Selasa, 30 April 2013

DEDES 2

kau tak pernah berkata apa-apa,
kecuali membiarkanku terus menciumi jenjang lehermu,
meyakini bila percumbuan pahit kerinduan selalu berdarah.
“luka pertemuankah ini, kakang?” ucapmu. diam. diamlah, manisku. biarkan bisik batu kali yang menggunjing kita dengan bahasanya yang gelap.
menghadiahi kalung-kalung hijau cahaya dan kerlip kunang,
karena anak-anak kita akan lahir dari bilik ini. dedes manisku, lontar-lontar manakah yang membawamu ke ranjangku, restu dewa apakah yang iba karena pernah merasai rindu?
kau pun kembali menyalakan damar, “agar dewa-dewa memberi restu.”
lalu, damar dipadamkan. Bangkalan,.


Citra Dara Vresti Trisna lahir di Surabaya. Tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Komunikasi Politik Universitas Trunojoyo Madura. Selain menulis, aktif menekuni fotografi, sinematografi dan forum jumat malam. Karya-karyanya dimuat di media kampus, dan beberapa media lain. Saat ini bergiat di Sekolah Menulis

Sastra