Selasa, 06 Mei 2014

LANGKAH BARU

Oleh :Katin

Tepat pukul 09.15 aku teringat sesuatu akan mimpi ku. Aku pun bergegas memasuki kamar mandi dan menyegarkan badan. Betapa menggugahnya hari ini. Tepat diatas kasur yang panjangnya lebih satu jengkal dari badanku. Aku melirik tas ransel coklat bertuliskan “ungu” yang artinya sipemilik adalah penggemar band ungu.
Ku raih tas itu dan perlahan ku buka,”sip,sudah lengkap” cetusku. Ku rasa, aku sudah siap melangkahkan kaki yang entah akan sampai mana dan dimana tempat yang akan dituju. Dengan stelan clana jeans dan atasan hem kuning tak lupa jilbab yang setia menutupi rambut hitamku. Aku mulai melangkahkan kaki ini menuju gerbang asrama.
Aku akan menunggu dua saudara baruku, namanya Dian dan Riris. Sosok baru yang rasanya telah lama ku kenal. 15 menit berjalan, akhirnya kami bertiga sampai ditempat. Inilah rumah baru kita “sekret” begitu kami menyebutnya. Disini kami akan belajar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Bukan hanya itu, kami juga mempunyai tanggung jawab besar untuk kehidupan. Untuk hidup kami, juga orang-orang disekitar kami.
“assalamu’alaikum. . . .”, kami mencoba memastikan adakah makhluk didalam sana. Berkali-kali kami mengucapkan salam tapi pintu ini tetap saja tak bergidik. Kami pun memutuskan untuk menunggu didepan sekret. Tak lama kemudian, Erna dan Ike datang mereka juga saudara baru kami. Akhirnya,kami memutuskan untuk menghubungi salah satu saudara kami. Namanya Aji, satu dari empat laki-laki yang ada diLPM.
“dimana ji. . . .?” sent to: Aji.
Reply: “depan gerbang. . .”
Kami berlima merasa tertipu dengan sms itu.
Setelah sampai digerbang, sejenak kami merebahkan tubuh untuk melepas lelah. Ternyata semuanya telah berkumpul disitu, ada ka’ Ilham, ka’ Ginan, Aji, Azis, Hasbi, Ishak, dan ka’ Dafir. Dan untuk kedua kalinya kami merasa tertipu. Belum lama duduk, kami sudah diajak balik ke sekret.
Tapi disela-sela itu, kami tetap melakukan diskusi untuk membahas perjalanan nanti sore. Dan hasilnya, kami sepakat mengeluarkan uang 50 ribu per-kepala. Lain  dengan hasbi, karena sisa uang yang ada didompetnya tinggal 15 ribu, ya. . itu yang bisa dia bayar. Kami menerimanya dengan senang hati. Disini kami juga sepakat untuk menjaga satu sama lain. Satu tidak makan semuanya tidak makan, satu sakit semua juga sakit.
Sekitar pukul 14.00 acara makan-makan pun berlangsung. Sekali lagi inilah kebersamaan, tidak ada yang tinggi ataupun rendah. Karena hakikatnya semua manusia itu mempunyai drajat yang sama disisi allah. Hanya saja yang membedakan adalah keimanannya. Bukan sebuah harta atau tahta.
Namun, terkadang manusia lupa akan tugas sebenarnya dibumi. Mereka lebih mengejar  sebuah jabatan dari pada mengejar kebaikan untuk saling berbagi. Makan siang pun usai, sebelum berangkat upacara syakral pun kami lakukan. Berdo’a untuk keselamatan diperjalanan nanti.
Tiba dipertigaan kami langsung menaiki angkot karena waktu sudah cukup sore. Ada pemandangan yang membuat ku bertanya-tanya, satu lingkup gedung yang diselimuti rindangnya rerumputan berdiri lusuh dengan atap dan jendela yang rusak. Sepertinya ada misteri dibalik kesedihan itu. Aku pun melerai lamunan ku dan mulai menikmati perjalanan. Jalan madura yang bergelombang dengan tiap sisi jalan terlihat kesibukan orang-orang. Kendaraan yang hilir mudik satu persatu hingga pohon yang melambai-lambai diterpa angin. Semuanya terasa menyatu dan melengkapi panasnya sore ini.
Dari kejauhan angin laut mulai menyapa kedatangan kami, tidak ada bau yang aneh selain knalpot angkot yang hitam legam dengan awak badan mulai mengelupas sana sini. Sedang sang sopir yang sibuk dengan penumpangnya mulai berlari-larian ntuk berebut rezeki. Satu dua orang sangatlah berarti buat mereka. Terkadang konflik antara satu sopir dengan sopir lain pun tak terelakkan.
Suara pedagang yang khas dengan logatnya mondar-mandir menjajahkan dagangannya meski mayoritas lebih memilih duduk santai nunggu pembeli datang. Sungguh sebuah pemandangan khas pelabuhan. Didepan sana terlihat kapal yang berjajar acak mengaung menerjangi ombak lautan. Namun sayang, dari pertama kali aku menjejaki pelabuhan ini aku kira ni bukanlah lautan. Disepanjang bibir lautan yang aku jumpai hanyalah warna air yang keruh dengan sedikit hitam bercampur sampah plastik yang mengenang dipermukaan. Apa yang kami bisa lakukan untuk masalah ini ?
Lepas dari masalah itu, kami melanjutkan perjalanan dan menikmati pemandangan ditengah-tengah lautan. Sesekali goyangan ombak terasa memusingkan kepala. hampir setengah jam an kami menikmati angin laut yang tenang ini. Kami pun memasuki pelabuhan perak dan memutuskan untuk sebentar mengistirahatkan raga kami, untuk membasuh muka lusuh kami dan sekalian shalat ashar.
Hampir mendekati maghrib rombongan kembali menjejeki jalan yang mulai remang-remang. Bus yang kami tumpangi berhenti persis dikiri jalan. Aku mulai melihat  sebuah kemewahaan ditempat ini. Gedung yang berjajar tinggi lampu neon yang kerlap-kerlip juga pohon dan bunga yang menghiasi setiap celah jalan menuju pintu masuk. Semua terkombinasi dengan teratur.
Dan inilah tugas kami, ka’ ilham dan ka’ robi menjelaskan apa yang harus kami lakukan didalam sana. Ya .. di Tunjungan Plaza. Rasanya tidak mungkin dengan gaya seperti ini kami harus masuk kedalam sana. Minder itu pasti. Tapi untuk apa rasa minder, kenyataanya tidak ada seorang pun yang memperdulikan kita. Didalam sini, semua sikap manusia bersatu. Intinya semua berjalan dengan rasa individual.
Langsung saja, kami masuk dengan kelompok masing-masing. Tugas kami adalah mengamati apa yang ada didalam. Kami melakukan wawancara dengan berbagai profesi, ada satpam, penjual, pembeli dan psg. Semua terbilang lancar “masih menurut kami”. Tak butuh waktu lama kami memutuskan untuk keluar, diperjalan aku sempat berfikir  betapa egoisnya dunia, betapa munafiknya dunia. Demi sebuah kemewahan, tuntutan modernitas dan perkembangan zaman  yang malah membawa kita keperadaban yang salah ternyata malah kita bangga-banggakan. Itulah kehidupan kita sekarang yang seharusnya patut kita ubah.
Setelah semua kelompok berkumpul, kita semua bergegas meninggalkan kemewahan dibelakang kami. Sebuah kemewahan ditengah-tengah kota besar. Langkah kaki pun semakin berat, rasa kantuk dan lelah menghinggapi mata kami. Masih harus menunggu angkot untuk tujuan dan tugas selanjutnya. Sorot lampu yang ditunggu-tunggu pun datang dengan sedikit nego akhirnya kami berangkat dengan mata yang “sepet” dipandang.
“fiuh. . .fiuh” angin dari celah jendela sesekali menghantam wajah. Bau khas bapak angkot bersatu padu dengan datangya angin. Sehingga bau khas itu terendus kuat dipenciuman. Tak lama kemudian pak sopir menginjak rem dan roda-roda mobil mulai melaju pelan hingga akhirnya berhenti. Suasana malam semakin terasa, kala lampu disekeliling jalan bersinar terang menghiasi aspal hitam dibawahnya.
“Taman Bungkul” tempat kedua yang akan kami amati. Sebelum itu kami menemui dua senior yang ajaib dan jenius itu, mereka adalah ka’Devi dan ka’ Citra. Kalau sudah melihat mereka, nyali pun ciut dan minder banget rasanya.
Setelah menghabiskan waktu untuk bercengkrama kami pindah tempat diluar lingkaran taman. Shering dan meluapkan keganjalan hati tentang kunjungan kita di Plaza tadi. Intinya tidak ada kehidupan yang tidak saling berkaitan, semua yang terjadi dalam hidup itu relavan. Tapi mayoritas orang menganggap hidup ini adalah perkembangan zaman. Yang dimana kita harus mengalir mengikutinya tanpa melihat apakah aliran itu sesuai dengan apa yang kita inginkan dan apa yang kita mampu.
Dan hal ini juga yang aku dapat diTaman Bungkul. Sekali lagi perkembangan zaman malah membuat masyarakat menutup mata dengan realita.
Tepat pukul 22.30 kami menuju tempat ke tiga, karena tempat yang tidak terlalu jauh kaki memutuskan untuk jalan kaki. Ditemani dengan pemandangan malam yang ramai dan sapaan angin yang ramah, tak terasa langkah kaki pun terhenti. Stasiun Wonokromo, sebelumnya nama tempat ini tidaklah asing. Kami pun kembali berdiskusi ringan, ka’ dafir, ka’ ilham dan ka’ ginan mengingatkan kami untuk berhati-hati dan tidak bertingkah aneh-aneh. Sebelumnya tidak ada nasehat sekeras itu, entah sebenarnya tempat apa ini.
Pembentukan kelompok mulai dilakukan, Azis dan Riris berangkat lebih dulu, kemudian aku dan Aji disusul Diyan dan Ishak, Hasbi dan Erna dan yang terakhir Ike dan ka’ Ginan. Pertama, saat langkah kaki mulai menyentuh kerasnya tanah dan telingga yang tercekoki berita-berita tentang stasiun ini. Langkah kaki ku terasa amat berat. Jantung berdebar lebih kencang dari biasanya dan tubuh ikut bergetar. Tugas kami adalah mencari berita tentang stasiun ini dengan cara diam-diam.
Sampai disebuah warung kopi yang sederhana, aku dan Aji duduk kemudian memesan dua gelas kopi hangat. Sekali lagi, tubuhku rasanya bergetar,  pemandangan yang sangat baru bagiku. Disetiap sudut jalan para lelaki mondar mandi seakan mengancam kedatangan kami.sesekali terlihat para wanita yang bergidik dipinggir jalan menawarkan dirinya. Seorang bapak menghampiri kami dan mengatakan hal yang lagi-lagi membuat aku lemes dan salah tingkah. Lewat pesan singkat aku mengajak Aji untuk segera pergi dari tempat ini, meski ada ka’ Novi yang diam-diam mengikuti kami aku tetap tidak tenang.
Setelah kopi kami habis, kami segera meninggalkan warung itu. Ditengah jalan kami dikagetkan dengan dua senior kami. “razia-razia” teriaknya. Refleks kaki ku bergerak cepat dan lebih cepat. Aku serasa ada diantara hidup dan mati. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat disebuah warung kopi yang jauh dari tempat tadi. Disitu kami menghabiskan waktu untuk sedikit menyadarkan diri. Betapa kerasnya hidup para perempuan-perempuan itu, hidup yang menuntut mereka untuk bekerja lebih berat dan ada diantara bahaya yang kapan pun dapat datang begitu saja.
Ternyata negara ini tidak lebih dari sebuah istana yang penuh dengan ketidak bahagiaan. Pincang dengan aturan dan jauh dari kata makmur. Sebuah kenyataan yang baru ku tau dan ku pahami. Kami pun melewati malam dipinggiran rel kereta yang tenang. Pagi ini kami akan menuju tempat yang terakhir yaitu sebuah pasar. Tugas kami masih sama mngamati dan memahaminya. Dan yang kami dapat tidaklah jauh dari yang pertama kami dapat, tentang sebuah kehidupan yang sarat akan perjuangan. Dimana tidak akan ada kata untuk menyalahkan orang lain. Karena sesungguhya mereka  juga punya alasan untuk kehidupannya.
Empat tempat telah kami lewati, ternyata tugas kami belum habis. Setelah dari pasar kami harus menuju terminal bungurasih. Kami istirahat sebentar untuk makan dan melepas lelah. Tanpa membuang waktu misi selanjutnya berjalan, kami harus mewawancarai 2pengamen, 2 calo, 2 penumpang dan 2 pedagang. Sayang.. . aku gagal. Padahal aku dan teman-teman kelompok  sudah mondar-mandir mencari narasumber. Kami pun hanya mendapat informasi sedikit tentang bungurasih.
Tempat yang terkenal dengan penipuan, gendam dan perampokkan. Kami pun meninggalkan semua tentang bungurasih. Dan menuju tempat istirahat di kawasan IAIN Sunan Ampel. Sebuah rumah yang sempit yang kata kakak LPM adalah sebuah Apartemen buat kita. Karena badan sudah lelah dan letih tempat apapun jadi.
Malam pun datang, waktu nya  melepas penat dengan santai minum kopi dan tertawa bersama. Suasana yang sangat sulit untuk ku dapatkan ternyata ada diorganisasi ini. Akhirnya inilah cerita ku, tentang aku, saudara baruku dan kakak-kakak LPM-SM, juga LPM-SM sediri. Selama 2 hari 2 malam ada banyak hal yang aku dapatkan terutama tentang kepedulian kita terhadap hidup orang lain, tentang lingkungan ini, dan tentang negara ini. Kita adalah pelaku masa depan yang harus membawa perubahan.  

Sastra