Selasa, 17 September 2013

Calon Mahasiswa Baru Calon Pengganguran

Berangkat dari olah pikir yang sadar, dimana banyak calon- calon sarjana yang konon katanya sebagai kaum intelek, melakoni jati diri hakikat manusia yang memiliki harapan untuk mengubah segala bentuk kerasnya dinamika kehidupan. Siapkah engkau mengejar mimpimu? Saya rasa, stimulus (mimpi) semacam itu sebenarnya sah-sah saja, menjadi manusia optimis perlu dan sangat penting, namun adakalanya berfikir realistis dan melihat kenyataan yang ada. Sebab tidak menuntut kemungkinan apa yang menjadi harapan itu hanya sekedar ramuan konsep yang berujung pada penistaan mimpi. Saya bukan tidak sadar, bukan pula tidak usaha tapi inilah kondisi riil yang terjadi. Sehingga tidak mustahil, jika banyak sarjana beralmamater menjadi hiasan pengangguran diberbagai kota khususnya di Indonesia. Pendidikan di kampus bukan jaminan untuk bisa menggapai impian. Maka tidak salah apa yang dikatakan seorang sastrawan Yudhistira ANM Massardi “berhentilah sekolah sebelum terlambat”. Jika orientasi kalian masuk perguruan tinggi hanya ingin menjadi tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. Sementara lapangan pekerjaan sangat terbatas, entah itu salah pemerintah atau dari manusianya itu sendiri, namun yang jelas hal yang demikian memang sangat mengkerdilkan lamunan yang berimplisit pada harapan kosong. Jadi buang jauh-jauh harapan konyol yang tidak penting, sebab dibalik ketiadaan perguruan tinggi tidak akan menjadi hambatan untuk bermimpi apalagi sampai mengurangi kreativitas. Perguruan tinggi bukan satu-satunya sebuah peradaban pendidikan yang mutlak mengubah masa depan. Dilihat dari fakta konkrit, sejauh ini perguruan tinggi tidak bisa dijadikan tolak ukur akan menjamin persepsi bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka semakin mudah mendapatkan pekerjaan—itu hanya mimpi. Maka sebenarnya sangat miris, jika generasi bangsa masa depan mengukur perguruan tinggi adalah segala-galanya. Padahal hal itu tidak menjadi prioritas paling utama, yang perlu diasah dan dikembangkan bagaimana seseorang mampu memperankan daya kreasi imajinasinya untuk mengolah kecerdasan kolektif yang dimiliki. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan sangat mendominasi kontruksi kreativitas imajinatif seseorang.(daf)

                Berangkat dari olah pikir yang sadar, dimana banyak calon- calon sarjana yang konon katanya sebagai kaum intelek, melakoni jati diri hakikat manusia yang memiliki harapan untuk mengubah segala bentuk kerasnya dinamika kehidupan. Siapkah engkau mengejar mimpimu? Saya rasa, stimulus (mimpi) semacam itu sebenarnya sah-sah saja, menjadi manusia optimis perlu dan sangat penting, namun adakalanya berfikir realistis dan melihat kenyataan yang ada. Sebab tidak menuntut kemungkinan apa yang menjadi harapan itu hanya sekedar ramuan konsep yang berujung pada penistaan mimpi. Saya bukan tidak sadar, bukan pula tidak usaha tapi inilah kondisi riil yang terjadi.

                  Sehingga tidak mustahil, jika banyak sarjana beralmamater menjadi hiasan pengangguran diberbagai kota khususnya di Indonesia. Pendidikan di kampus bukan jaminan untuk bisa menggapai impian. Maka tidak salah apa yang dikatakan seorang sastrawan Yudhistira ANM Massardi “berhentilah sekolah sebelum terlambat”. Jika orientasi kalian masuk perguruan tinggi hanya ingin menjadi tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur. 
               
 Sementara lapangan pekerjaan sangat terbatas, entah itu salah pemerintah atau dari manusianya itu sendiri, namun yang jelas hal yang demikian memang sangat mengkerdilkan lamunan yang berimplisit pada harapan kosong. Jadi buang jauh-jauh harapan konyol yang tidak penting, sebab dibalik ketiadaan perguruan tinggi tidak akan menjadi hambatan untuk bermimpi apalagi sampai mengurangi kreativitas. Perguruan tinggi bukan satu-satunya sebuah peradaban pendidikan yang mutlak mengubah masa depan. 

                        Dilihat dari fakta konkrit, sejauh ini perguruan tinggi tidak bisa dijadikan tolak ukur akan menjamin persepsi bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka semakin mudah mendapatkan pekerjaan—itu hanya mimpi. Maka sebenarnya sangat miris, jika generasi bangsa masa depan mengukur perguruan tinggi adalah segala-galanya. Padahal hal itu tidak menjadi prioritas paling utama, yang perlu diasah dan dikembangkan bagaimana seseorang mampu memperankan daya kreasi imajinasinya untuk mengolah kecerdasan kolektif yang dimiliki. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan sangat mendominasi kontruksi kreativitas imajinatif seseorang.

Sastra