Jumat, 26 April 2013

,

Buku Untuk Zahra

http://hdwallsize.com/wp-content/uploads/2013/03/Digital-Art-Abstract-Wallpaper-Design.jpg
" Zahra adalah seorang pelacur dengan mata yang cerdas. Tubuhnya mungil. Wajahnya adalah kombinasi antara kecantikan alami pribumi dan modern, serta gaya pakaian fashionable yang khas. Semua memancar seperti spektrum cahaya yang ditembakkan lampu sorot ke luasnya panggung di gedung opera".

Kalau bukan pelacur, mungkin dia adalah perempuan nomor satu yang menjadi jawaban sekaligus tantangan bagi para tualang singgah untuk memaksa mereka menurunkan jangkar. Jika hidupku tak sial dan miskin, aku akan mengeluarkannya dari rumah-rumah gila itu. Membawanya mengembarai Eropa yang cantik, mencari rumah kita sendiri agar bisa tetap hangat dari musim yang berputar patuh. Bangunan rumah akan dibuat sedikit sempit, tapi berlantai dua, lengkap dengan balkon. Selain agar bisa tetap hangat, perkakas kita juga tidak terlalu banyak. Dari balkon lantai dua itu akan kita pakai menikmati sore bersama. Kamar kita ada di atas. Dengan jendela yang besar untuk menangkap banyak cahaya matahari menerobos masuk dan setia membangunkan pergumulan kita. 

Dari jendela itu pula kita menikmati redup lelampu di gang-gang sempit kampung petani. Meski harus hidup tanpa cinta, kita berdua bisa tetap bahagia sejauh tetap bersama. Membawanya memamah malam di sebuah cafe pinggir pantai. Menyaksikan dia banyak bercerita tentang apa saja. Sementara aku mengirit bicara untuk bisa menyelami lebih jauh. Menikmati wine sembari melihatnya bersantap malam. Tetapi, kegagalanku sebagai lelaki yang mestinya bisa jadi dompet hidup untuk perempuan seperti Zahra. Aku tetap si miskin kurang cinta yang hanya bisa sedih melihatnya jadi piala bergilir untuk lelaki yang mampu membeli tubuhnya. Membeli malam-malam yang indah bersamanya. Aku kembali terpekur memikirkan bagaimana cara lelaki macam aku bisa mendapat cintanya. Hampir-hampir tak ada peluang bagiku. Gajiku juga tak seberapa untuk bisa menikmati bergula-gula. Kita hanya teman biasa tanpa hubungan spesial. Aku ingat saat pertama kali berkenalan. Waktu itu Zahra datang meminjam buku dari rumah baca yang setiap hari kujaga. Rumah baca ini sebenarnya disediakan pemerintah untuk anak-anak di daerah sekitar lokalisasi Dolly, Surabaya. Buku-buku yang disediakan hanya seputar buku pelajaran, cerita-cerita anak, komik dan buku dongengan. Sehingga ketika pertama kali datang kemari, Zahra mengernyitkan dahi dan nampak kecewa karena mungkin tak mendapat buku yang ia inginkan. “Tak adakah novel-novel dewasa yang bisa aku baca. Milik Pram, barangkali. 

Atau karya-karya Ernest Hemingway.” Aku terkesiap sejenak. “Untuk apa seorang PSK gang Dolly mencari buku macam itu”. Aku membatin. “Oh, itu... Tidak ada kalau karya-karya seperti itu di sini. Di rumah aku punya koleksi pribadi buku-buku yang kau maksud. Besok kalau kau mau datang lagi kemari, aku bisa membawakannya untukmu.” Jawabku, sambil membetulkan letak kaca mata. Kau tersenyum simpul. Tanpa segan, tanganmu meraih buku yang ada di tangan kiriku. Membolak-baliknya dan mengamati sampulnya. “Siapa penulisnya?” “Tolstoy.” “Boleh kalau ini kupinjam?” “Tentu saja boleh,” Jawabku sekenanya dan melupakan bila aku sendiri belum tuntas membaca. Lalu kau menyobek secarik kertas dan menuliskan nomor ponsel beserta namamu. “Zahra. Ah, nama yang terlalu cantik untuk pekerjaanmu di lokalisasi ini. Tapi sayang sekali...” Aku menggumam. Kau berlalu dari hadapanku. “Kirim saja namamu di nomor itu. Aku pasti menyimpannya. Karena mungkin aku akan sering kemari.” Lalu Zahra menghilang di sebalik kerumun orang-orang lewat. Sepulang kerja, aku selalu menuntun sepeda motor melintasi gang-gang sempit yang ujungnya berakhir di wisma yang berada tepat di tepi jalan utama. Dari kaca etalase, Zahra nampak menekuri buku yang baru saja dipinjamnya dariku. Ia nampak cantik dengan pakaian setengah jadi. Tapi aku tak bisa lama, aku harus pulang. Tubuhku letih. Lagipula aku tak sanggup bayar. Sampai lewat tengah malam, aku masih belum bisa melepaskan pikiranku dari bayangan Zahra. Entah mengapa mataku jadi tak mengantuk. Biasanya di jam-jam seperti ini aku sudah dibawa mimpi. Bayangan wajah Zahra memenuhi pikiranku. Bagiku Zahra adalah perempuan yang terlalu istimewa bila harus ada di rumah gila itu. Apa sebenarnya yang terjadi padanya? Tapi bukankah di Dolly banyak perempuan yang lebih cantik darinya. Apa aku terlalu berlebihan? Sebenarnya banyak pula PSK yang juga senang meminjam komik di tempatku bekerja. Biasanya mereka membawanya ke wisma, atau menemaniku menjaga rumah baca sambil mengobrol panjang tentang banyak hal. Tapi baru Zahra yang bisa membuatku kelimpungan seperti ini. 

Mungkin karena Zahra adalah satu-satunya perempuan yang memiliki mata begitu dalam dan nampak cerdas? Atau selera bacanya yang tidak umum seperti PSK lainnya? Sebegitu pahitkah hidup ini hingga perempuan macam Zahra harus tersesat di sana? Aku jatuh tertidur. * Sudah dua hari Zahra tak datang. Aku kawatir dengannya. Bukan soal buku yang kucemaskan. Apa yang terjadi padanya? Aku pernah mengirim SMS, tapi tak dibalas. Pernah pada suatu kali kutelfon, tapi bukan dia yang mengangkat. Seorang pria dengan suara berat yang berbicara. Dadaku sesak dihantam cemburu. Untuk menghibur diri, aku yakinkan diriku bila perempuan yang kupikirkan sekarang adalah PSK yang setiap malam bisa melayani banyak lelaki. Aku tidak mungkin mengharapkannya. Mungkin itu tamunya yang iseng menjawab telfonku. “Kok saya tidak pernah melihat Zahra, ya. Kemana dia, Las?” “Zahra sedang sakit, Her.” Ujar Lastri, kawan sekamarnya. Pikiranku kembali melayang tak tentu arah. Aku mencemaskan Zahra. Mungkin aku juga mencemaskan diriku yang takut bila harus jatuh hati dengan perempuan penjaja cinta. Apa kata keluarga di kampung. Aku adalah anak tertua yang jadi tulang punggung keluarga dan sekaligus mesti memberi contoh untuk dua orang adik di rumah. Meski keluarga di rumah tau aku bekerja di rumah baca milik pemerintah di dekat lokalisasi, tapi bukan berarti aku bebas jatuh cinta di sini. “Kau kenal Zahra juga?” Pertanyaan Lastri membuyarkan lamunanku. “Ya, dua hari yang lalu dia meminjam buku kemari.” Kataku sambil menepis paha Lastri yang duduk seronok. Menjelang sore, ketika aku mengemasi barang-barangku dan bersiap pulang, seorang perempuan mengetuk pintu. Aku menoleh cepat. Zahra berdiri di pintu. Dia mengerling padaku dan tersenyum. “Mau tutup ya?” Ucapnya sambil melangkah masuk rumah bacaku. Kini ia berdiri tepat di depanku. “Tidak juga. Hanya bersiap-siap saja.” “Aku hanya ingin mengembalikan buku yang kupinjam kapan hari.” Aku tak menjawab. Mataku hanya mengikuti tangannya meletakkan buku di atas meja. “Beberapa hari ini aku sakit. Tapi aku sudah rampung membacanya.” Mataku kembali mengikuti gerak tubuhnya yang nampak tak nyaman. Wajahnya juga nampak lebih pucat ketimbang dua hari yang lalu. “Kau ada waktu, Her? Sepertinya bicara di warung depan lebih menyenangkan.” Zahra melangkah keluar ruangan. Di depan pintu ia kembali menoleh dan tersenyum. Aku mengikutinya dengan patuh. Kusambar tas di meja dan meninggalkan rumah baca tanpa sempat mengunci pintunya. Di warung, semilir angin sore mulai berhembus. Zahra nampak kedinginan. Aku mengambil sweater di tas dan memberikan padanya. Ia tak menolak dan memakainya. Banyak orang memandang sinis pada kami. Juga Mak Jah, pemilik warung, memandangku tak suka. Ia mengira aku menjalin hubungan dengan Zahra. Mungkin kegugupanku tak bisa menipu mata Mak Jah. Aku sendiri sering minum kopi di sini dengan Lastri. 

Tapi sikap Mak Jah tidak seperti ini. Biasanya kami tertawa terkekeh bertiga. Membicarakan banyak hal-hal lucu di sekitar kita. Dan kupikir, Mak Jah sebenarnya peduli denganku. Sebab pada suatu ketika, di sela-sela canda tawa, ia mengingatkanku untuk tidak jatuh cinta dengan PSK di sini bila bukan sama-sama orang hitam, atau sama-sama penghuni dunia malam. Dan aku mengamini hal itu. Dari pertemuan sore itu, berlanjut pertemuan-pertemuan berikutnya. Ia membolak-balik keyakinanku dengan begitu mudah. Caranya memelas, bercerita, dan menggamit lenganku ketika hendak ke warung Mak Jah. Semua seperti mimpi buruk yang tiba-tiba ada. Dengan Zahra, hitam putih itu tidak ada lagi. Aku sadar telah melanggar batas-batas yang kuyakini. Tiba-tiba aku jadi tak peduli dengan itu semua: pada pandangan sinis orang-orang yang lewat, pemilik wisma, warga kampung, dan juga Mak Jah. Pesona Zahra lebih memikat. Menjadikan semua cibiran dan tatapan-tatapan tak suka hanya seperti suara lalu-lalang kendaraan yang mereda perlahan. “Terimakasih, Her. Entah kenapa lega sekali rasanya bisa mengenalmu. Aku merasa punya kawan yang benar-benar mau mengerti tentang apa yang kurasakan.” Mata Zahra memandangiku lekat-lekat seperti sedang menunggu jawaban. Menghadapi matanya yang cerdas membuatku hanya mampu mengangguk dan tersenyum karena bingung hendak berkata apa. Tanganku merogoh tas dan mengeluarkan beberapa buku karya Hemingway lalu menyerahkan padanya. Zahra hanya mengambil salah satu dari beberapa buku yang aku berikan. “Satu saja, Her. Biar aku tetap bisa sering bertemu kamu.” Lagi-lagi aku hanya mampu tersenyum simpul. Zahra menata buku-buku yang telah kukeluarkan dan kembali memasukkannya kedalam tasku. 

Kini aku mengerti mengapa Zahra bisa sampai ketempat ini. Ia meninggalkan rumah, mantan suami dan anaknya lantaran suaminya menyeleweng dengan bosnya di kantor. Suaminya memilih meninggalkan Zahra untuk menikah lagi dengan atasannya. Meskipun suaminya kerap memberikan uang untuk biaya hidup seperti biasanya, namun rasa sakit hati Zahra membuatnya arogan untuk tidak memakai uang yang diberikan suaminya. Uang itu hanya menumpuk di bank. Tak lama setelah perceraian dengan suaminya, usaha Zahra dibidang rotan harus gulung tikar. Rekan bisnisnya membawa semua uang dari hasil rotan yang semakin menanjak naik. Awalnya Zahra kelimpungan dengan keadaan itu dan membuat ia terpaksa berhutang ke sana kemari untuk kembali memulai usaha. 

Zahra kembali memulai usaha rotannya dari nol. Tapi Zahra salah langkah karena harus menghutang pada sebuah bank swasta yang memberikan bunga tinggi pada pinjamannya. Belum lagi lesunya pasar harus membuat Zahra kembali gulung tikar. Satu-satunya rumah warisan keluarganya juga turut di jual untuk melunasi hutang meskipun belum semuanya tuntas. Pamannya yang tidak punya anak menawarkan merawat anaknya agar tidak semakin menambah beban Zahra. Tawaran itu ditolaknya dengan halus, karena ia ingin membesarkan buah hatinya dengan tangannya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Lagi pula ia ingin membuktikan bila ia sanggup untuk hidup sendiri tanpa bantuannya. Dan akhirnya kesulitan hidup membawa Zahra sampai kemari. Pikirku, bodoh sekali lelaki yang sudah meninggalkan perempuan secantik Zahra. Benar-benar putus akal itu orang. Kalau saja aku berhasil mendapatkan sedikit uang untuk mengeluarkannya dari pelacuran ini, aku tak akan membiarkannya terlunta-lunta. Akan kusayangi dia sepenuh diriku. Tak terasa sudah tiga bulan hubunganku dengan Zahra semakin dekat. 

Hampir setiap hari kita bertemu. Bila masih rindu, aku menelfonnya di sela-sela jam kerjanya. Kita membicarakan banyak hal seputar hidupku dan hidupnya. Terkadang di tengah pembicaraan, ia kerap memutus telfon karena harus melayani tamu. Sakit sekali rasanya harus membayangkan dia melayani lelaki-lelaki yang tidak dia cintai demi ia dan anaknya. Pada saat-saat seperti itu, aku merasa menjadi lelaki yang tak berguna. Jangankan untuk menolongnya, hidupku pun masih senin kamis. Suatu ketika, aku mengumpulkan uang dari sisa tabungan untuk gajiku telah cukup banyak, aku memutuskan untuk turut pula bergula-gula dengannya. Meski hanya untuk beberapa jam saja, aku ingin sesekali merasakan bercinta dengannya. Aku tak kuat hanya membayangkan dia bersama lelaki-lelaki hidung belang yang tak dia cintai. Tapi, apa dia mencintaiku? Di depan pintu wisma, aku memberanikan diriku untuk masuk. Beberapa germo mengacuhkanku. Mungkin aku sudah akrab di mata mereka, meskipun tak satu pun dari mereka mengenal namaku. “Her, tumben. Ada perlu apa? Mengambil buku atau...?” Tanya Hadi, pemilik wisma, dengan mata penuh selidik. Aku tak menjawab pertannyaannya kecuali sebuah senyum kecut. Meskipun aku bekerja di sekitar sini, aku masih rikuh memasuki wisma tempat Zahra bekerja. Tubuhku gemetar dan keringat dingin mengalir dari dahiku. 

Zahra yang sedang duduk di sofa hanya menatapku tak percaya. Ia seperti tak percaya bila orang sepertiku bisa memasuki wisma. Aku juga mengacuhkan Zahra dan menoleh pada pemilik wisma dan memberi isyarat bila aku ingin bergula-gula. Meskipun Hadi membisu, aku tau dia menangkap isyarat dariku. “Yang mana?” Tanya Hadi, rikuh. Tanpa bicara, aku menoleh pada Zahra. Dan Hadi langsung mengerti. “Kamar dua.” Tukasnya. Di dalam kamar remang, aku duduk di kasur dan merasai tubuhku semakin gemetar. Mataku menjelajah seluruh isi ruangan untuk membunuh rasa cemas. Tak berapa lama pintu diketuk. Zahra masuk dalam kamar dengan membawa sebuah handuk dan perlengkapan mandi yang diletakkan dalam sebuah gayung plastik. “Her, kau ada masalah? Kau tak salah masuk tempat kerjamu, bukan?” Kata Zahra, sambil terus berdiri di balik pintu. “Maaf, Zahra. Aku tak bisa lagi membohongi perasaanku. 

Dari kedekatan kita selama tiga bulan ini, aku tidak bisa menafikkan perasaanku padamu. Terus terang aku...” Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Zahra memelukku dengan sepenuh dirinya. “Iya, Her. Aku tau. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku..” Kata seperti tercekat begitu saja di tenggorokan. Aku memeluk erat tubuhnya dan mengecup mesra pada keningnya. Waktu itu, semua menggelap. Aku hanya merasakan tubuhku banyak pelukan, ciuman dan pergumulan yang membuat kita sama-sama menjadi purba. “Herman, apa kau bermaksud membawaku keluar dari sini? Apa aku bisa mempercayai cintamu?” ucap Zahra setengah meracau. 

Aku mewakilkan jawabanku dengan mengecup mesra keningnya. Ia tersenyum dengan begitu manis dan tidur dalam dekapanku. Dua minggu sejak malam itu, Zahra tak lagi datang ke tempatku bekerja. Buku terakhir yang ia pinjam telah ia titipkan pada Lastri dua hari yang lalu. Sebelumnya ia telah pamit padaku bila ia pulang kampung untuk menemui anaknya. Ia berjanji hanya pergi selama satu minggu. Dua minggu berlalu, ia tak kunjung datang lagi. Tiga bulan berlalu dengan resah. Sejak kepergiannya ponselnya sudah tidak lagi aktif. Lastri pun tak tau menahu dimana dia berada, kecuali bila semua hutangnya di wisma telah lunas terbayar. Sejak saat itu pula aku mulai mencoba memaafkan diriku dan keadaanku yang tak mampu membantu masalah perekonomiannya. Tapi, aku juga tak bisa bohong bila perasaan bersalahku kerap menderas tiba-tiba. Mungkin kepergianmu adalah hal yang wajar. 

Apa aku bisa diandalkan sehingga aku bisa mempersoalkan kepergianmu. Tak serambut pun aku bisa membantumu meredakan luka kecuali koleksi buku-bukuku yang rutin kupinjamkan. Pada suatu sore, sebelum aku menutup tempat kerjaku, sebuah surat datang dari pengantar pos. Aku terkesiap ketika membaca nama pengirimnya. Herman yang baik. Maaf sebelumnya. Kau tau, bukan? Hidup tak pernah lepas dari pelacuran-pelacuran. Atas nama apapun itu, pelacuran tak pernah bisa dimaafkan kecuali oleh Tuhan dan orang yang mencintai kita. Kau mencintaiku bukan? Dan aku pun mencintaimu, Her. Aku telah menikah sebulan yang lalu dengan seorang yang mampu mengangkat hidupku dan berjanji menanggung hidupku dan anak-anak. Mungkin aku dendam dengan suamiku yang dulu. Tapi biarlah. Sekali-kali dendam harus dituntaskan, bukan? Kau pun boleh menuntaskan dendam padaku yang telah menghianati cintamu. Maafkan.

Citra D. Vresti Trisna, lahir di Surabaya. Menjadi mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura, jurusan Komunikasi Politik. Bergiat di Sekolah Menulis Bangkalan, Teater Sepatu Biru dan pecinta lingkungan ARBIMAPALA. Selain itu juga aktif di pers kampus Spirit Mahasiswa. Puisinya terangkum dalam antologi bersama, seperti: Festifal Bulan Purnama ( Mojokerto, 2010 ) dan cerpen, kolom, esainya dimuat beberapa majalah mahasiswa, serta beberapa buletin sastra.

Sastra