Selasa, 17 September 2013

Badut Itu Bernama Mahasiswa

Setelah jalan-jalan di Surabaya seharian penuh, sejak tadi pagi hingga larut malam —untuk membeli berbagai macam perlengkapan buat persiapan acara pernikahan abangku dll— saya kembali ke Madura, melanjutkan perjalanan pulang ke rumah saya di Sepuluh, Bangkalan. Kebetulan saya memang berencana nyeberang tidak melewati jalur akses jembatan Suramadu, tapi dengan menggunakan kapal ferry, menyeberangi lautan. Saya tidak sabar dan ingin sekali melihat keadaan Kamal-Telang yang dipenuhi sesak oleh 3000 mahasiswa baru Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Kemudian membayangkan wajah para satpam kampus yang keblinger dan macak keren dihadapan ribuan mahasiswa-mahasiswi baru. Emang situ ok? Saya sudah memperkirakan bagaimana keadaan di lingkungan kampus pada masa orientasi mahasiswa baru: Para badut-badut dengan wajah masam itu pasti sedang melakukan banyak hal untuk mempersiapkan pentas kelilingnya pada tanggal 17-19 Agustus. Ya, benar sekali. Mereka telah menjadi badut-badut kerdil yang ditugaskan sebagai penghibur untuk menghibur hati para banditnya: panitia ospek, dosen-dosen yang super juoooosss, dan rektor yang terhormat. Hanya itu hiburan bagi panitia, mahasiswa senior, dosen-dosen dan rektor untuk melepas penat sebelum memulai masa perkuliahan yang membuat pikiran terasa nyeri. Sementara para panitia yang memakai almamater menantikan bentuk cinta kemanusiaan dengan beramai-ramai memberikan bimbingan workshop gratis pada boneka-boneka barunya. Mereka adalah kakak-kakak yang baik, selalu siap sedia setiap saat kapanpun dibutuhkan oleh adik-adiknya. Meskipun saya tahu kalau adik-adiknya —yang saya sebut sebagai boneka atau badut— tidak satupun yang mencintai kakak seniornya. Ah, kasihan sekali. Sok menjadi pahlawan di malam hari! Padahal, sekarang ini pahlawan tidak disukai orang..., pikir saya. Tapi karena kelakuan mereka yang kelewat njancuki dan barbar, saya cukup memakluminya. Semoga otak kalian (kakak senior) cepat waras! Sampai di pelabuhan Kamal, suasana kendaran di jalan raya kian riuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Saya kemudian memperhatikan satu demi satu orang-orang yang bergerombol di warung-warung seberang jalan dan sekitar kos-kosan Telang. Banyak dari wajah-wajah mereka masih terlihat lugu dan polos. Saya sangat yakin kalau mereka adalah mahasiswa baru UTM. Ah, sungguh malang nasib mereka, yang datang kemari —kampus dempet sawah— hanya demi mewujudkan cita-cita luhur orang tuanya agar kelak menjadi orang sukses dan mendapatkan pekerjaan yang layak, terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan menjadi kebanggaan calon mertuanya kelak. Tapi saya belum berpikir sejauh itu, jadi sebaiknya buang jauh-jauh pikiran macam itu, —Tapi saya tidak menganjurkan kalian durhaka pada orang tua kalian sendiri— karena di sini, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali menjadi penjilat kelas kakap yang akan menjilati pantat dosen-dosen tengik kalian. Dan kalian, mahasiswa baru yang lugu dan polos, mau menjadi apa lagi kalian kalau bukan kerbau? Yang siap untuk dicambuki dan dikebiri setiap harinya sampai dosen-dosen kalian merasa puas. Kalian yang begitu polos, akan dibuat menjadi seberingas mungkin untuk mendukung semua tindak-tanduk dosen-dosen keblinger dan mahasiswa di atas kalian, yang telah membuat kalian menjadi begitu ‘liar’. Tapi saya ini tidak kaget kalau suatu ketika kepala kalian akan lebih sering mendongak ke atas dan sepasang mata kalian kian menusuk, tajam. Wes lawas... Su! Tapi percayalah, saya ini orang yang baik dan peduli terhadap sesama. Jadi tidak mungkin saya mengajari kalian menjadi orang sesat, apalagi wajah kalian masih sangat polos dan suram. Menyedihkan sekali, bukan? Saya tahu harapan kalian untuk memperjuangkan cita-cita orang tua adalah tugas yang sangat mulia. Saya hanya bisa mendoakan kalian, semoga kelak kalian tidak menjadi manusia bebal dan tidak menyesal karena harus kuliah di kampus yang serba mewah, alias mepet sawah. Kalian cukup kuliah tepat waktu dan mendengarkan dongengan dosen di depan kelas yang membuat mata kalian merasakan kantuk mendalam dan tanpa sadar kalian telah meniduri bangku-bangku kesepian. Ketika datang masa pangenalan kampus (ospek) pada mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi manapun, termasuk UTM. Seseorang (mahasiswa baru) akan dijadikan sebagai yang dikehendaki, bukan sebagai murid yang berkehendak. Budaya dendam tetap menyelimuti masa orientasi mahasiswa baru, meski faktor tersebut adalah sebagian kecil yang melatar-belakangi. Ah, saya jadi ingat gurauan salah satu dosen Universitas Spirit Mahasiswa (SM) dulu. Beliau tidak seperti dosen lain yang suka dijilati pantatnya. Beliau hampir sama dengan dosen kontrak, tapi tidak mendapatkan gaji dari tempat ia mengajar. Hanya sebagian mahasiswa yang tetap bersimpati kepada beliau atas jasa-jasanya yang telah mengajarkan apa saja kepada para mahasiswanya dulu. Kini beliau telah pensiun dari pekerjaannya dan memilih hidup di belakang layar. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya sekarang. Kalau saya tidak salah, beliau pernah berucap begini: hidup adalah pertarungan melawan apa saja; kebodohan, perbudakan, dan segala taik kucing yang membuat kita tak kunjung merdeka. Dan memang tidak ada cara lain selain melawan dengan cara yang paling keras. Sebab, hidup mengajari kita bertahan dengan cara membunuh antara satu dengan yang lainnya. Setelah berbicara panjang lebar, dosen Universitas SM yang menyukai sastra itu kemudian berkata begini: mengapa pada masa sekarang ini, masih saja ada orang tidak sadar akan bahaya yang menimpa dirinya sendiri: Bahaya pembodohan. Ya, termasuk anda-anda ini yang tidak waras otaknya dan nekat memilih untuk kuliah! Saya terdiam, mencoba mencermati setiap kata yang keluar dari mulut dosen gondrong itu. Beliau menghampiri saya dan bertanya: Apa yang sedang kau pikirkan, anak muda? Tidak ada, saya bilang. Dosen itu lantas tertawa sambil menepuk punggung saya beberapa kali, kemudian meninggalkan saya seorang diri menuju kantornya. Malam sudah larut, mata saya tak mau diajak kompromi untuk melanjutkan tulisan yang berbau sesat ini. Ya sudah, saya tidak akan banyak ngoceh lagi biar kalian tidak bingung dan merasa tenang. Meski sebenarnya saya tau tidur kalian tidak nyenyak malam ini. Tapi biarlah, itu ‘kan urusanmu sama keluargamu. Jangan bawa-bawa saya melihat kesuraman hidup kalian! Selamat datang Mahasiswa Baru 2013, Selamat datang para badut-badut kerdil, Selamat datang orang-orang kalah, Selamat memamah harapan kosong di lingkungan barumu, Semoga harimu baik dan tidak pernah menyesali keadaan yang senantiasa memarginalkan dirimu. Dan, semoga kalian cepat sembuh dari penyakit akut yang menikam pikiran juga menyayat perasaan! Selamat malam...


Oleh : Ghinan Salman
Setelah jalan-jalan di Surabaya seharian penuh, sejak tadi pagi hingga larut malam untuk membeli berbagai macam perlengkapan buat persiapan acara pernikahan abangku dllsaya kembali ke Madura, melanjutkan perjalanan pulang ke rumah saya di Sepuluh, Bangkalan. Kebetulan saya memang berencana nyeberang tidak melewati jalur akses jembatan Suramadu, tapi dengan menggunakan kapal ferry, menyeberangi lautan. Saya tidak sabar dan ingin sekali melihat keadaan Kamal-Telang yang dipenuhi sesak oleh 3000 mahasiswa baru Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Kemudian membayangkan wajah para satpam kampus yang keblinger dan macak keren dihadapan ribuan mahasiswa-mahasiswi baru. Emang situ ok?

Saya sudah memperkirakan bagaimana keadaan di lingkungan kampus pada masa orientasi mahasiswa baru: Para badut-badut dengan wajah masam itu pasti sedang melakukan banyak hal untuk mempersiapkan pentas kelilingnya pada tanggal 17-19 Agustus. Ya, benar sekali. Mereka telah menjadi badut-badut kerdil yang ditugaskan sebagai penghibur untuk menghibur hati para banditnya: panitia ospek, dosen-dosen yang super juoooosss, dan rektor yang terhormat. Hanya itu hiburan bagi panitia, mahasiswa senior, dosen-dosen dan rektor untuk melepas penat sebelum memulai masa perkuliahan yang membuat pikiran terasa nyeri.

Sementara para panitia yang memakai almamater menantikan bentuk cinta kemanusiaan dengan beramai-ramai memberikan bimbingan workshop gratis pada boneka-boneka barunya. Mereka adalah kakak-kakak yang baik, selalu siap sedia setiap saat kapanpun dibutuhkan oleh adik-adiknya. Meskipun saya tahu kalau adik-adiknya yang saya sebut sebagai boneka atau badut tidak satupun yang mencintai kakak seniornya. Ah, kasihan sekali. Sok menjadi pahlawan di malam hari! Padahal, sekarang ini pahlawan tidak disukai orang..., pikir saya. Tapi karena kelakuan mereka yang kelewat njancuki dan barbar, saya cukup memakluminya. Semoga otak kalian (kakak senior) cepat waras!
Sampai di pelabuhan Kamal, suasana kendaran di jalan raya kian riuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Saya kemudian memperhatikan satu demi satu orang-orang yang bergerombol di warung-warung seberang jalan dan sekitar kos-kosan Telang. Banyak dari wajah-wajah mereka masih terlihat lugu dan polos. Saya sangat yakin kalau mereka adalah mahasiswa baru UTM. Ah, sungguh malang nasib mereka, yang datang kemari kampus dempet sawahhanya demi mewujudkan cita-cita luhur orang tuanya agar kelak menjadi orang sukses dan mendapatkan pekerjaan yang layak, terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan menjadi kebanggaan calon mertuanya kelak. 

Tapi saya belum berpikir sejauh itu, jadi sebaiknya buang jauh-jauh pikiran macam itu, Tapi saya tidak menganjurkan kalian durhaka pada orang tua kalian sendiri karena di sini, kalian tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali menjadi penjilat kelas kakap yang akan menjilati pantat dosen-dosen tengik kalian. Dan kalian, mahasiswa baru yang lugu dan polos, mau menjadi apa lagi kalian kalau bukan kerbau? Yang siap untuk dicambuki dan dikebiri setiap harinya sampai dosen-dosen kalian merasa puas. Kalian yang begitu polos, akan dibuat menjadi seberingas mungkin untuk mendukung semua tindak-tanduk dosen-dosen keblinger dan mahasiswa di atas kalian, yang telah membuat kalian menjadi begitu ‘liar’. Tapi saya ini tidak kaget kalau suatu ketika kepala kalian akan lebih sering mendongak ke atas dan sepasang mata kalian kian menusuk, tajam. Wes lawas... Su!

Tapi percayalah, saya ini orang yang baik dan peduli terhadap sesama. Jadi tidak mungkin saya mengajari kalian menjadi orang sesat, apalagi wajah kalian masih sangat polos dan suram. Menyedihkan sekali, bukan? Saya tahu harapan kalian untuk memperjuangkan cita-cita orang tua adalah tugas yang sangat mulia. Saya hanya bisa mendoakan kalian, semoga kelak kalian tidak menjadi manusia bebal dan tidak menyesal karena harus kuliah di kampus yang serba mewah, alias mepet sawah. Kalian cukup kuliah tepat waktu dan mendengarkan dongengan dosen di depan kelas yang membuat mata kalian merasakan kantuk mendalam dan tanpa sadar kalian telah meniduri bangku-bangku kesepian.

Ketika datang masa pangenalan kampus (ospek) pada mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi manapun, termasuk UTM. Seseorang (mahasiswa baru) akan dijadikan sebagai yang dikehendaki, bukan sebagai murid yang berkehendak. Budaya dendam tetap menyelimuti masa orientasi mahasiswa baru, meski faktor tersebut adalah sebagian kecil yang melatar-belakangi. 

Ah, saya jadi ingat gurauan salah satu dosen Universitas Spirit Mahasiswa (SM) dulu. Beliau tidak seperti dosen lain yang suka dijilati pantatnya. Beliau hampir sama dengan dosen kontrak, tapi tidak mendapatkan gaji dari tempat ia mengajar. Hanya sebagian mahasiswa yang tetap bersimpati kepada beliau atas jasa-jasanya yang telah mengajarkan apa saja kepada para mahasiswanya dulu. Kini beliau telah pensiun dari pekerjaannya dan memilih hidup di belakang layar. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya sekarang. 

Kalau saya tidak salah, beliau pernah berucap begini: hidup adalah pertarungan melawan apa saja; kebodohan, perbudakan, dan segala taik kucing yang membuat kita tak kunjung merdeka. Dan memang tidak ada cara lain selain melawan dengan cara yang paling keras. Sebab, hidup mengajari kita bertahan dengan cara membunuh antara satu dengan yang lainnya. Setelah berbicara panjang lebar, dosen Universitas SM yang menyukai sastra itu kemudian berkata begini: mengapa pada masa sekarang ini, masih saja ada orang tidak sadar akan bahaya yang menimpa dirinya sendiri: Bahaya pembodohan. Ya, termasuk anda-anda ini yang tidak waras otaknya dan nekat memilih untuk kuliah!

Saya terdiam, mencoba mencermati setiap kata yang keluar dari mulut dosen gondrong itu. Beliau menghampiri saya dan bertanya: Apa yang sedang kau pikirkan, anak muda? Tidak ada, saya bilang. Dosen itu lantas tertawa sambil menepuk punggung saya beberapa kali, kemudian meninggalkan saya seorang diri menuju kantornya.
Malam sudah larut, mata saya tak mau diajak kompromi untuk melanjutkan tulisan yang berbau sesat ini. Ya sudah, saya tidak akan banyak ngoceh lagi biar kalian tidak bingung dan merasa tenang. Meski sebenarnya saya tau tidur kalian tidak nyenyak malam ini. Tapi biarlah, itu ‘kan urusanmu sama keluargamu. Jangan bawa-bawa saya melihat kesuraman hidup kalian!

Selamat datang Mahasiswa Baru 2013,
Selamat datang para badut-badut kerdil,
Selamat datang orang-orang kalah,
Selamat memamah harapan kosong di lingkungan barumu,
Semoga harimu baik dan tidak pernah menyesali keadaan
yang senantiasa memarginalkan dirimu. Dan,
semoga kalian cepat sembuh dari penyakit akut yang menikam pikiran juga menyayat perasaan!

Selamat malam...

Top Ad 728x90