Jumat, 04 April 2014

Demo Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus di UTM

 
foto by : B.Wardiman

foto by : B.Wardiman

foto by : B.Wardiman
“Audiensi tidak membuahkan hasil, bukti tidak boleh dipindah tangan, rusuh tak terhindari.” 

Mahasiswa yang kurang puas dengan kinerja pihak kampus akhirnya meluncurkan aksi protes mengenai sarana dan prasarana yang ada didalam kampus (19/03). Aksi yang dipelopori Gerakan Mahasiswa Peduli Kampus (GMPK) ini dipicu oleh keadaan audiensi yang tidak begitu memuaskan. Dari pihak mahasiswa menginginkan beberapa data konkret sebagai bukti perencanaan pembangunan yang telah berlangsung di Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini. Namun pada audiensi ke dua, yang diselenggarakan di rektorat lantai 5. Tidak sedikitpun memberikan jawaban pasti atas pertanyaan yang ada pada benak mahasiswa, Terutama masalah data-data. Data-data tersebut meliputi Rencana Kerja Dan Syarat (RKS), data anggaran yang terdapat pada Rencana Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) , RAB, dan PAGU. Meskipun dalam audiensi telah disampaikan bahwa data-data tersebut tidak dapat dipublikasikan atau dipindah tangankan, mahasiswa tetap bersikeras meminta agar data tersebut dapat di copy. Dari beberapa data yang diminta, pihak kampus menyatakan bahwa hanya data PAGU yang dapat di download karena data tersebut memang diperuntukkan bagi publik. 

Dipertengahan audiensi terjadi sedikit kerusuhan sehingga memicu masa yang telah bersiap diluar kampus untuk turun melakukan aksi. Kerusuhan itu sendiri dipicu oleh jalannya audiensi yang tidak sesuai dengan harapan mahasiswa. Masa pun bergerombol menuju rektorat dengan sepanduk dan beberapa alat orasi lainnya. Tidak cukup dengan itu saja, pecahan kaca bekas terjangan angin yang masih menumpuk dibelakang rektorat tidak luput dari perhatian mahasiswa. Sehingga pecahan kaca tersebut menjadi salah satu alat untuk menyuarakan aksi protes mereka. Hancurnya sebagian kaca dari Gedung Rektorat beserta Gedung Cakra, disebabkan oleh kecepatan angin yang sangat ekstrim mencapai 60 km/jam menurut data BMKG Juanda yang pada saat itu menerjang kawasan Bangkalan, tepat dikampus UTM ini. 

Karena kesal tidak kunjung ditemui pihak Rektor, mahasiswa berhamburan memasuki lantai dasar Gedung Rektorat. Dan menerobos kerumunan petugas keamanan yang sedang menghalau aksi mereka. Tidak lama kemudian bapak Rektor beserta jajarannya yang baru saja keluar dari ruang audiensi turun, untuk menemui para mahasiswa yang tengah menunggu di lantai dasar. Mahasiswa menuntut tiga hal diatas yang harus cepat diatasi oleh pihak Rektor. Il

Tiga tuntutan yang telah tertera dalam surat itu berisi: 
1. Bersihkan UTM dari dugaan praktik-praktik korupsi 
2. Jamin keselamatan seluruh mahasiswa UTM 
3. Percepat proses perbaikan gedung-gedung UTM yang telah rusak sesuai prosedur yang benar.

Ketiga hal tersebut dirasa belum direalisasikan dengan tepat oleh pihak Rektor. Dugaan praktik korupsi yang mengiang-ngiang ditelinga. Telah menganggu sebagian mahasiswa yang benar-benar peduli akan kemajuan kampus. Suara mahasiswa harus tetap didengarkan dan jika perlu harus disikapi secara cepat dan tepat. Dalam poin kedua, mahasiswa menuntut perbaikan atas kerusakan-kerusakan yang terjadi pada Ruang Kuliah Bersama (RKB). Kalau ditinjau lebih jauh lagi, Banyak kerusakan pada Gedung RKB seperti di aula RKB-B, lampu sudah harus diperbaiki karena tidak layak pakai. Kemudian gedung RKB-D lantai 3, lantai ruang tersebut telah rusak (pecah) dan mahasiswa merasa tidak nyaman akan hal tersebut. Sedangkan dalam poin ketiga mahasiswa menuntut agar perbaikan sarana prasaran tersebut cepat dilakukan. Kenyamanan mahasiswa memang harus diutamakan, agar tidak menganggu proses perkuliahan dan kegiatan-kegiatan lain seperti halnya seminar atau acara Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lainnya.(kat/ike/nof)

Sastra