Selasa, 06 Mei 2014

,

Catatan 4 Gerbang

 Oleh : Riris

    Gerbang-gerbang kulewati tanpa aku berhasil membebaskan pelik kehidupan orang-orang di dalamnya. Catatan yang sempat kutulis disana, besok akan kusampaikan pada pak presiden. Ah, dia terlalu jauh di Jakarta. Tak mungkin membaca koran lokal yang cuma dijual di Surabaya. Kalau begitu biar pak gubernur atau walikota yang membacanya. Di kantornya pasti berlangganan koran lokal yang memuat catatanku. Akan kutunjukkan di dalam catatanku, ada banyak gerbang sedang menunggu dibukakan gemboknya. Kupikir di tangan orang-orang pemerintahanlah kunci-kunci gerbang digenggam erat. Semoga catatanku mempertemukan gembok dan kucinya yang terpisah.
***
Bandara Juanda, Surabaya
    Barangkali aku salah menerka-nerka istilah, maklumi saja. Aku tak cukup pengetahuan tentang tempat-tempat elit layaknya bandara. Sehari-hari aku memasuki gerbangnya cuma untuk memenuhi kepentingan antar jemput pelanggan tiket yang memesan padaku. Kadang, saat terlalu lama menunggu kedatangan pelanggan, aku memilih berkeliling bandara. Hitung-hitung sebagai hiburan karena disuguhi fasilitas mewah, pikirku. Saat-saat begitu, tak jarang seseorang minta padaku untuk diantar ke suatu tempat. Ada yang meminta ditunjukkan arah toilet, terminal-terminal, atau café-café tertentu. Bahkan pernah yang meminta dibawakan kopernya karena mengira aku adalah kuli koper. Ah, profesi calo tiket ternyata tidak nampak di perawakanku.
     Tapi bukan soal pekerjaan sehari-hariku yang ingin kusampaikan. Aku ingin  berbagi potret yang kutangkap kian miris di bandara. Pertama kali saat aku kesini, aku perlu uang saku 20-50 ribu hanya sekedar untuk membayar seseorang yang menunjukkan arah tertentu padaku. Bayangkan, hanya menunjukkan arah-arah sederhana bisa rupa uang yang lumayan. Berbeda ketika aku tersesat di jalanan, lalu aku bertanya pada tukang becak, maka cukup ungkapan terimakasih yang perlu kubayar.
Bukannya aku ingin mengadu soal harga-harga, tapi kupikir-pikir, ini bakal jadi benih kapitalisme yang tumbuh subur di tanah kita. Aku takut negara kita ini benar-benar akan menjunjung tinggi yang namanya kapitalisme itu. Aku takut jika uang dijadikan orientasi, korupsi-korupsi juga bakal mewabah ke perkampungan.
Huh, sepertinya aku sudah cukup ngawur membicarakan ini. Aku sangat tidak tau diri, cuma seorang calo tiket ngomongnya kapitalisme. Tapi memang begitu yang kulihat. Tak cukup 20-50 ribu saja yang perlu kupersiapkan. Jika aku menginginkan makanan atau minuman tertentu di bandara, lidah dan juga kantongku perlu beradaptasi dengan stand-stand bermerk yang berjajar. Kebanyakan milik asing yang sudah terkenal dan menjamur cabang-cabangnya. Nah, apa ini yang katanya disebut westernisasi itu? Negaraku benar-benar sudah mulai modern.
Tapi sejujurnya, aku lebih menginginkan anak cucuku nanti tidak ikut-ikutan bermata ijo tau bergaya bule. Aku ingin mereka mencintai budaya moyangnya sendiri. Bukan orang asing dan bukan orang-orang kapitalis.
***
Aku keluar dari pintu gerbang. Kuharap orang-orang yang terlanjur menganak-pinakkan sesuatu yang bukan budayanya juga segera keluar.
    Perjalanan lalu kulanjutkan pada suatu gerbang stasiun. Disana, aku dipertemukan dengan seorang wanita cantik mempesona. Tapi sebelumnya, kumohon jangan libatkan dia dengan sesuatu yang kusebut otak kapitalis.
Stasiun Wonokromo, Surabaya
    Malam itu, pertama sekaligus terakhir kali aku bertemu dengannya. Di lokalisasai Stasiun Wonokromo, tempatnya bekerja secara illegal. Aku tak sengaja melihatnya di sebuah warung angkringan yang kudatangi. Awalnya aku hendak mencari secangkir kopi dan 1-2 batang rokok untuk menghangatkan malam yang cukup dingin menusuk tulang.
    Kemudian dia datang menghampiriku dengan cukup memikat. Nafsu birahiku sebagai lelaki yang masih normal, kurasa sedang goyah saat itu. Dia membungkus beberapa bagian tubuhnya yang seksi dengan pakaian mini berwarna mencolok. Dengan begitu aku leluasa memuaskan nafsuku memandangi kulitnya yang mulus. Astaga, bukan soal kecantikan tubuh dan wajahnya yang ingin kusampaikan. Ada sesuatu hal kucatat baik-baik setelah pertemuan dengannya.
“Sejujurnya aku tak cukup uang untuk melakukannya denganmu, ” kataku begitu diajaknya masuk pada sebuah ruang sempit tak sampai 2x2 meter.
“Kau bisa mencicilnya jika kesini lagi, ” jawabnya.
“Tapi aku tidak akan pernah kesini lagi. Kukira tadi aku salah memasuki gerbang, ”
Dia menghela hafas. “Lalu apa maumu?”
“Aku cuma ingin berbagi pengalaman denganmu. Dan aku juga ingin kau membagikan pengalamanmu padaku. Kau wanita yang cukup menarik. ” pujiku padanya.
Dia pun menuruti keinginanku. Dia memang benar-benar wanita menarik. Bermula dari perbincangan soal rokok yang sama-sama kami hisap, kami pun bercerita dengan sangat mengalir dan terbuka. Aku menceritakan padanya tentang hukuman skorsing dari fakultas yang tidak mentolerir kenakalanku di kampus. Kukatakan aku hendak memutuskan kuliahku dan memilih jadi calo tiket di terminal-terminal Surabaya. Dia menertawaiku. Dan tepat setelah itu, dia mulai bercerita banyak tentang perjalanannya.
Air mata kulihat menetes dari sudut matanya. Kemudian dia menghentikan kepulan asap rokok yang dia hisap, dan menaruh putungnya di sebuah asbak. Kuduga dia mulai tak nyaman melanjutkan ceritanya. Dia memilih membuang mukanya dari pandanganku. Pada detik itulah, aku mulai belajar mencuci pikiran-pikiranku tentang stereotipe pekerjaannya.
Dia berpesan padaku, “Kamu belajar yang baik di kampus. Lanjutkan pendidikanmu, dan jangan kesini lagi, ”
Aku terdiam, bahkan tepat saat itu kudengar keributan karena razia di luar, dia masih sempat menasehatiku.
“Cepatlah keluar, ” perintahnya.
“Kau takut digusur?” tiba-tiba aku menanyakan itu.
Dia membantah, “Justru mereka yang menggusur takut jika kami kabur. Ada sejumlah pajak yang mereka makan dari tubuh kami, ”
Miris. Aku tidak tahu apa harus kuperbuat untuknya. Aku pun tidak yakin bisa memberikan pekerjaan pengganti yang lebih baik untuk dia memperoleh rupiah. Aku cuma ingin, tidak akan ada lagi saudari-saudari perempuanku bernasib sama seperti dia.
Jauh dari yang tidak kumasukkan dalam catatanku, aku tidak ingin melihat dia menangis dipaksa keluarganya melacurkan diri. Aku tidak ingin dia mengeluhkan razia yang hampir tiap hari mempermainkan detak jantungnya. Aku tidak ingin dia meratapi uang penghasilannya yang habis dibagi-bagi sampai tak sempat membuatnya kaya. Saat dia membayarkan uangnya untuk pajak, germo, juga membeli bedak dan pakaian-pakaian mahal, aku tidak ingin dia masih memikirkan mau bayar dengan apa ketika razia mendadak mendatanginya. Dan satu lagi, aku tidak ingin pikiran orang-orang sok tahu yang mengaku dirinya suci mengusik kehormatannya.
***
“Tak seperti Dolli, lokalisasi Wonokromo nampak suram dengan prostitusi sembunyi-sembunyian. Aku harap ada sesuatu keadilan bijak bagi orang-orang di dalamnya. Terutama dia, kuharap dia selalu tersenyum manis, tepat seperti kulihat pertama kali, ” tulisku pada sebuah kertas yang sempat kuminta dari pak polisi.
Dari dalam bui, aku cuma mampu mengenang saat-saat aku masih bebas kesana kemari. Melewati gerbang-gerbang dan bermimpi menuliskan kisah orang-orang di dalamnya. Sepanjang yang pernah aku tahu, tak banyak seseorang menyuarakan keluh mereka. Negeri kita sendiri, kulihat-lihat makin aneh kelakuannya. Berita-berita di TV dipenuhi wajah-wajah pejabat korupsi. Semoga saja, calon-calon yang hendak menduduki kursi baru nanti lebih mengerti. Setidaknya mampu mereka kenali pedalaman rakyat-rakyatnya. Kupikir agar tak lagi salah kaprah dalam menulis kebijakan.
***
Pelabuhan Ujung-Kamal, Madura
    Langkahku terhenti. Setibanya di gerbang pelabuhan, bocah-bocah dekil menghadangku seraya tangannya menengadah. Mereka memasang muka memelasnya, disertai rengekan yang meyakinkanku mereka belum makan seharian. Cuaca yang panas siang itu semakin menambah efek keringat bercucuran di dahi mereka.
Siapa bakal tidak iba melihatnya? Bocah-bocah yang mestinya senang melihat pemandangan kapal di lautan, atau setidaknya jika mereka merengek, itu dikarenakan ayah dan ibunya tidak membelikan mainan di sekitar pelabuhan. Tapi mereka lain. Kakinya telanjang, rambut acak-acakkan, baju kotor dan tingkahnya terkadang kurang sopan untuk ukuran peminta-minta. Misalnya ketika seseorang tidak segera memberinya uang, mereka akan menaik-narik baju, memegangi tangan, dan bahkan membuntuti orang tersebut.
Aku merogoh saku celanaku. Sayang sekali, dua lembar uang dua ribuan hanya cukup untuk ditukar sebuah karcis kapal feri menuju Surabaya.
“Kak, minta uangnya kak… ” seorang gadis cilik terus bercelotah dengan bahasa Madura yang tak kumengerti.
“Maaf dik, kakak nggak punya, ” kataku meninggalkannya.
Gadis itu tidak menyerah. Ia mebuntutiku dan sesekali menarik tanganku. Kutatap matanya yang sayu, memperlihatkan sisa semangatnya hanya ukup untuk ia meminta-minta.
“Untuk meningkatkan pendapatan pelabuhan, saya sudah menemukan solusinya. Menurut survei, tingkat ketidakpuasan pengunjung disebabkan aktifitas gepeng yang terlalu liar disana. Jadi lebih baik segera kita adakan langkah penggusuran, ” aku teringat ucapan seorang birokrat pada suatu kesempatan.
Kubayangkan besok setelah penggusuran, jika hendak ke Surabaya dari Madura, aku tidak akan bertemu bocah-bocah pengemis itu di pelabuhan. Entah, akan dipertemukan dimana aku dengan mereka.
“Dik, kamu mau membaginya dengan teman-temanmu? ” akhirnya kuserahkan juga semua uang di sakuku padanya. Senyuman manis dan polos kemudian tergurat dari bibirnya. Ia pun berlalu dariku dan menghampiri teman-temnanya.
Sekarang aku yang sedang membuntutinya. Memastikan, besok nasibnya lebih baik tanpa perlu meminta-minta.
***
Berakhir di sebuah gerbang terminal terbesar di Surabaya, kutuliskan catatan ini.
Terminal Purabaya, Surabaya
    Ada sesuatu yang tak pernah aku tahu tentang kebenaran disini. Sehari-hari yang tertangkap panca inderaku cuma lalu lalang orang-orang yang tergopoh kesana kemari. Beberapa diantara mereka ada yang mencangklong tas-tas besar, menggendong atau menuntun anak-anaknya. Lalu para calo-calo tiket sepertiku bakal menyerbu orang-orang yang nampak seorang calon penumpang. Kemudian asongan-asongan menjual dagangan kecil-kecilnya. Ada penjual koran, mainan-mainan, permen, minuman, hingga tahu sumedang.
    Pernah kudengar seseorang berkata padaku, dia tergopoh bukan takut ketinggalan bus, tapi takut dicopet atau dijambret. Rumor-rumor begitu tak pernah kuindahkan. Toh, aku bisa laris manis menawarkan tiketku disini, pikirku.
    “Mas, kalau bus ke Solo dimana ya?” seorang gadis remaja bertanya pada kami, aku dan teman-teman pengamen terminal yang baru kukenal.
    Kulihat ada semacam isyarat mata ditunjukkan teman-teman pengamen.
“Oh, neng orang Solo ya?”
Gadis itu mengangguk.
“Kalau bus ke Solo jarang disini neng. Biasanya sore-sore nanti. Kami juga mau kesana kok. Mending disini dulu, nyanyi-nyanyi sama kita, ”
Gadis itu menuruti ajakan temanku. Sampai waktu yang cukup lama, dia terus mengikuti alur obolan yang dibuat teman-temanku. Aku bingung, yang begini mesti kusebut iseng, jahil, atau apa? Bodohnya, aku tak juga menyadari ketololanku cepat-cepat. 
Kurasa aku sedang terhipnotis saat itu. Terakhir yang kuingat, aku ditemukan petugas polisi bersama gadis itu. Aku dan dia ditemukan telanjang di sebuah tempat samping terminal. Entah, apa yang baru saja kulakukan dengannya. Dan para polisi itu akhirnya membawaku pergi.
***
 Kututup catatanku lekat-lekat. Kasihan sekali, ia terlanjur masuk saku dan ikut dikurung penjara bersamaku. Gagal sudah rencanaku mempertemukan gembok dan kuncinya yang terpisah. Koran lokal pun tak bakal memuat catatanku.

Top Ad 728x90