Selasa, 14 Mei 2013

Bedah Film Dibalik Frekuensi LPM Spirit Mahasiswa Madura

Acara Nonton Bareng & Bedah Film Di Balik Frekuensi pada Rabu (08/05/13) malam Pkl 19.00 WIB, di Auditorium Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Menarik banyak minat, khususnya orang-orang dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), Mahasiswa dan Dosen-Dosen. Sehingga acara yang diadakan oleh seluruh LPM Se-Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menjadi berbeda. Walaupun dengan persiapan yang singkat tetapi acara pun berjalan lancar. Acara sempat molor dari waktu yang di tentukan, yaitu Pkl 19.00 WIB menjadi Pkl 20.00 WIB. Acara Nonton Bareng & Bedah Film Di Balik Frekuensi ini membuat banyak sekali penonton menjadi penasaran. Meski acara ini mengalami sedikit keterlambatan kedatangan film, sebab dalam aturan main, film tidak boleh dicopy dan selalu diawasi oleh pihak pembawa film, demi meminimalisir kebocoran atau pengandaan film. Dengan durasi 2 jam lebih, antusiasme penonton yang notabene berasal dari macam-macam golongan terdiam dalam suasana remang dan gema suara speaker, sampai ada yang tertidur dikarenakan dimulainya acara tak sesuai dengan jadwal, sehingga terkesan acaranya “molor”. Tapi, sebelum pemutaran film, sambutan demi sambutan yang di mulai dari Toto Pratomo sebagai Ketua Pelaksana (KETUPEL), Muhammad Suwardono sebagai perwakilan Pimpinan Umum (PU) LPM se-UTM, dilanjut oleh Samsuki sebagai Presiden Mahasiswa (PRESMA) UTM dan terahkir adalah Yudi Widagdo Harimurti sebagai Pembantu Rektor 3 (PR3) UTM yang sekaligus memulai pemutaran film. Sampai pada akhir pe­­­­­mutaran film, wajah-wajah heran dan kaget dimana fakta mengenai media massa yang dikuasai oleh pemodal, kejahatan-kejahatan media, permainan redaksi, wartawan yang tak tahu apa-apa, dan banyak hal mengenai media massa dan orang-orang yang berjuang demi keadilan dan kesejahteraan yang tersirat dalam film Di balik Frekuensi. Dengan hadirnya tiga pembedah yang sudah ahli dalam permediaan yaitu; pembedah I Imam Sofyan S.Sos.M.Si adalah dosen Ilmu Komunikasi yang juga aktif dalam permediaan, pembedah II Defy Firman Al-Hakim adalah Sekertaris Jendral Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (SEKJEND PPMI) dan pembedah III Khoirul Rhosyadi Ph.D aktif dalam permediaan, pernah aktif di PPMI, saat ini menjadi dosen sosiologi di UTM. Saat pembedahan film dan diskusi serta sesi tanya-jawab, baik mahasiswa, anggota LPM, dan ada juga dari wartawan Radar Madura yang antusias dalam pembedahan film Di Balik Frekuensi. Dalam pembedahan film, masing-masing pembedah menyimpulkan film dengan sudut pandang yang berbeda. Pembedah I lebih dominan dalam teknis film dan kritik terhadap film, sedangkan pembedah II lebih ke efek dan fakta tentang permediaan jika semua media massa di Indonesia masih di kuasai oleh pemodal di tambah dengan materi media alternatif sampai berujung segitiga perselingkuan media umum. Pembedah ketiga mendeskripsikan dengan gamblang mulai dari peran media, fungsi, fakta media sekarang, efek media jikalau terus-terusan seperti ini, berujung jika harusnya media seperti ini maka sekarang malah menjadi seperti ini dan apa yang harus dilakukan. Walaupun waktu sudah larut. Antusiasme penonton masih semangat, dikarenakan banyak yang kaget dengan fakta yang di tunjukkan oleh film Di Balik Frekuensi tentang kebobrokan media kekinian, sehingga terpancing kemarahan sampai greget penonton yang berasal dari berbagai macam golongan. Pertanyaan demi pertanyaan tentang media di pertanyakan kembali seperti, independensi media, kepentingan pemilik atau pemodal, tentang wartawan yang tak bisa apa-apa terhadap redaksi dan pemilik media itu sendiri. Kesejahtraan dan keadilan buruh termasuk wartawan, karena wartawan belum menjadi profesi dan masih di pertanyakan, lalu banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tak mungkin disebutkan di sini hingga akhir acara selesai. Para peserta lantas meninggalkan lokasi acara. Namun, tidak untuk anggota pers mahasiswa. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan serasehan bagi anggota LPM Se-Madura dan Surabaya yang tergabung dalam naungan PPMI pada tengah malam. Sampai selesai.(nof)


Acara Nonton Bareng & Bedah Film Di Balik Frekuensi pada Rabu (08/05/13) malam Pkl 19.00 WIB, di Auditorium Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Menarik banyak minat, khususnya orang-orang dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), Mahasiswa dan Dosen-Dosen. Sehingga acara yang diadakan oleh seluruh LPM Se-Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menjadi berbeda. Walaupun dengan persiapan yang singkat tetapi acara pun berjalan lancar.
Acara sempat molor dari waktu yang di tentukan, yaitu Pkl 19.00 WIB menjadi Pkl 20.00 WIB. Acara Nonton Bareng & Bedah Film Di Balik Frekuensi ini membuat banyak sekali penonton menjadi penasaran.

Meski acara ini mengalami sedikit keterlambatan kedatangan film, sebab dalam aturan main, film tidak boleh dicopy dan selalu diawasi oleh pihak pembawa film, demi meminimalisir kebocoran atau pengandaan film. Dengan durasi 2 jam lebih, antusiasme penonton yang notabene berasal dari macam-macam golongan terdiam dalam suasana remang dan gema suara speaker, sampai ada yang tertidur dikarenakan dimulainya acara tak sesuai dengan jadwal, sehingga terkesan acaranya “molor”.
Tapi, sebelum pemutaran film, sambutan demi sambutan yang di mulai dari Toto Pratomo sebagai Ketua Pelaksana (KETUPEL), Muhammad Suwardono sebagai perwakilan Pimpinan Umum (PU) LPM se-UTM, dilanjut oleh Samsuki sebagai Presiden Mahasiswa (PRESMA) UTM dan terahkir adalah Yudi Widagdo Harimurti sebagai Pembantu Rektor 3 (PR3) UTM yang sekaligus memulai pemutaran film.

Sampai pada akhir pe­­­­­mutaran film, wajah-wajah heran dan kaget dimana fakta mengenai media massa yang dikuasai oleh pemodal, kejahatan-kejahatan media, permainan redaksi, wartawan yang tak tahu apa-apa, dan banyak hal mengenai media massa dan orang-orang yang berjuang demi keadilan dan kesejahteraan yang tersirat dalam film Di balik Frekuensi. Dengan hadirnya tiga pembedah yang sudah ahli dalam permediaan yaitu; pembedah I Imam Sofyan S.Sos.M.Si adalah dosen Ilmu Komunikasi yang juga aktif dalam permediaan, pembedah II Defy Firman Al-Hakim adalah Sekertaris Jendral Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (SEKJEND PPMI) dan pembedah III Khoirul Rhosyadi Ph.D aktif dalam permediaan, pernah aktif di PPMI, saat ini menjadi dosen sosiologi di UTM. Saat pembedahan film dan diskusi serta sesi tanya-jawab, baik mahasiswa, anggota LPM, dan ada juga dari wartawan Radar Madura yang antusias dalam pembedahan film Di Balik Frekuensi. Dalam pembedahan film, masing-masing pembedah menyimpulkan film dengan sudut pandang yang berbeda. Pembedah I lebih dominan dalam teknis film dan kritik terhadap film, sedangkan pembedah II lebih ke efek dan fakta tentang permediaan jika semua media massa di Indonesia masih di kuasai oleh pemodal di tambah dengan materi media alternatif sampai berujung segitiga perselingkuan media umum. Pembedah ketiga mendeskripsikan dengan gamblang mulai dari peran media, fungsi, fakta media sekarang, efek media jikalau terus-terusan seperti ini, berujung jika harusnya media seperti ini maka sekarang malah menjadi seperti ini dan apa yang harus dilakukan. 

Walaupun waktu sudah larut. Antusiasme penonton masih semangat, dikarenakan banyak yang kaget dengan fakta yang di tunjukkan oleh film Di Balik Frekuensi tentang kebobrokan media kekinian, sehingga terpancing kemarahan sampai greget penonton yang berasal dari berbagai macam golongan. Pertanyaan demi pertanyaan tentang media di pertanyakan kembali seperti, independensi media, kepentingan pemilik atau pemodal, tentang wartawan yang tak bisa apa-apa terhadap redaksi dan pemilik media itu sendiri. Kesejahtraan dan keadilan buruh termasuk wartawan, karena wartawan belum menjadi profesi dan masih di pertanyakan, lalu banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tak mungkin disebutkan di sini hingga akhir acara selesai. Para peserta lantas meninggalkan lokasi acara. Namun, tidak untuk anggota pers mahasiswa. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan serasehan bagi anggota LPM Se-Madura dan Surabaya yang tergabung dalam naungan PPMI pada tengah malam. Sampai selesai.(nof)

Sastra