagi kami. 

 sekitar pukul 12 malam, kami melanjutkan perjalanan ketempat selanjutnya, tak jauh dari taman bungkul. Kami pun berjalan munuju tempat tersebut yang akhirnya kami tau tempat yang kami datangi adalah sebuah tempat portitusi di stasiun wonokromo atau yang sering di bilang Jl.jagir. sesampai disana kami di bagi kelompok lagi, tapi satu kelompok terdiri dari dua orang. Kami di suruh mengamati bagaimana mereka ber transaksi. Banyak warung yang berjejer di sekitar tempat itu, mereka bertransaksi di belakang warung, dan ternyata warung itu hanya sebagai kedok penutup tenda tenda tempat mereka bekerja. Ketika ku duduk di warung tersebut aku melihat seorang wanita berjalan menghampiri segerombolan pria dengan terkesan menggoda mereka. Sampai pada akhirnya ada dari salah satu mereka tertarik dan mengajak perempuan tersebut masuk kedalam tenda. Ketika aku dan riris duduk di warung, aku memesan sebuah teh hangat. Tak sadar ada seorang pria menghampiri kami, kami di peringatkan untuk segera meninggalkan tempat ini karena tempat ini tidak baik buat kami, yaitu aku dan riris. Mereka menjelaskan kami bahwa ini tempat portitusi, pria itu takut apa bila ada razia, kami akan ikut terjerat. Dengan rasa cemas aku menghabiskan minumanku. Ketika hendak pergi, kami mendengar seseorang berteriak razia. Kami berpikir mungkin itu polisi. Dengan tergesah gesah kami keluar dari tempat itu. Kami melihat suasana di sekitar kami. yang awalnya banyak para laki laki bergerombol mulai membubarkan diri, tenda tenda di sekeliling warung mulai di bereskan oleh para pemiliknya. 

Stelah kami keluar dari tempat itu kami semua dikumpulkan para senior di sebuah warung kopi di dekat jalan raya yang sedikit jauh dari tempat portitusi. Kami membahas apa makna yang bisa kita dapat dari tempat tersebut. Tanpa adanya tempat portitusi, bagai rumah tanpa ponten, pasti orang dengan seenaknya membuang kotoran di manapun dia suka, sama seperti tempat portitusi. Kalau taka ada tempat portitusi dimana para pelaku sex dapat melampiaskan nafsunya, pasti kota Surabaya ini mungkin dimana mana akan ada orang yang melampiaskan sex dan nafsunya tak mengenal tempat. Tanpa ada tempat portitusi, para pemilik warung di sekitar tempat itu takkan bisa membiayai kebutuhannya sehari hari, dan seharusnya para wanita baik bersyukur, karena dengan adanya PSK mereka bisa disebut wanita baik baik. Dari situ aku membuka mata, kita harus menghargai setiap manusia sehina apapun pekerjaannya. Setelah membahas tentang tempat portitusi kami pun di beri waktu untuk tidur, meskipun hanya satu jam. Sekitar jam 04.00 kami di bangunkan untuk menuju tempat selanjutnya, yaitu pasar tradisional di waru sidoarjo. Sampai disana tugas kami masih sama, yaitu menganalisis apa yang terjadi di pasar waru. Kami pun mulai disebar sesuai kelompok masing masing. Dengan berjalan menelusuri pasar, kami pun mulai menjalankan tugas. Ku pandangi sekitar pasar, banyak pedagang duduk di pinggir jalan bahkan di tengah-tengah rel kereta api untuk menjajakan dagangannya. Dengan senyuman ramah yang mereka miliki mereka mencoba menawarkan dagangan yang pembeli butuhkan. Setelah kami menelusuri pasar kami membahas apa yang ada didalam pasar. Ternyata banyak keajaiban yang bisa kita ambil dari tempat itu. Banyak keajaiban di dalam sana. 

Mereka datang pagi pagi buta sekitar jam 02.00 pagi mereka membawa sayuran segar untuk dijual. bagaimana mungkin mereka bisa mencukupi kebutuhan sayuran untuk penduduk Indonesia setiap harinya. Padahal kita tahu bahwa sayuran yang di tanam mebutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk bisa dipanen. Tapi mereka dengan hati yang ikhlas, memutar otak mereka untuk memenuhi kebutuhan sayur kita setiap hari. Padahal untung yang mereka dapatkan tak sebanding dengan kerja keras yang mereka lakukan. Sedikit lagi pelajaran yang mampu membuatku untuk menghargai apa yang ku punya sekecil apapun itu, dan juga mengajarkanku untuk berempati merasakan apa yang dirasakan para pedagang di pasar. Setelah kami dari pasar waru kami berjalan menuju terminal bungurasih yang jaraknya kira kira 2 KM dari pasar waru. Sesampainya disana kami mencari warung terdekat untuk membeli makan. Sarapan kami pagi ini adalah nasi pecel dengan lauk tempe, tahu, dan kerupuk. Dengan lahapnya kami memakan nasi itu bersama-sama. Setelah makan kami berkumpul lagi untuk mendapatkan tugas dari senior. Kami di perintahkan bertanya kepada penumpang, calo, pengamen, dan pedagang yang ada di terminal. Kami di suruh mencari apa yang terjadi di terminal bungurasih. 

Selanjutnya kami di bentuk kelompok untuk berpencar. Setelah kita berpencar, tak sulit untuk mendapatkan calo. Banyak orang yang menawarkan kami berbagai tiket. Tapi yang sulit adalah bagaimana cara kita untuk mengajak mereka mengobrol dan menanyakan sebuah pertanyaan mengenai masalah yang ada di terminal bungurasih. Kami pun akhirnya mencari dari yang termuda dahulu, yaitu bertanya kepada salah satu penumpang yang akan menuju ke jawa tengah. Intinya dari semua orang yang kami wawancarai mengatakan bahwa di terminal bungurasih banyak sekali kriminalitas yang membuat resah para pengunjung terminal bungurasih, maka dari itu bungurasih harus mempunyai pengamanan yang sangat ketat untuk menjaga para pengunjungnya. Setelah kami membahas apa yang terjadi pada terminal bungurasih, kami pun diajak untuk pergi ke basecamp LPM surabaya. 

Sesampai kami di basecamp LPM, kami di perintahkan membersihkan basecamp untuk tempat kami beristirahat. Setelah kami beristirahat, malamnya kami diajak untuk ngopi di dekat rel kereta api. Disana kami bercanda dan tertawa secara lepas, tanpa beban yang kami lewati kemarin. Setelah berkumpul bersama teman teman kami pun kembali pulang ke kampus. Dari perjalanan diatas, kami diajarkan bagaimana cara memandang hidu, cara menghormati sesama manusia, cara berempati kepada lingkungan, dan cara menghargai apa yang kita miliki sekecil apapun itu.

Top Ad 728x90