Selasa, 30 April 2013

WC DUDUK IMPOSSIBLE HAND

"Harus jongkok tapi gak cebok" kataku dalam hati. Sebuah pikiran yang meloncat begitu saja tanpa sengaja ketika beol di WC Aula Wisma tempo Sirnagalih (WTS). Mungkin agak katrok menemukan sebuah WC yang unik menurutku, karena akhirnya kutemukan WC asyik. Asyik dalam pengertianku sendiri tentunya. Di sebelah kanan WC duduk terdapat sebuah kran yang menerbitkan rasa ingin tahu bagi seorang manusia yang sehari-harinya selalu mendekam di WC jongkok khas negeri ini. Sambil jongkok kuputar kran itu. "Air mancur" keluar begitu saja dari pipa besi kecil yang semestinya mengarah ke area pantat. Tetapi, dalam posisi jongkok si "air" sedikit menyentil (maaf) kelamin milikku. Kejadian yang membuat agak limbung sejenak sembari mencari asal air yang muncul tiba-tiba. "Ih...buat apa ini?" pikirku. 

http://1.bp.blogspot.com/-f3RC_ut5PpU/T1nt_uVOmtI/AAAAAAAAFbw/EC_bPlcYNiE/s1600/Ngintip.jpgLupa bila WC yang sejatinya digunakan untuk duduk, memberikanku inspirasi untuk coba beol duduk. Sambil duduk kuputar ulang kran tersebut dan kutemukan jawabannya: air macur ini buat cebok tanpa tangan. Filosofi Kentut Setahun lalu di WC Invisible Hand WTS ini pula kutemukan filosofi kentut. Sebuah kata yang bila didengar orang akan merasa jijik, jorok, tidak sopan, dan semacamnya. Masih jelas ingatanku, pada saat itu kentut yang berada di daerah tak sadar menyeret naik ke daerah sadar. Setiap kali beol pasti ada fase kentut itu keluar. Dan nadanya pun berubah-rubah. Ada yang terdengar bunyinya mayor, kadang pula berbunyi minor. "Kentut ternyata bisa bernada juga" ungkap dalam hati saat itu. 

Nada yang terkadang membantu serta menemani dalam proses pencarian inspirasi. Bila nada-nada yang keluar dari alat musik saja bisa membantu memberikan inspirasi dan ketenangan, kenapa nada dari bahan alami yang diciptakan Tuhan tidak bisa juga? Kentut itu berbau busuk atau kata yang lebih halus adalah tidak sedap di hidung. Semua orang tahu akan hal itu, namun tidak banyak yang mengambil hikmah. Pernah aku berdoa agar kentutku itu wangi dan kira-kira Tuhan bisa tidak. Akan tetapi, setelah ngepup di WC Invisible Hand WTS baru tercerahkan. Aku menikmat rasanya mencium bau kentut sendiri dan jelas kita tidak merasa jijik mencium bau kentut yang aku hasilkan sendiri. Sedangkan bila kita mencium kentut orang lain kita buru-buru menghindar atau malah mencacinya. Kentut bisa diibaratkan dengan sifat jelek atau cacat fisik manusia. Dominan manusia tidak sadar bila keburukan sama dengan manusia yang lain, tetapi dia tidak sadar. Sifat jelek diri kita tidak pernah kita sadari dan hanya menyadari sifat jelek orang lain. 

Begitu pula kita dengan mudahnya mencela atau menghindar jika melihat cacat fisik orang lain padahal belum tentu kita tidak punya cacat fisik juga. Sok suci dan sok sempurna. Anggap bau kentut itu sebuah masalah meskipun pada dasarnya itu sebuah fakta. Otak dalam merespon bau kentut yang sebenarnya bermasalah, karena di mana pun kita berpijak bau kentut itu busuk tidak ada yang wangi. Berkali-kali melakukan uji coba bagaimana respon manusia ketika mencium bau kentut memberikan sebuah gambaran. Sering aku suruh bau itu menyerang sambil mengendap-endap masuk ke dalam hidung seorang teman saat berdiskusi. Nampak indera penciuman memberikan sinyal kepada otak bahwa terjadi sesuatu yang tidak beres. Tidak kelihatan namun bisa dirasakan kehadirannya. Seketika orang-orang itu saling menyalahkan dan menuduh satu sama lain. Persis karakter manusia negeri ini yang saling tuding ketika masalah muncul yang tanpa disadari sebelumnya baru terasa dampaknya. Lain masalahnya bila terdengar suara kentut itu, semua orang akan tahu dan cepat-cepat melakukan tindakan preventif berupa menutup hidung mereka guna tidak menerima efek buruk sebuah kentut. Mengingatkan bahwa hal-hal yang tidak nampak oleh indera sering membuat sakit hati karena sering meremehkannya. 

Lebih sakit terinjak kerikil kecil tajam daripada tersandung batu besar yang menghalang. WC Duduk Invisible Hand Kenapa musti jongkok?. Pertanyaan awal yang disodorkan setelah aku bercerita tentang pengalaman ngepup dalam posisi jongkok di atas WC duduk WTS. Malu? Tidak lah karena aku melakukan sesuatu yang aku nikmati dan senangi. Walaupun terkesan ndeso tapi bukan itu masalahnya. Banyak orang yang merelakan kehilangan apa yang dia senangi dengan sebuah tembok-tembok pembatas kreativitas. Malu biasanya menjadi musuh terbesar kreativitas dan sebuah kesenangan. Malu pula yang membuat orang tidak melakukan sesuatu sesuai kata hatinya. Kata sifat inilah mengakibatkan seseorang tidak memilih pekerjaan yang dia senangi, sehingga orang tersebut dalam melakukan pekerjaan tidak sepenuh hati yang pada akhirnya berujung pada keterpaksaan. Jongkok di WC duduk WTS, aku bisa mengamati proses keluarnya kotoran nyemplung di air sampai guyuran WC otomatisnya. 

Dengan alami benturan air dan kotoran mengeluarkan irama yang memacu untuk mengeluarkan idea tau inspirasi. Apalagi WC duduk WTS memberikan irama dengan gaung atau gema yang berbeda dibanding gaung atau gema WC lain. Sambil menyelam minum air, mungkin itu yang kunikmati di WC unik itu. Sambil ngepup bisa ngupil plus mengamati benda jijik itu. Sebuah hobi tersembunyi yang selalu kunanti kedatangannya. Disamping itu, cebok invisible hand pertama yang kutemui memberikan sebuah harapan. Harapan masih ada tangan-tangan tak terlihat yang coba membersihkan feses-feses yang sering dihindari, dicemooh, dianggap jijik. Tangan yang tak memerlukan pujian. Manusia yang dianggap jorok, kotor, atau najis malah dibiarkan atau bahkan dicerca bukannya "dibersihkan" ataupun diperlakukan selayaknya. 

 *** 

Pertanyaan bagaimana orang barat cebok tanpa tisu terjawab sudah. Invisible Hand telah menuntaskan rasa penasaranku selama ini. Invisible Hand yang ini bukan teori ekonomi Adam Smith dalam Wealth of Nation, melainkan "tangan tak nampak" yang menceboki saat selesai ngepup. Manfaat dari WC duduk Invisble Hand, yaitu tanpa tisu paling tidak menghemat kayu untuk ditebang sekaligus memberikan kemudahan (tangan tidak perlu kotor karena cebok) bagi penikmat beol. 

Ingin rasanya berterima kasih pada penemu WC duduk Invisible Hand yang secara tidak langsung memfasilitasi pencari inspirasi macam aku. Begitu mulianya penemu WC model ini. Walaupun terkadang jorok, WC merupakan tempat mencari inspirasi yang kadang diremehkan orang. Di sana bisa dijadikan tempat merenung, semedi sementara, mencari ide bahkan kita bisa memperoleh pelajaran dari sana, khususnya WC Invisible Hand WTS. Aku dapatkan banyak pesan Tuhan yang disembunyikan melalui benda-benda menjijikkan ciptaan-Nya di tempat itu, tempat terjadinya pertengkaran-pertengkaran kecil akal. Hasilnya berupa pelajaran hidup dari sebuah dialektika di WC duduk Invisible Hand WTS. 

Irfa Ronaboyd

0 komentar:

Posting Komentar

Top Ad 728x90