Sabtu, 18 Januari 2014

,

Secarik Pendidikan Mental

Berbagai macam tugas dilaksanakan, akibat dari kebutuhan manusia untuk hidup(Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.145. David Melling).Manusia dengan kemampuanya mengolah berbagai macam hal dimuka bumi ini. Mengerucutkan dan mengharuskan manusia untuk bertahan hidup, dengan berbagai macam alasan. Baik, sebagai bentuk rasa syukur, tuntutan arus kehidupan, dan tekad untuk menunjukan kualitas diri. Alasan-alasan tersebut menjadi suatu hal pembangkit gairah untuk hidup bagi manusia itu sendiri. Tanpa disadari olehnya, keinginan untuk hidup itu terus bergejolak dalam hatinya. Sehingga berbagai macam tugaspun dilaksanakan dengan sepenuh hati. Banyak pula menilai bahwa, kebutuhan manusia akan sebuah pendidikan, tidak cukup bernilai harganya ketimbang kebutuhanya akan bertahan hidup. dikarenkan akan mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan hingga taraf perguruan tinggi. Sehingga mempunyai pemikiran, untuk masuk sekolah menengah hingga dinyatakan luluspun sudah beruntun. Hingga pada akhirnya, pemikiran untuk mengenyam pendidikan di perguran tinggi, dicukupkan hingga sekian. Karena keterbatasan biaya, dan belum lagi dengan tuntutan kehidupan di lingkungan sekitar perguruan tinggi yang cukup royal. Hingga beban psikologis akan rasa pesimistis, kerap membelenggu jiwa generasi penerus bangsa, yaitu remaja. Yang berada pada tingkatan stratifikasi status sosial, pada garis degradasi perekononiaman negara. Rasa pesimistis tersebutsangat berkecamuk, dalam hati dan pikiran remaja tersebut. Hingga dimana puncak amarah atas ketidakmampuan dirinya sendiri. Berimbas pada jurang alkohol atau mariyuana ataupun methampetamine. Dan bisa pula morphine. Dengan anggapan sanggup memberikan jeda pemikiran, atas beban pikiran yang terpusat pada hati dan pikiranya. Hingga memberikan polemik yang curam atas kepribadianya, yang sedang goyah. Remaja ialah sebuah masa transisi peralihan, antara kanak-kanak hingga dewasa. Adalah cukup waktu, sebagai gerbang atas tertujunya sebuah jati diri ketika dewasa kelak. Dimana sebuah bibit yang ditanam akan menhasilkan buah yanga akan dipetik. Dan dicicipi rasanya. Di fase transisi ini, sangatlah terbuka akan hasil dari jati diri negara. Sebagai cerminan kepribadian bangsa, untuk diperkenalkan pada dunia. Dan salah satu jalur akan bangkit dan hancurnya suatu negara ideal. Dimana petualangan akan sebuah peperangan, dalam lingkungan, orang-orang sekitar dan dirinya sendiri terbuka lebar dalam jalur takdir kehidupanya. Fase yang sangat rentan akan sebuah, profokasi, idealisme, keyakinan, asumsi dan tindak-tanduk. Dengan siasat terselubung dan strategi jitu utnuk menghancurkan sebuah negara. Yang sarat akan kepentingan, baik pribadi maupun kelompok. Yang sedang bersitegang. Ya, terkena lemparan yang sama sekali tidak remaja tersebut lemparkan. Ditengah, ketidaktahuan akan medan pertempuran yang tidak disadari sebelumnya. Dimasa kanak-kanak, pikiran seorang bocah didominasi oleh orang tuanya. Sementara remaja, pikiranya didominasi oleh lingkungan sekitarnya. Terutama seseorang yang akrab bagi pribadinya. Sehingga asumsi akan melupakan orang tua yang melahirkanya, acapkali terjadi didalam pikiranya tersebut. Akibat dari sebuah profokasi, akan asumsi dari wacana yang berasal dari orang yang terbilang dekat dengan remaja tersebut, korbanya kebanyakan perempuan. yang sangat rentan akan wacana yang trendy. Dengan berartian, sebuah pikiran yang sedang diperbincangkan di media massa. Dikarenakan dengan kondisi fisik yang jauh berbeda dengan lelaki. Dan dengan landasan pemikiran yang tak mau dibilang, kutu buku atau udik bagi seusianya. Yang sarat akan gengsi priadi, sebagai perempuan di zaman emansipasi atas modernitas yang ada dalam kepribadianya. Bilamana seorang remaja, diarahkan untuk menjadi pelindung muda dari sebuah pendidikan mental. Yang terdapat dalam ruang lingkup pembelajaranya, dengan berbagai alasan. Shingga pedidikan mental etrsebut, menjadikan suatu hal yang akrab bagi kehidupanya. Maka, sudah terbukalah gerbang arah bangsa ini menjadi sebuah negara untuk melindungi negara lainya. Yang berada pada garis degradasi perekonomian Internasional. Dan kemudian menjadi ciri khas sebuah negara yang ideal. Yang bisa dikatakan negara maju. Dalam genggaman pelindung mudalah, sebuah negara ideal akan tercipta dari sebuah pendidikan mental yang katarsis. Katarsis ialah sebuah pendidikan penyucian dari pengaruh ketertarikan pada kekayaan material, yang mungkin terdapat dalam watak mereka.(Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.160. David Melling). Dimaksudkan sebagai sarana dalam mempersiapkan pelindung muda untuk melaksanakan kewajiban mereka.(Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.160. David Melling). Kewajiban pelindung muda ialah untuk belajar mengamati realitas tempat mereka berada dalam masyarakat. Karena negara ideal harus mempertahankan kesatuanya. Melalui sebuah pendidikan mental dalam ruang lingkup pembelajaranya, yaitu lembaga pendidikan pemerintah. Yang terdapat di masing-masing daerah. (Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.147. David Melling). by : Grup Facebook PPMI

    

Berbagai macam tugas dilaksanakan, akibat dari kebutuhan manusia untuk hidup(Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.145. David Melling).Manusia dengan kemampuanya mengolah berbagai macam hal dimuka bumi ini. Mengerucutkan dan mengharuskan manusia untuk bertahan hidup, dengan berbagai macam alasan. Baik, sebagai bentuk rasa syukur, tuntutan arus kehidupan, dan tekad untuk menunjukan kualitas diri. Alasan-alasan tersebut menjadi suatu hal pembangkit gairah untuk hidup bagi manusia itu sendiri. Tanpa disadari olehnya, keinginan untuk hidup itu terus bergejolak dalam hatinya. Sehingga berbagai macam tugaspun dilaksanakan dengan sepenuh hati.

    Banyak pula menilai bahwa, kebutuhan manusia akan sebuah pendidikan, tidak cukup bernilai harganya ketimbang kebutuhanya akan bertahan hidup. dikarenkan akan mahalnya biaya untuk mengenyam pendidikan hingga taraf perguruan tinggi. Sehingga mempunyai pemikiran, untuk masuk sekolah menengah hingga dinyatakan luluspun sudah beruntun.

Hingga pada akhirnya, pemikiran untuk mengenyam pendidikan di perguran tinggi, dicukupkan hingga sekian. Karena keterbatasan biaya, dan belum lagi dengan tuntutan kehidupan di lingkungan sekitar perguruan tinggi yang cukup royal. Hingga beban psikologis akan rasa pesimistis, kerap membelenggu jiwa generasi penerus bangsa, yaitu remaja. 

Yang berada pada tingkatan stratifikasi status sosial, pada garis degradasi perekononiaman negara. Rasa pesimistis tersebutsangat berkecamuk, dalam hati dan pikiran remaja tersebut. Hingga dimana puncak amarah atas ketidakmampuan dirinya sendiri. Berimbas pada jurang alkohol atau mariyuana ataupun methampetamine. Dan bisa pula morphine. Dengan anggapan sanggup memberikan jeda pemikiran, atas beban pikiran yang terpusat pada hati dan pikiranya. Hingga memberikan polemik yang curam atas kepribadianya, yang sedang goyah.

     Remaja ialah sebuah masa transisi peralihan, antara kanak-kanak hingga dewasa. Adalah cukup waktu, sebagai gerbang atas tertujunya sebuah jati diri ketika dewasa kelak. Dimana sebuah bibit yang ditanam akan menhasilkan buah yanga akan dipetik. Dan dicicipi rasanya. Di fase transisi ini, sangatlah terbuka akan hasil dari jati diri negara. Sebagai cerminan kepribadian bangsa, untuk diperkenalkan pada dunia. Dan salah satu jalur akan bangkit dan hancurnya suatu negara ideal. Dimana petualangan akan sebuah peperangan, dalam lingkungan, orang-orang sekitar dan dirinya sendiri terbuka lebar dalam jalur takdir kehidupanya. Fase yang sangat rentan akan sebuah, profokasi, idealisme, keyakinan, asumsi dan tindak-tanduk. Dengan siasat terselubung dan strategi jitu utnuk menghancurkan sebuah negara. Yang sarat akan kepentingan, baik pribadi maupun kelompok. Yang sedang bersitegang. Ya, terkena lemparan yang sama sekali tidak remaja tersebut lemparkan. Ditengah, ketidaktahuan akan medan pertempuran yang tidak disadari sebelumnya.

     Dimasa kanak-kanak, pikiran seorang bocah didominasi oleh orang tuanya. Sementara remaja, pikiranya didominasi oleh lingkungan sekitarnya. Terutama seseorang yang akrab bagi pribadinya. Sehingga asumsi akan melupakan orang tua yang melahirkanya, acapkali terjadi didalam pikiranya tersebut. Akibat dari sebuah profokasi, akan asumsi dari wacana yang berasal dari orang yang terbilang dekat dengan remaja tersebut, korbanya kebanyakan perempuan. yang sangat rentan akan wacana yang trendy. Dengan berartian, sebuah pikiran yang sedang diperbincangkan di media massa. Dikarenakan dengan kondisi fisik yang jauh berbeda dengan lelaki. Dan dengan landasan pemikiran yang tak mau dibilang, kutu buku atau udik bagi seusianya. Yang sarat akan gengsi priadi, sebagai perempuan di zaman emansipasi atas modernitas yang ada dalam kepribadianya. Bilamana seorang remaja, diarahkan untuk menjadi pelindung muda dari sebuah pendidikan mental. Yang terdapat dalam ruang lingkup pembelajaranya, dengan berbagai alasan. Shingga pedidikan mental etrsebut, menjadikan suatu hal yang akrab bagi kehidupanya. Maka, sudah terbukalah gerbang arah bangsa ini menjadi sebuah negara untuk melindungi negara lainya. Yang berada pada garis degradasi perekonomian Internasional. Dan kemudian menjadi ciri khas sebuah negara yang ideal. Yang bisa dikatakan negara maju. Dalam genggaman pelindung mudalah, sebuah negara ideal akan tercipta dari sebuah pendidikan mental yang katarsis.

     Katarsis ialah sebuah pendidikan penyucian dari pengaruh ketertarikan pada kekayaan material, yang mungkin terdapat dalam watak mereka.(Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.160. David Melling). Dimaksudkan sebagai sarana dalam mempersiapkan pelindung muda untuk melaksanakan kewajiban mereka.(Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.160. David Melling).

     Kewajiban pelindung muda ialah untuk belajar mengamati realitas tempat mereka berada dalam masyarakat. Karena negara ideal harus mempertahankan kesatuanya. Melalui sebuah pendidikan mental dalam ruang lingkup pembelajaranya, yaitu lembaga pendidikan pemerintah. Yang terdapat di masing-masing daerah. (Sumber : Jejak Langkah Pemikiran Plato. hal.147. David Melling).

Top Ad 728x90