Rabu, 01 Mei 2013

TIMUR

Untuk menjadi orang besar itu tidak mudah, sebaliknya untuk tiba-tiba mendadak menjadi kecil. Semua butuh energi yang luar biasa besar. Sebab kita akan membutuhkan “biaya” yang sangat banyak untuk menjadi besar, begitu juga untuk tiba-tiba menjadi kecil. Mungkin kita bisa berkaca pada R Timur Budi Raja, penyair asal Bangkalan Madura. Sekenario hidup telah membawa Timur begitu jauh terjerembab pada kubangan yang membuatnya terpaksa menyepi. Ya, kalau ku pikir, semua orang memang butuh untuk menyepi dan berkontemplasi dengan suasana baru
http://sphotos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/64141_473516846029462_437716980_n.jpgSuasana untuk kembali mengumpulkan kekuatan untuk hidup, atau untuk memilih menyerah pada lembaran-lembaran kertas untuk meredakan sedikit dahaga kehidupan orang-orang di sekitarnya. Memang kita tak bisa menyangkal bila uang bukan segalanya, tapi apa semua orang juga berpikir hal yang sama. Uang memang membuat banyak kehidupan itu jauh berubah. Dulu, pada suatu sore, awal mula ketika aku mulai ingin serius untuk belajar sastra, aku membaca karya-karyanya, terutama proses kreatifnya, yang terangkum dalam kumpulan puisi dewan kesenian Surabaya. Di sana aku banyak menemukan sisi kesunyian hidupnya. Juga dengan kamarnya yang dalam narasinya digambarkan sebagai salah satu bagian terpenting dari karya-karyanya. 

Mungkin pada saat itu, adalah masa puncak kepenyairan dan eksistensinya di dunia kesenian dan kepenyairan. Dan setahuku tentang potongan dunia kesenian adalah tempat beredarnya uang receh yang menghambur bebas atas nama solidaritas. Ku pikir ada benarnya juga. Aku mengenalnya dalam sebuah kesempatan yang baik di musim yang busuk, dimana kita sama-sama tidak mempunyai rokok untuk saling bicara. Ya, pembicaraan kita selalu dimulai dari rokok, dan di akhiri pula oleh rokok. Masa pertemuanku dengannya bisa di bilang adalah masa diamana Timur hampir tenggelam. Berbeda seperti pada saat aku belum mengenalnya, dan itu adalah masa kejayaannya sebagai seorang penyair. 

Setahuku, dari yang kuamati selintas-selintas, aku menemukan kesunyian yang asik. Tenar dalam kemelaratan hidup sudah lebih dari cukup buatnya. Pentas dan undangan membaca puisi, dan seminar-seminar kacangan kelas mahasiswa sudah lebih cari cukup untuk kepuasan batinnya. Setahuku, ia tak pernah perduli untuk soal materi. Memang penyair-penyair hijau yang masih kenal idialis tidak terlalu menomor satukan materi, dan dia termasuk di dalamnya. Pekerjaan yang tak bisa membuatnya sedikit lebih kaya sudah dia lakoni secara sadar. Juga dengan persoalan kepenyairan yang tak pernah bisa membuatnya tenar dan dikenang banyak orang. Sebab dunia kepenyairan dan kesenian tak kalah busuk dengan politik. Cuma bedanya yang beredar adalah uang receh untuk sekedar beli rokok, kopi dan sesekali mabuk dengan miras murahan. Sekarang dunia telah menjungkir balikkan hidupnya. 

Dunianya yang sunyi dan asik berubah menjadi muram dengan cita-cita dangkal lembaran kertas. Keyakinannya pada kesenian telah kalah dan di ganti dengan dunia keluarga yang mengkrangkeng dan mengebiri kebebasannya. Ia telah jauh lumpuh dengan stereotipe yang bersumber dari orang-orang di sekitarnya yang konservatif. Sekarang tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali terus berdiam. Mungkin sekarang ia sedang mencari puntung-puntung rokok untuk dihisap kembali untuk sekedar membakar suntuknya. Tak ada yang tau apa dia akan berhasil keluar dari kerumitan hidup, atau semakin terpuruk. 

Kontemplasi dan sakit mata paling tidak membuatnya semakin terpenjara dalam kamarnya. Kamar-kamar yang selalu ia pakai menulis pada saat puncak kejayaannya. Kamar dengan langit yang penuh peta-peta cucuran air hujan yang dulu membawanya pada sunyi yang asik, sekarang justru membuatnya semakin tercekik. Menunggu musim dan angin yang baik untuk bisa kembali bangkit. Menemui kegelisahannya. Sajak-sajak. Juga ketenaran dengan uang receh yang berhamburan. Atau bersamaku dengan kepulan asap-asap rokok untuk berdiskusi soal Camus, Marx, Multatuli, atau orang besar lainnya. Seperti kata Plato, cuma orang besar yang akan pantas di kenang. Tapi Timur bukan orang besar. Bukankah penilaian tentang seseorang itu besar atau tidak adalah penilaian picik dari kehidupan. Mungkin dari sini aku akan mengenangnya. Sekalipun pada batas-batas tertentu. 

Cafe With Art, 21 Februari 2011 
Citra D. Vresti Trisna

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra