Senin, 29 April 2013

APARAT RESEP SUKSES KAWIN

Suatu ketika, seorang kawan sambat (mengeluh) karena percintaanya gagal di tengah jalan. Kekasihnya di tunangkan dengan seorang anggota polisi. Orang tua si gadis bersikeras menolak kawanku lantaran ia hanya penjual mainan anak-anak di pasar malam, sekaligus buruh borongan pabrik. Menjelang malam, di hari akad nikah si gadis, kawanku mengajakku keliling Surabaya untuk sekedar mencari hiburan kecil-kecilan. 

Dua botol anggur merah menjadi simbol patah hatinya. Miris juga sebenarnya. Tapi, ketimbang melihat kawanku bunuh diri, lebih baik aku menemaninya sebagai ungkapan ‘ikut bersedih’. Ditambah sumpah serapah kepada si polisi dan si gadis menjadi menu pelengkap pengganti kacang dan camilan. Kawanku ‘menyanyi’, sementra aku mendengarkan sambil terus nyepur rokok. Malam itu, tak satupun dari kita ada yang mabuk. Kawanku menawarkan untuk membeli anggur lagi, tapi di urungkan. Aku menolak. Maka, sebagai ganti, aku mengajaknya melepas penat di warung kopi lesehan. * “Oya, mengapa tidak kawin lari saja?” ujarku, memulai pembicaraan. “Nah, itulah keparatnya perempuan itu. Aku sudah mengajak untuk nikah di bawah tangan, tapi dia menolak. 

Dia memintaku pasrah pada nasib.” Dan yang paling menyakitkan kawanku adalah ketika si gadis berkata: sebuah hubungan harus realistis, aku tidak bisa menolak dinikahkan karena si polisi sudah menjadi pilihan keluarga. Menurut penuturan kawanku, di desa tempat tinggal si gadis, memiliki budaya yang agak nyentrik. Perempuan yang tergolong cantik, wajib hukumnya menikah dengan aparat, baik polisi atau tentara. Sedangkan bagi laki-laki, mitos yang berlaku di sana: pekerjaan laki-laki ya aparat. Rasanya kalau seorang anak laki-laki belum jadi aparat, baik polisi atau tentara, kok rasanya ndak pantes dan belum bisa dianggap jadi orang. Mungkin di kampung itu, kekayaan bukan sebuah tolak ukur dan indikator kesuksesan. Mereka punya ukurannya sendiri: kalau ndak seragam coklat, ya doreng. Atau mungkin warna yang diakui di kampung itu hanya coklat dan hijau dengan motif doreng. Aduh, justru cerita ini yang kemudian menjadi anggur paling hebat yang membuat kepalaku bertambah pening. Perasaan geli dan muak bercampur jadi satu, membuat perutku terkocok: membayangkan kemanusiaan dikapling berdasarkan hal-hal yang tidak prinsipil. Kepercayaan bila rejeki itu ada di tangan Tuhan adalah hiburan yang tidak mengenyangkan. 

Apalagi mengingat seorang bisa dianggap “jadi orang” apabila ia telah menjadi suatu hal yang khusus pada pekerjaan tertentu. Gejala macam ini menjadi sebuah tanda bila kemanusiaan telah dikalengkan untuk di simpan dalam kulkas. Kalau sekedar pandangan bila hidup musti realistis, kupikir wajar adanya. Tapi kalau sudah pada tingkat fanatisme yang berujung merendahkan orang lain: sudah semestinya disebut barbar. Secara akal, tidak ada salahnya menjadi seorang aparat. Tapi kalau merendahkan orang lain lantaran dia tidak jadi aparat, itu penyakit jiwa nomor dua ratus tiga puluh delapan: gila status aparat. Anggapan soal kemapanan dan lahan basah itu hanya ada di pekerjaan aparat dan kepercayaan diri dari soal pensiunan adalah pikiran oportunis yang patut dicatat dalam sejarah kebusukan. Sistem perekrutan aparatur negara yang melegalkan uang sogok sebagai tanda jadi adalah kesalahan mendasar perlu diberantas sampai akarnya dan sekaligus menjadi penyebap profesi aparat itu bergengsi. Hipotesa mengenai buruknya paradigma aparat bisa ku gambarkan dalam sebuah cerita singkat. Suatu ketika, beberapa hari setelah lebaran, aku mengunjungi seorang kawan lama. Saat aku bicara dengan bapaknya, beliau bercerita tentang rencananya mendaftarkan kawanku menjadi seorang polisi. Awalnya pembicaraan berlangsung datar-datar saja. Tapi pembicaraan jadi melebar pada soal image polisi di masyarakat. Air muka bapak kawanku berubah menjadi tidak lagi bersahabat. 

Ia berujar: kalau aparat sekarang itu suka melakukan tindakan ‘pemalakan’; itu wajar-wajar saja dan bukan lagi suatu aib. Semua itu sudah menjadi kebutuhan. Jadi tidak ada yang salah dengan hal itu. Karena aku masih sangat hijau, ku tanggapi ungkapan si bapak dengan tak kalah sinis: “Mungkin bapak masih ingat cerita ‘maling cluring’ dimana si maling itu mencuri rumah orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan pada orang miskin. Atau maling-maling jaman dulu yang membobol rumah orang hanya untuk mengambil seliter beras karena istri dan anaknya kelaparan. Itu baru bisa dikatakan sebagai kebutuhan. 

Tapi kalau lantas sudah mapan, gaji tetap, pensiunan, tapi masih maling dan malak, berarti mentalnya bejat.” Akhirnya bapak kawanku menunjukkan sikap permusuhannya denganku. Beliau memandangku dengan tatapan yang sangat sinis, tapi aku pun tak kalah kobar menatapnya. Duh Gusti, ampuni hamba. Mengingat soal aparatur Indonesia, membuatku teringat dengan berita di koran yang mengabarkan nasib buruk para serdadu Paman Sam yang mengalami krisis jodoh, alias tidak laku. Maka mereka membutuhkan sebuah biro jodoh agar mereka bisa mendapatkan pasangan. Hal ini dikarenakan pekerjaan aparat negara bukan menjadi sesuatu yang popupeler bagi masyarakat di sana. Menjadi tentara itu tidak butuh syarat yang terlalu rumit. Mantan residivis bisa menjadi tentara asalkan memenuhi standar kualitas fisik dan mental. Wamil (wajib militer) pun diterapkan untuk sekedar antisipasi pemerintah Paman Sam agar tetap memiliki serdadu perang. Lain halnya di Indonesia. Secara umum syarat yang diajukan soal tes kesehatan, psikologi menjadi syarat utama. Namun, untuk budaya sogok, penerimaaan aparatur negara, Indonesia tetap juaranya. 

Alhasil, orientasi mereka sebagai seorang aparat berubah 180 derajat – dari mengabdi, berubah menjadi tukang pungli agar modal menyogok bisa segera kembali. Bahkan lebih besar. Budaya sogok dalam perekrutan manjadikan pekerjaan aparat menjadi lahan basah yang tidak pernah mati. Dengan pekerjaan inilah bapak gadis merasa lebih tenang memasrahkan putrinya, ketimbang harus merelakan anaknya dikawin penjual mainan. Saat ini, batasan sikap realistis sudah mencapai titik nadir untuk dianggap sebagai tindakan barbar dan kurang ajar. Sampai kapanpun kemanusiaan tidak akan bisa di ukur dengan materi dan stratus sosial. Sekalipun norma dan moralitas di masyarakat yang diagungkan Immanuel Kant, masih bisa di tentang dengan semangat nihilisme, tapi kemanusiaan akan tetap menempati posisi agung dalam kehidupan orang waras. Selamanya filsafat mengenai moral dan norma boleh terus berjibaku untuk mendapatkan pemutlakan. Tapi bangunan rasa kemanusiaan tidak memiliki celah untuk dikesampingkan. 

Apapun alasannya. Dalam hidup ini, seseorang akan bertarung untuk mendapatkan gelar kemanusiaannya. Karena hidup hanya memiliki dua fase dan kemungkinan, antara kebinatangan dan kemanusiaan. Kalau dalam hal ini kawanku tidak lagi dimanusiakan, maka aku tak berhak menghakiminya untuk menyumpah serapah dan memaki. Sebab kemanusiaanya telah dilukai dengan sesuatu yang picik dan irrasional. Malam itu, hanya itu satu-satunya kesanggupan kawanku: memaki dan terus memaki dekadennya sebuah keluarga yang telah merendahkannya. Karena bagaimanapun juga ia hanya sanggup mengutuk apa yang tampak di luaran. Sebab ada sesuatu yang lebih besar yang menjadi tersangka atas carut marutnya kehidupan sosial. Menjelang pagi, kawanku berpamitan pulang dengan wajah yang teramat kuyu. Matanya lelah, batinya sudah teramat sesak karena dikhianati nasib. Kawan, bagi orang kecil macam kita, apa nasib baik itu ada?

Citra D. Vresti Trisna

0 komentar:

Posting Komentar

Sastra